Senin, April 20, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Bertani Tapi High-Tech: Gaya Hidup Baru Gen Z yang Capek Kantoran?

April 15, 2026
in Lifestyle, Teknologi
A A
Home Lifestyle
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Teknologi – Kalau kerja kantoran identik dengan kopi pagi dan macet yang nggak ada jeda, Budi justru memulai harinya dengan hal yang lebih sunyi dan lebih hijau. Tanpa kartu absensi, tanpa atasan yang ngejar deadline. Tapi jangan salah, tekanannya tetap ada. Bedanya, kali ini datang dari cuaca, tanah, dan pasar.

Di tengah tren “kabur dari kota” yang makin ramai di kalangan Gen Z, pilihan hidup seperti yang diambil Ilham Budi Susilo (29) terasa makin relevan. Ia bukan sekadar bertani ia membangun gaya hidup baru agrikultur modern yang dikawinkan dengan teknologi.

Greenhouse: Kantor Baru Tanpa AC, Tapi Lebih ‘Hidup’

Di lahan seluas 1.200 meter persegi di Kecamatan Ngronggo, Kota Kediri, Budi membangun sesuatu yang berbeda. Bukan sawah biasa, tapi greenhouse ruang tanam tertutup yang lebih mirip laboratorium hidup ketimbang ladang tradisional.

Di dalamnya, melon premium tumbuh dengan standar tinggi dari varietas sweet net hingga fujisawa asal Jepang.

“Kalau saya nanamnya memang yang jenis melon premium saja,” ujar Budi saat ditemui di lahannya, Minggu (12/04/2026).

Pilihan itu bukan tanpa alasan. Budi sadar, bertani di era sekarang bukan lagi soal kuantitas, tapi kualitas dan positioning pasar.

BacaJuga

Muntah Demi Kurus? Tubuhmu Bisa Menagih Dendam Bertahun-Tahun

AI Naikkan PDB? Indonesia Sedang Belajar Mengubah Data Jadi Mesin Uang

Bertani, Tapi Pakai Sistem: Dari Irigasi ke Strategi Digital

Yang bikin cerita ini menarik bukan cuma soal melon. Tapi cara berpikir di baliknya.

Budi mengelola lahannya dengan sistem irigasi modern selang-selang terintegrasi yang bukan cuma mengalirkan air, tapi juga nutrisi. Praktis, efisien, dan minim tenaga manual.

Lebih jauh, ia juga menerapkan prinsip pertanian sehat bebas pestisida kimia. “Untuk pengujian saya lakukan di laboratorium Bogor,” jelasnya.

Hasilnya? Produk lebih kompetitif, bahkan bisa menembus pasar kota besar seperti Jakarta dan Bandung.

Tapi Budi nggak berhenti di situ. Ia masuk ke ranah digital menjual lewat media sosial, membangun branding, bahkan membuka wisata petik melon saat panen tiba.

“Jadi, memang kita harus kreatif untuk bisa bertahan sebagai petani,” katanya.

Back to Nature, Tapi Nggak Ketinggalan Zaman

Fenomena seperti Budi bukan kebetulan. Ini bagian dari tren yang lebih besar “back to nature”, tapi versi Gen Z.

Mereka ingin hidup lebih dekat dengan alam, tapi tetap terkoneksi dengan teknologi. Mereka capek dengan rutinitas kota, tapi bukan berarti mau hidup primitif.

Budi adalah contoh nyata bertani, tapi pakai data menanam, tapi juga jualan online. hidup sederhana, tapi berpikir strategis.

Jatuh Bangun yang Nggak Instagramable

Di balik narasi “hidup santai di desa”, ada realita yang sering disembunyikan gagal panen, biaya tinggi, dan eksperimen tanpa jaminan berhasil.

Budi sudah melewati semua itu sejak mulai mandiri pada 2018. Dari menanam sayur yang kurang memuaskan, hingga akhirnya menemukan ritme di komoditas melon.

Greenhouse-nya bukan cuma tempat produksi, tapi juga ruang belajar.

“Saya masih melakukan penelitian sendiri soal pupuk yang lebih efisien,” ungkapnya.

Ia bahkan mengaku masih merahasiakan hasil risetnya. Bukan pelit ilmu, tapi karena prosesnya belum selesai.

Petani Butuh Literasi, Bukan Sekadar Lahan

Satu hal yang sering dilupakan bertani modern bukan cuma soal fisik, tapi juga pengetahuan.

Budi membekali dirinya dengan pendidikan formal di jurusan Agroteknologi Universitas Jember. Ia juga aktif ikut pelatihan untuk terus update ilmu.

“Semuanya dibutuhkan agar tercipta produk yang berdaya saing,” pungkasnya.

Di titik ini, bertani bukan lagi pekerjaan “pilihan terakhir”, tapi justru jadi profesi yang butuh strategi, riset, dan inovasi.

Closing: Kantor atau Kebun Kamu Pilih yang Mana?

Cerita Budi mungkin terdengar seperti alternatif. Tapi sebenarnya, ini sinyal perubahan. Bahwa sukses nggak harus pakai jas.

Bahwa produktif nggak harus di balik layar laptop. Dan bahwa masa depan bisa tumbuh secara harfiah dari tanah.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi “kerja di mana?”, tapi kamu mau hidup seperti apa?. @teguh

Tags: AgroteknologiBUahCapekecamatan NgronggoFujisawaGaya BaruGen ZGreenhouseHigh-TechIlham Budi SusiloinovasiJepangKantoranKomoditasKota KediriLaboratoriumLaboratorium BogorMelonModernProfesirisetSweet NetUniversitas JemberVarietas

REKOMENDASI TABOOO

Quarter-Life Crisis: Kenapa Usia 25 Terasa Paling Berat?

Quarter-Life Crisis: Kenapa Usia 25 Terasa Paling Berat?

by Waras
April 20, 2026

Usia 25 seharusnya jadi titik “mulai jadi”. Tapi kenapa justru terasa seperti kehilangan arah? Kalau kamu merasa tertinggal, bingung, dan...

Harga Tembakau Madura Naik, Tapi Kuasa Masih di Tangan Pasar

Harga Tembakau Madura Naik, Tapi Kuasa Masih di Tangan Pasar

by teguh
April 20, 2026

Tabooo.id: Deep - Malam itu, Monumen Arek Lancor di Pamekasan tidak sekadar menampung acara silaturahmi. Tempat itu menampung kegelisahan lama...

Quarter-Life Crisis: Usia 25 ke Antartika

Quarter-Life Crisis: Usia 25 ke Antartika

by Waras
April 20, 2026

Usia 25 sering datang dengan satu paket yang tidak menyenangkan yaitu ragu, cemas, dan perasaan tertinggal. Di saat banyak orang...

Next Post
Aldila dan Tim Indonesia Bawa ke Playoff Dunia

Aldila dan Tim Indonesia Bawa ke Playoff Dunia

Recommended

Dari Kegelapan Menuju Cahaya: Jejak Sejarah Perjuangan R.A. Kartini

“Habis Gelap, Terbitlah Terang”: Apakah Kita Sudah Benar-Benar Keluar dari Kegelapan?

April 18, 2026
Papua dan Angka Kemiskinan: Realita atau Ilusi Kesenjangan yang Dibiarkan?

Papua dan Angka Kemiskinan: Realita atau Ilusi Kesenjangan yang Dibiarkan?

April 14, 2026

Popular

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

April 14, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

Patriarki Masih Dominan: Perempuan Harus Diam atau Melawan?

April 19, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id