Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Muchtar Pakpahan: Saat Membela Buruh Berarti Menantang Negara

by jeje
April 18, 2026
in Figures
A A
Home Figures
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Figure – Nama Muchtar Pakpahan tidak lahir dari ruang kekuasaan. Ia justru memilih jalan berbeda. Ia turun langsung ke lapangan dan membela buruh saat banyak orang memilih diam.

Saat itu, rezim Orde Baru mengontrol hampir seluruh ruang gerak pekerja. Negara hanya mengakui Serikat Pekerja Seluruh Indonesia sebagai satu-satunya organisasi buruh. Namun, banyak pihak menilai SPSI lebih dekat ke pemerintah daripada ke pekerja.

Di titik inilah Muchtar mengambil sikap. Ia tidak menunggu perubahan. Ia menciptakan perubahan.

SBSI: Awal Konflik Terbuka

Pada 25 April 1992, Muchtar mendirikan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia bersama tokoh seperti Abdurrahman Wahid.

Langkah ini langsung mengguncang sistem. Sebab, SBSI menantang dominasi negara secara terbuka. Selain itu, organisasi ini memberi ruang bagi buruh untuk bersuara secara independen.

Ini Belum Selesai

Saputra Kori: Dari Parodi Tik Tok ke Tria yang Mencintai Ibunya

Refal Hady dan Wajah Anak Sulung yang Memikul Segalanya

Akibatnya, aparat mulai mengawasi Muchtar secara intens. Ia tidak lagi sekadar aktivis. Ia berubah menjadi ancaman bagi kekuasaan.

Penjara dan Tuduhan Subversif

Konflik semakin memanas pada 1994. Saat kerusuhan buruh terjadi di Medan, aparat menangkap Muchtar dan menuduhnya sebagai penghasut.

Pengadilan menjatuhkan vonis empat tahun penjara. Namun, Mahkamah Agung kemudian membatalkan putusan tersebut. Meski begitu, Muchtar tetap sempat mendekam di balik jeruji.

Masalahnya tidak berhenti di situ.

Pada 1996, setelah Peristiwa Kudatuli 1996, aparat kembali menangkapnya. Kali ini, negara menggunakan UU Antisubversi.

Pemerintah menilai bukunya, Potret Negara Indonesia, sebagai ancaman serius bagi rezim Soeharto. Bahkan, ancaman hukuman mati sempat muncul.

Namun, tekanan dari komunitas internasional mulai berdatangan. Organisasi seperti Amnesty International menyoroti kasus ini. Karena itu, dunia mulai melihat Muchtar sebagai simbol perlawanan, bukan sekadar terdakwa.

Reformasi: Kebebasan yang Dibayar Mahal

Situasi berubah drastis pada 1998. Setelah B.J. Habibie mengambil alih pemerintahan, ia memberikan amnesti kepada Muchtar.

Muchtar pun bebas.

Namun, ia tidak berhenti. Ia langsung kembali mengorganisir buruh. Selain itu, pemerintah akhirnya mengakui kebebasan berserikat. SBSI pun resmi berdiri sebagai organisasi legal.

Kemudian, pada 2003, Muchtar mendirikan Partai Buruh Sosial Demokrat. Ia mencoba membawa suara pekerja ke dalam sistem politik.

Meski partainya tidak besar, sikapnya tetap konsisten. Ia terus mengkritik kebijakan yang merugikan buruh.

Warisan yang Masih Hidup

Muchtar Pakpahan meninggal pada 21 Maret 2021. Namun, gagasannya tidak ikut mati.

Hari ini, buruh Indonesia memiliki banyak pilihan serikat. Mereka bisa bersuara tanpa harus tunduk pada satu wadah.

Semua itu tidak terjadi begitu saja.

Ini bukan sekadar kisah seorang aktivis. Ini adalah bukti bahwa satu orang bisa mengguncang sistem yang tampak tak tergoyahkan. @jeje

Tags: buruh IndonesiaPerjuangan Buruh

Kamu Melewatkan Ini

May Day Suram di Jabar: 20.536 Buruh Kena PHK, Ada Apa dengan Industri?

May Day Suram di Jabar: 20.536 Buruh Kena PHK, Ada Apa dengan Industri?

by dimas
Mei 2, 2026

May Day di Jawa Barat tahun ini menghadirkan gambaran yang kontras dengan narasi pertumbuhan industri nasional. Di tengah klaim meningkatnya...

Konsep Otomatis

Prabowo Hadir di Monas Saat May Day: Simbol Kedekatan atau Strategi Politik Buruh?

by dimas
Mei 1, 2026

Presiden Prabowo Subianto hadir langsung di tengah peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Ia...

Outsourcing Dibatasi: Buruh Diuntungkan atau Justru Tersingkir?

Outsourcing Dibatasi: Buruh Diuntungkan atau Justru Tersingkir?

by dimas
Mei 1, 2026

Di balik janji perlindungan pekerja, pemerintah kembali menata ulang sistem kerja alih daya dengan batasan yang lebih tegas. Sementara itu,...

Next Post
Incel: Ketika Kebencian pada Perempuan Lahir Diam-Diam di Ruang Tertutup

Incel: Ketika Kebencian pada Perempuan Lahir Diam-Diam di Ruang Tertutup

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id