Usia 25 sering datang dengan satu paket yang tidak menyenangkan yaitu ragu, cemas, dan perasaan tertinggal. Di saat banyak orang masih mencari arah hidup, satu nama justru memilih jalan yang tak biasa, berlayar jauh ke Antartika, bukan untuk kabur dari krisis, tapi untuk menantangnya.
Tabooo.id: Life – Usia 25 sering datang dengan satu paket yang tidak menyenangkan yaitu ragu, cemas, dan pertanyaan yang tak kunjung selesai. Inilah yang sering disebut quarter-life crisis. Sebuah fase yang diam-diam dialami banyak anak muda, tapi jarang dibicarakan dengan jujur.
Kamu mulai mempertanyakan pilihan hidup. Karier terasa salah arah. Teman-teman terlihat lebih “jadi”. Dan kamu? Masih bingung mau ke mana.
Survei LinkedIn bahkan menunjukkan, sekitar 75 persen orang usia 25–33 tahun pernah mengalaminya. Mereka merasa seperti berdiri di persimpangan hidup, tanpa tahu harus memilih jalan mana. Masalahnya sederhana, tapi menekan. Kamu ingin hidup yang “benar”, tapi tidak tahu seperti apa bentuknya.
Ketika Banyak Orang Berhenti, Ada yang Memilih Melompat
Di tengah kegelisahan itu, sebagian orang memilih berhenti sejenak. Tapi ada juga yang justru melompat lebih jauh. Seperti kisah Ezra Timothy Nugroho, 25 tahun, memilih jalur yang tidak biasa. Alih-alih tenggelam dalam keraguan, ia menjadikan tekanan sebagai bahan bakar.
Setelah lulus dari Biologi UGM, ia melanjutkan studi S2 di Australia. Bukan hanya itu, ia ikut ekspedisi ilmiah ke Antartika selama 57 hari. Sebuah tempat yang bahkan terdengar mustahil bagi banyak orang.
Bukan Tentang Hebat, Tapi Berani Menghadapi Ketidakpastian
Keputusan itu bukan tanpa risiko. Bayangkan, saat hidup hampir dua bulan di kapal penelitian, menghadapi ombak besar di Laut Selatan, dengan suhu mencapai minus tiga derajat Celsius. Bagi seseorang yang terbiasa dengan iklim tropis seperti Indonesia, itu bukan sekadar tantangan, itu shock total.
Ezra sendiri mengakui hal itu. “Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah terkena udara dingin, itu menjadi tantangan tersendiri,” katanya, dilansir dari laman UGM, Minggu (19/4/2026).
Belum lagi harus beradaptasi dengan ruang sempit, rutinitas ketat, dan tekanan fisik yang konstan. Ini bukan kisah “inspiratif yang mulus”. Ini cerita tentang bertahan di kondisi ekstrem, secara fisik dan mental.
Quarter-Life Crisis Itu Nyata, Tapi Arah Hidup Tetap Pilihan
Yang menarik, Ezra bukan berarti tidak mengalami tekanan. Ia tetap menghadapi ketidakpastian, sama seperti banyak orang seusianya. Bedanya, ia tidak berhenti di rasa takut itu. Ia bergerak. Ia memilih untuk tidak menunggu kepastian datang. Ia mencarinya. Dan mungkin di situlah letak perbedaan paling penting.
Ini Bukan Sekadar Cerita Sukses
Ini bukan cerita tentang “jadi hebat di usia 25”. Ini tentang bagaimana setiap orang menghadapi fase paling membingungkan dalam hidupnya.
Quarter-life crisis sering dianggap sebagai masalah pribadi. Padahal, ini fenomena sosial. Tekanan untuk sukses cepat, perbandingan dengan orang lain, dan ekspektasi hidup yang tidak realistis, semuanya menumpuk di satu titik yaitu usia 20-an. Dan kamu tidak sendirian di situ.
Kalau kamu sedang merasa tertinggal di usia 25, itu bukan tanda kamu gagal. Itu tanda kamu sedang mencari arah.
Tapi pertanyaannya sekarang, kamu mau diam di kebingungan itu, atau mulai bergerak, meski belum yakin sepenuhnya? Karena kadang, kejelasan tidak datang sebelum kamu melangkah.
Tidak semua orang harus ke Antartika. Tapi semua orang akan sampai di fase yang sama yaitu bingung, ragu, dan takut salah jalan. Dan di titik itu, kamu punya dua pilihan yakni menunggu hidup menjawab, atau mulai mencarinya sendiri.
Masalahnya bukan kamu belum berhasil, tapi kamu terlalu sibuk membandingkan perjalananmu dengan orang lain. @WaraS
![[Polling] Perempuan Sudah Merdeka atau Cuma Terlihat Merdeka?](https://tabooo.id/wp-content/uploads/2026/04/Polling-Perempuan-Sudah-Merdeka-atau-Cuma-Terlihat-Merdeka-350x250.jpg)





