Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kampus Hebat, Etika Terlewat: Kenapa Ini Bisa Lolos?

by dimas
April 17, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Satu lagu lama tiba-tiba memicu kegelisahan baru.
Awalnya terlihat biasa, namun maknanya justru menampar kesadaran publik.
Lebih jauh, kasus ini membuka celah yang selama ini luput dari perhatian kampus.

Kontroversi yang Meledak di Ruang Digital

Institut Teknologi Bandung (ITB) langsung memperketat pengawasan etika mahasiswa setelah konten HMT-ITB viral. Video itu menampilkan lagu “Erika” dalam pertunjukan Orkes Semi Dangdut (OSD).

Awalnya, publik hanya melihatnya sebagai hiburan. Namun kemudian, banyak pihak menilai lirik lagu tersebut mengandung kekerasan seksual verbal terhadap perempuan. Karena itu, reaksi publik pun meluas.

Direktur Komunikasi dan Humas ITB, Nurlaela Arief, menegaskan sikap kampus.

“ITB memandang peristiwa ini sebagai momentum penting untuk memperkuat budaya kampus yang menjunjung etika dan penghormatan terhadap martabat manusia,” ujarnya.

Ini Belum Selesai

Ketika Riset Jadi Tiket Liburan ke Denmark

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

Selanjutnya, HMT-ITB segera menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Mereka juga mengakui bahwa konten tersebut tidak mencerminkan nilai akademik. Selain itu, mereka langsung menghapus video dan audio dari berbagai kanal.

Kronologi: Dari Panggung Hiburan ke Krisis Reputasi

Kasus ini bermula pada 13 April 2026. Saat itu, video penampilan OSD HMT-ITB menyebar cepat di media sosial.

Awalnya, banyak orang menganggapnya sebagai pertunjukan biasa. Namun seiring waktu, publik mulai menyoroti lirik lagu “Erika” yang dinilai tidak sensitif terhadap isu perempuan.

Di sisi lain, HMT-ITB menjelaskan bahwa OSD sudah ada sejak 1970-an. Lagu tersebut juga berasal dari era 1980-an.

Meski begitu, mereka tetap mengakui kesalahan.

“Kami menyadari ini merupakan kelalaian untuk tetap menampilkan lagu tersebut dengan perkembangan norma sosial saat ini.”

Dengan kata lain, masalahnya bukan sekadar asal-usul lagu. Justru, kegagalan membaca konteks zaman menjadi inti persoalan.

Langkah ITB: Dari Respons Cepat ke Perubahan Sistem

Setelah polemik muncul, ITB tidak berhenti pada klarifikasi. Kampus langsung memperkuat sistem pembinaan mahasiswa.

Melalui Direktorat Persiapan Bersama (Ditsama), ITB memperluas program edukasi. Program ini mencakup literasi media sosial, etika komunikasi, serta tata perilaku di lingkungan kampus.

Selain itu, kampus juga mendorong mahasiswa untuk lebih kritis sekaligus santun saat menyampaikan pendapat. Dengan demikian, ruang digital tetap sehat.

Di sisi lain, ITB juga memperkuat peran Satgas PPK. Tim ini menyediakan kanal konsultasi, membuka ruang pelaporan, dan mendampingi korban.

Lebih jauh, ITB mewajibkan materi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) bagi mahasiswa baru. Langkah ini bertujuan membangun kesadaran sejak awal.

Ini Bukan Sekadar Konten, Ini Soal Pola

Masalah ini tidak berhenti pada satu video. Justru, kasus ini membuka pola yang lebih dalam.

Selama ini, banyak pihak menganggap konten seperti ini sebagai hal biasa. Namun kenyataannya, normalisasi semacam itu justru berbahaya.

Pertanyaannya, bagaimana konten seperti ini bisa lolos tanpa evaluasi?

Artinya, ada celah dalam sistem yang belum tertutup. Bahkan, kampus yang seharusnya menjadi ruang paling sadar nilai justru ikut kecolongan.

Ini bukan kejadian pertama. Dan jika tidak ada perubahan serius, pola ini bisa terulang.

Ini Dampaknya Buat Kamu

Jika kamu mahasiswa, kasus ini menjadi pengingat penting. Apa yang kamu anggap candaan bisa melukai orang lain.

Selain itu, di era digital, setiap konten bisa menyebar dalam hitungan detik. Sekali viral, dampaknya sulit dikendalikan.

Jika kamu bagian dari institusi pendidikan, ini menjadi alarm keras. Reputasi bisa runtuh bukan karena niat buruk, tetapi karena kelalaian kecil.

Benturan Tradisi dan Kesadaran Baru

Kasus ini memperlihatkan benturan yang nyata. Di satu sisi, ada tradisi lama yang terus dipertahankan. Di sisi lain, ada kesadaran baru yang berkembang cepat.

Memang, OSD merupakan bagian dari sejarah. Lagu “Erika” juga lahir di konteks zamannya.

Namun sekarang, standar sosial berubah. Sensitivitas publik meningkat. Karena itu, semua pihak harus beradaptasi.

Sayangnya, tidak semua orang bergerak secepat perubahan itu.

Akibatnya, celah seperti ini terus muncul. Dan setiap kali terjadi, dampaknya semakin besar.

Satu hal yang perlu diingat: etika bukan sekadar teori. Etika harus hadir dalam setiap keputusan.

Closing

ITB sudah mengambil langkah. Evaluasi sudah berjalan. Sistem juga mulai diperkuat.

Namun demikian, satu pertanyaan tetap tersisa apakah ini benar-benar titik balik?

Atau justru, ini hanya akan menjadi siklus yang kembali terulang?

Karena pada akhirnya, masalah terbesar bukan pada kesalahan yang terjadi.
Melainkan pada kebiasaan kita yang terlalu mudah menganggapnya biasa. @dimas

Tags: ITBsatgas ppk

Kamu Melewatkan Ini

Patung Pancoran yang Dibayar dengan Pengorbanan

Patung Pancoran yang Dibayar dengan Pengorbanan

by teguh
Juni 1, 2026

Jakarta memiliki banyak bangunan yang menjulang tinggi. Sebagian menjadi simbol kekuasaan. Lainnya tumbuh sebagai pusat ekonomi dan aktivitas masyarakat. Namun...

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

by teguh
Mei 8, 2026

Kamu pasti pernah berharap kuota internet tidak hangus. Tanpa masa aktif. Bisa dipakai kapan saja. Kedengarannya ideal. Tapi operator seluler...

Lagu “Erika” Viral: Candaan Lama atau Cara Lama Melecehkan?

Lagu “Erika” Viral: Candaan Lama atau Cara Lama Melecehkan?

by dimas
April 16, 2026

Tabooo.id: Nasional - Satu lagu memicu gelombang reaksi.Awalnya hiburan, lalu berubah jadi kegaduhan nasional.Jadi, kenapa ruang akademik masih bisa kecolongan...

Next Post
Bukan Sekadar Album Comeback, Ini Realita Member Tertua di BTS

Bukan Sekadar Album Comeback, Ini Realita Member Tertua di BTS

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id