Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Quarter-Life Crisis: Usia 25 ke Antartika

by Waras
April 20, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter
Usia 25 sering datang dengan satu paket yang tidak menyenangkan yaitu ragu, cemas, dan perasaan tertinggal. Di saat banyak orang masih mencari arah hidup, satu nama justru memilih jalan yang tak biasa, berlayar jauh ke Antartika, bukan untuk kabur dari krisis, tapi untuk menantangnya.

Tabooo.id: Life – Usia 25 sering datang dengan satu paket yang tidak menyenangkan yaitu ragu, cemas, dan pertanyaan yang tak kunjung selesai. Inilah yang sering disebut quarter-life crisis. Sebuah fase yang diam-diam dialami banyak anak muda, tapi jarang dibicarakan dengan jujur.

Kamu mulai mempertanyakan pilihan hidup. Karier terasa salah arah. Teman-teman terlihat lebih “jadi”. Dan kamu? Masih bingung mau ke mana.

Survei LinkedIn bahkan menunjukkan, sekitar 75 persen orang usia 25–33 tahun pernah mengalaminya. Mereka merasa seperti berdiri di persimpangan hidup, tanpa tahu harus memilih jalan mana. Masalahnya sederhana, tapi menekan. Kamu ingin hidup yang “benar”, tapi tidak tahu seperti apa bentuknya.

Ketika Banyak Orang Berhenti, Ada yang Memilih Melompat

Di tengah kegelisahan itu, sebagian orang memilih berhenti sejenak. Tapi ada juga yang justru melompat lebih jauh. Seperti kisah Ezra Timothy Nugroho, 25 tahun, memilih jalur yang tidak biasa. Alih-alih tenggelam dalam keraguan, ia menjadikan tekanan sebagai bahan bakar.

Setelah lulus dari Biologi UGM, ia melanjutkan studi S2 di Australia. Bukan hanya itu, ia ikut ekspedisi ilmiah ke Antartika selama 57 hari. Sebuah tempat yang bahkan terdengar mustahil bagi banyak orang.

Ini Belum Selesai

“Jangan Buang Ibu”: Saat Rindu Tak Lagi Punya Waktu

Moral Self-Licensing: Kebaikan yang Berubah Jadi Alasan

Bukan Tentang Hebat, Tapi Berani Menghadapi Ketidakpastian

Keputusan itu bukan tanpa risiko. Bayangkan, saat hidup hampir dua bulan di kapal penelitian, menghadapi ombak besar di Laut Selatan, dengan suhu mencapai minus tiga derajat Celsius. Bagi seseorang yang terbiasa dengan iklim tropis seperti Indonesia, itu bukan sekadar tantangan, itu shock total.

Ezra sendiri mengakui hal itu. “Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah terkena udara dingin, itu menjadi tantangan tersendiri,” katanya, dilansir dari laman UGM, Minggu (19/4/2026).

Belum lagi harus beradaptasi dengan ruang sempit, rutinitas ketat, dan tekanan fisik yang konstan. Ini bukan kisah “inspiratif yang mulus”. Ini cerita tentang bertahan di kondisi ekstrem, secara fisik dan mental.

Quarter-Life Crisis Itu Nyata, Tapi Arah Hidup Tetap Pilihan

Yang menarik, Ezra bukan berarti tidak mengalami tekanan. Ia tetap menghadapi ketidakpastian, sama seperti banyak orang seusianya. Bedanya, ia tidak berhenti di rasa takut itu. Ia bergerak. Ia memilih untuk tidak menunggu kepastian datang. Ia mencarinya. Dan mungkin di situlah letak perbedaan paling penting.

Ini Bukan Sekadar Cerita Sukses

Ini bukan cerita tentang “jadi hebat di usia 25”. Ini tentang bagaimana setiap orang menghadapi fase paling membingungkan dalam hidupnya.

Quarter-life crisis sering dianggap sebagai masalah pribadi. Padahal, ini fenomena sosial. Tekanan untuk sukses cepat, perbandingan dengan orang lain, dan ekspektasi hidup yang tidak realistis, semuanya menumpuk di satu titik yaitu usia 20-an. Dan kamu tidak sendirian di situ.

Kalau kamu sedang merasa tertinggal di usia 25, itu bukan tanda kamu gagal. Itu tanda kamu sedang mencari arah.

Tapi pertanyaannya sekarang, kamu mau diam di kebingungan itu, atau mulai bergerak, meski belum yakin sepenuhnya? Karena kadang, kejelasan tidak datang sebelum kamu melangkah.

Tidak semua orang harus ke Antartika. Tapi semua orang akan sampai di fase yang sama yaitu bingung, ragu, dan takut salah jalan. Dan di titik itu, kamu punya dua pilihan yakni menunggu hidup menjawab, atau mulai mencarinya sendiri.

Masalahnya bukan kamu belum berhasil, tapi kamu terlalu sibuk membandingkan perjalananmu dengan orang lain. @WaraS

Tags: Gen ZInspirasikariermental healthPendidikanSelf Development

Kamu Melewatkan Ini

Pesawat Tempurku: Ketika Gitar Iwan Fals Menembus Langit Kekuasaan

Pesawat Tempurku: Ketika Gitar Iwan Fals Menembus Langit Kekuasaan

by teguh
Juni 2, 2026

"Musik Iwan Fals bukan sekadar hiburan pop. Ia adalah dokumen sosial yang mencatat trauma ketimpangan struktural dan salah satu karya...

Diskusi Anak Muda Sekarang: Masih Debat, atau Cuma Adu Emosi?

Diskusi Anak Muda Sekarang: Masih Debat, atau Cuma Adu Emosi?

by Naysa
Mei 31, 2026

Timeline masih ramai meski malam hampir habis. Orang memperdebatkan politik, agama, sampai hal receh yang seharusnya tak perlu berubah jadi...

Solo Tidak Hanya Dikenang dari Keraton, Tapi dari Aroma Lumpia di Pasar Gede

Solo Tidak Hanya Dikenang dari Keraton, Tapi dari Aroma Lumpia di Pasar Gede

by teguh
Mei 29, 2026

Orang mengenang Solo lewat banyak cara. Sebagian datang untuk melihat megahnya keraton. Sebagian lain mengejar jejak batik, alunan gamelan, atau...

Next Post
37% ODHIV Tak Terdeteksi: Epidemi yang Tak Pernah Benar-Benar Terlihat

37% ODHIV Tak Terdeteksi: Krisis HIV Indonesia

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id