Tabooo.id: Figure – Nama Muchtar Pakpahan tidak lahir dari ruang kekuasaan. Ia justru memilih jalan berbeda. Ia turun langsung ke lapangan dan membela buruh saat banyak orang memilih diam.
Saat itu, rezim Orde Baru mengontrol hampir seluruh ruang gerak pekerja. Negara hanya mengakui Serikat Pekerja Seluruh Indonesia sebagai satu-satunya organisasi buruh. Namun, banyak pihak menilai SPSI lebih dekat ke pemerintah daripada ke pekerja.
Di titik inilah Muchtar mengambil sikap. Ia tidak menunggu perubahan. Ia menciptakan perubahan.
SBSI: Awal Konflik Terbuka
Pada 25 April 1992, Muchtar mendirikan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia bersama tokoh seperti Abdurrahman Wahid.
Langkah ini langsung mengguncang sistem. Sebab, SBSI menantang dominasi negara secara terbuka. Selain itu, organisasi ini memberi ruang bagi buruh untuk bersuara secara independen.
Akibatnya, aparat mulai mengawasi Muchtar secara intens. Ia tidak lagi sekadar aktivis. Ia berubah menjadi ancaman bagi kekuasaan.
Penjara dan Tuduhan Subversif
Konflik semakin memanas pada 1994. Saat kerusuhan buruh terjadi di Medan, aparat menangkap Muchtar dan menuduhnya sebagai penghasut.
Pengadilan menjatuhkan vonis empat tahun penjara. Namun, Mahkamah Agung kemudian membatalkan putusan tersebut. Meski begitu, Muchtar tetap sempat mendekam di balik jeruji.
Masalahnya tidak berhenti di situ.
Pada 1996, setelah Peristiwa Kudatuli 1996, aparat kembali menangkapnya. Kali ini, negara menggunakan UU Antisubversi.
Pemerintah menilai bukunya, Potret Negara Indonesia, sebagai ancaman serius bagi rezim Soeharto. Bahkan, ancaman hukuman mati sempat muncul.
Namun, tekanan dari komunitas internasional mulai berdatangan. Organisasi seperti Amnesty International menyoroti kasus ini. Karena itu, dunia mulai melihat Muchtar sebagai simbol perlawanan, bukan sekadar terdakwa.
Reformasi: Kebebasan yang Dibayar Mahal
Situasi berubah drastis pada 1998. Setelah B.J. Habibie mengambil alih pemerintahan, ia memberikan amnesti kepada Muchtar.
Muchtar pun bebas.
Namun, ia tidak berhenti. Ia langsung kembali mengorganisir buruh. Selain itu, pemerintah akhirnya mengakui kebebasan berserikat. SBSI pun resmi berdiri sebagai organisasi legal.
Kemudian, pada 2003, Muchtar mendirikan Partai Buruh Sosial Demokrat. Ia mencoba membawa suara pekerja ke dalam sistem politik.
Meski partainya tidak besar, sikapnya tetap konsisten. Ia terus mengkritik kebijakan yang merugikan buruh.
Warisan yang Masih Hidup
Muchtar Pakpahan meninggal pada 21 Maret 2021. Namun, gagasannya tidak ikut mati.
Hari ini, buruh Indonesia memiliki banyak pilihan serikat. Mereka bisa bersuara tanpa harus tunduk pada satu wadah.
Semua itu tidak terjadi begitu saja.
Ini bukan sekadar kisah seorang aktivis. Ini adalah bukti bahwa satu orang bisa mengguncang sistem yang tampak tak tergoyahkan. @jeje






