Tabooo.id: News – Hujan deras yang mengguyur sejak Selasa malam (14/4/2026) memicu banjir di wilayah Kota Surakarta dan Kabupaten Sukoharjo. Luapan sungai merendam permukiman warga, menutup akses jalan, serta memaksa ratusan warga segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Analis Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Zauyik, menjelaskan bahwa hujan berintensitas tinggi hingga ekstrem mendominasi wilayah Solo Raya selama 24 jam terakhir.
“Secara umum curah hujan dengan intensitas sedang hingga ekstrem terjadi di Kabupaten Sukoharjo, sedangkan di Kota Surakarta terpantau hujan lebat hingga sangat lebat,” ujar Zauyik, Rabu (15/4/2026).
Data klimatologi menunjukkan sejumlah wilayah di Sukoharjo, seperti Weru, Tawangsari, Bulu, Grogol, Mojolaban, Gatak, dan Kartasura, mengalami hujan sangat lebat. Pada saat yang sama, hujan deras mengguyur kawasan Laweyan, Serengan, Pasar Kliwon, Jebres, hingga Banjarsari di Kota Surakarta.
Selain itu, hujan deras juga melanda wilayah hulu Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo, seperti Klaten, Wonogiri, dan Boyolali. Curah hujan di wilayah hulu itu memperbesar limpasan air yang mengalir ke daerah hilir Solo Raya.
“Saat ini Jawa Tengah memasuki masa pancaroba atau peralihan musim, sehingga potensi hujan masih muncul pada April 2026, terutama pada sore hingga malam hari,” jelas Zauyik.
Ratusan KK Terdampak di Solo
Luapan Kali Jenes memicu banjir di sejumlah kawasan di Kota Surakarta. Air menggenangi permukiman warga dan menutup sejumlah ruas jalan utama.
BPBD Jawa Tengah mencatat 715 kepala keluarga (KK) terdampak banjir di Kota Solo. Dari jumlah itu, 109 jiwa harus mengungsi demi keselamatan.
Hingga Rabu (15/4/2026) pukul 03.00 WIB, air di sejumlah titik masih bertahan pada ketinggian 50 hingga 80 sentimeter. Banjir paling parah melanda delapan kelurahan di tiga kecamatan, yaitu Laweyan, Pasar Kliwon, dan Serengan.
Petugas menempatkan para pengungsi di berbagai lokasi, seperti masjid, balai warga, dan rumah warga yang tidak terdampak banjir.
Sukoharjo Ikut Terendam
Banjir juga meluas ke wilayah Kabupaten Sukoharjo setelah beberapa sungai meluap, antara lain Sungai Jenes, Kali Mranggen, Kali Kembang, dan Kali Pepe.
Banjir merendam 13 desa di Kecamatan Baki, Grogol, dan Kartasura. Air masuk ke rumah warga dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Menurut laporan BPBD Jawa Tengah, sebanyak 46 kepala keluarga (KK) atau 109 jiwa memilih mengungsi ke berbagai lokasi, termasuk masjid, kantor desa, ruko, dan rumah warga.
Hingga pukul 04.00 WIB, genangan air di beberapa wilayah Sukoharjo masih bertahan. Petugas terus mengevakuasi warga sekaligus menyalurkan bantuan logistik, matras, dan selimut.
Pancaroba Masih Jadi Ancaman
Fenomena pancaroba menjadi salah satu faktor utama yang memicu hujan ekstrem pada April 2026. Kondisi ini membuat potensi hujan masih mungkin terjadi, terutama pada sore hingga malam hari.
Meski begitu, prakiraan cuaca menunjukkan curah hujan tinggi tidak akan berlangsung lama. Wilayah Jawa Tengah diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026.
Artinya, banjir kali ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat. Meski kemarau sudah di depan mata, sisa energi musim hujan masih menyimpan ancaman yang tidak boleh diabaikan. @eko






