Senin, April 20, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Kritik Boleh, Tapi Sampai Mana? Demokrasi Masuk Zona Abu-Abu

April 17, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Demokrasi selalu bergerak di antara harapan dan ketegangan.
Kini, saat sebagian publik merasa tidak puas, pertanyaan lama kembali muncul bagaimana cara mengganti kekuasaan?

Presiden Prabowo Subianto memberi jawaban tegas. Kritik boleh, bahkan tuntutan mundur pun sah. Namun, semua itu harus lewat jalur konstitusi.

Mekanisme Ditegaskan, Wacana Menguat

Memasuki bulan ke-17 masa pemerintahannya, Prabowo menghadapi gelombang wacana penurunan presiden. Wacana ini menguat setelah pernyataan Saiful Mujani beredar luas di media sosial.

Kemudian, dalam rapat kerja di Istana Kepresidenan Jakarta, Prabowo langsung merespons. Ia mengakui ketidakpuasan publik sebagai bagian dari demokrasi.

Namun, ia menegaskan batasnya.

BacaJuga

Tan Malaka Bongkar Diplomasi RI: Dari Merdeka 100% Jadi Tinggal 1%?

Ketika Keyakinan Tidak Pernah Diuji: Apakah Itu Masih Kebenaran? – Madilog Series #1.4

“Ada pemerintah yang dinilai tidak baik, gantilah. Bisa lewat pemilu. Bisa juga lewat impeachment,” kata Prabowo.

Selain itu, ia menekankan bahwa proses tersebut harus melalui DPR, Mahkamah Konstitusi, dan MPR. Dengan demikian, ia menempatkan konstitusi sebagai satu-satunya jalur sah.

Tafsir Demokrasi Mulai Berbeda

Di satu sisi, Prabowo melihat mekanisme sebagai solusi. Ia bahkan merujuk sejarah Indonesia yang menunjukkan pergantian kekuasaan berlangsung melalui proses.

Namun di sisi lain, Saiful Mujani melihat situasi berbeda. Ia menilai jalur formal semakin sulit ditempuh.

Pertama, pemilu 2029 dianggap terlalu lama.
Kedua, impeachment sulit terjadi karena dominasi koalisi pemerintah di DPR.

Karena itu, ia menawarkan alternatif tekanan massa.

Di titik ini, pertanyaan menjadi semakin tajam, jika jalur formal terasa buntu, apakah jalanan akan mengambil alih?

Kritik Terbuka, Ruang Diperdebatkan

Prabowo menegaskan bahwa ia menerima kritik. Bahkan, ia menganggap hinaan sebagai pengingat.

“Kalau saya bodoh, berarti saya harus kumpulin orang pintar,” ujarnya.

Namun, sekaligus, ia mengkritik pihak yang hanya menyerang tanpa kontribusi. Ia menggambarkan mereka seperti warga yang tidak ikut membangun jembatan, tetapi terus menyalahkan prosesnya.

Meski begitu, sejumlah analis melihat persoalan lain. Arya Fernandes dari CSIS menilai saluran kritik formal tidak bekerja optimal.

Sementara itu, DPR dinilai terlalu kuat mendukung pemerintah. Akibatnya, fungsi kontrol melemah.

Karena itu, Arya mengingatkan dampaknya.

“Kalau saluran formal tertutup, protes dan demonstrasi akan membesar,” ujarnya.

Twist: Ini Soal Akses, Bukan Sekadar Kritik

Pada titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar kritik.

Sebaliknya, ini soal siapa yang punya akses untuk mengubah kekuasaan.

Di satu sisi, konstitusi menyediakan jalur.
Namun di sisi lain, realitas politik membuat jalur itu terasa sempit.

Akibatnya, muncul ketegangan antara prosedur dan kepercayaan.

Dan di sinilah demokrasi mulai diuji.

Dampak ke Publik

Ini dampaknya buat kamu:

Ketika jalur formal terasa tidak efektif, publik akan mencari alternatif.
Selain itu, ketika kritik tidak menemukan ruang, tekanan akan berpindah ke jalanan.

Pada akhirnya, situasi ini bisa meningkatkan risiko konflik sosial.
Karena itu, stabilitas demokrasi sangat bergantung pada kepercayaan publik.

Analisis Tabooo

Demokrasi tidak hanya hidup dari aturan.
Sebaliknya, demokrasi bertahan karena kepercayaan.

Namun, ketika publik mulai meragukan sistem, maka sistem itu akan menghadapi tekanan.

Masalahnya sederhana, tapi krusial.
Prosedur memang ada, tetapi apakah prosedur itu benar-benar bisa diakses?

Jika tidak, maka publik tidak akan menunggu.

Dan sejarah Indonesia sudah menunjukkan pola itu berulang.

Closing

Jadi, ini bukan lagi soal boleh atau tidaknya kritik.

Melainkan soal yang lebih dalam, kalau jalur sudah tersedia, kenapa kepercayaan justru menurun? @dimas

Tags: Analisis PolitikDemokrasi IndonesiaDPRimpeachmentKritik PemerintahMahkamah KonstitusiPeople PowerPolitik NasionalPrabowo Subianto

REKOMENDASI TABOOO

Kuota Tidak Hangus, Katanya Yang Hangus Perasaan Pelanggan

Kuota Tidak Hangus, Katanya Yang Hangus Perasaan Pelanggan

by teguh
April 18, 2026

Tabooo.id: Edge - Pernah beli paket data 50 GB, lalu sibuk beberapa hari, kemudian masa aktif habis dan kuota ikut...

Dari Tragedi ke Gelar Pahlawan: Sejarah Marsinah yang Belum Tuntas

Dari Tragedi ke Gelar Pahlawan: Sejarah Marsinah yang Belum Tuntas

by dimas
April 18, 2026

Tabooo.id: Deep - Di sebuah gubuk sepi di Nganjuk, 8 Mei 1993, seseorang menemukan tubuh Marsinah dalam kondisi mengenaskan. Luka-luka...

Museum Marsinah Diresmikan Saat May Day, Simbol atau Awal Perubahan?

Museum Marsinah Diresmikan Saat May Day, Simbol atau Awal Perubahan?

by dimas
April 18, 2026

Tabooo.id: Nasional - Presiden RI Prabowo Subianto akan menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) pada 1 Mei 2026. Ia...

Next Post
Lembah Anai 1944: Saat Surga Wisata Menyimpan Kuburan Sunyi

Lembah Anai 1944: Saat Surga Wisata Menyimpan Kuburan Sunyi

Recommended

Isu Pelengseran Prabowo: Suara Rakyat atau Operasi Senyap?

Isu Pelengseran Prabowo: Suara Rakyat atau Operasi Senyap?

April 13, 2026
Harga Avtur Meledak, Seberapa Kuat Pariwisata Nasional Bertahan?

Harga Avtur Meledak, Seberapa Kuat Pariwisata Nasional Bertahan?

April 18, 2026

Popular

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

April 14, 2026

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

Perempuan Indonesia Sudah Maju, Masih Diragukan?

April 19, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id