Tabooo.id: Deep – Malam itu, seorang anak membuka aplikasi scroll, like, repeat. Namun, ada sesuatu yang berubah: negara ikut hadir di balik layar. Bukan lewat patroli fisik. Melainkan lewat regulasi yang langsung menyentuh timeline.
Dari Perlindungan ke Pengawasan: Garis yang Makin Tipis
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) kini bergerak cepat. Mereka menyisir dan memverifikasi akun anak di berbagai platform media sosial.
Tujuannya jelas melindungi anak dari konten berbahaya. Namun, dampaknya tidak sesederhana itu.
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital, Alexander Sabar, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2026 tentang Perlindungan Anak di Ruang Digital (PP Tunas).
“Keberhasilan PP Tunas diukur dari dua indikator yang saling terkait. Pertama, tingkat kepatuhan platform digital dalam menerapkan sistem pelindungan anak secara menyeluruh,” ujar Alexander Sabar dalam keterangan tertulis, Sabtu, 11/04/2026.
“Kedua, dampak nyata di ruang digital, yaitu penurunan kasus eksploitasi, perundungan, dan paparan konten negatif pada anak,” lanjutnya.
Di satu sisi, kebijakan ini menawarkan rasa aman. Namun di sisi lain, ia membuka ruang kontrol baru.
Relasi Kuasa: Siapa Mengatur Siapa?
Di balik kebijakan ini, tiga kekuatan saling tarik-menarik.
Pertama, negara ingin mengatur sekaligus menjaga stabilitas ruang digital. Kedua, platform digital berusaha tetap fleksibel, tetapi harus tunduk pada aturan. Ketiga, pengguna menginginkan keamanan tanpa kehilangan kebebasan.
Masalahnya, ketiganya tidak selalu sejalan. Karena itu, Komdigi mewajibkan setiap Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) untuk mengidentifikasi layanan ramah anak dan menerapkan verifikasi usia yang lebih ketat.
Hasilnya mulai terlihat. Meta sudah memenuhi kewajiban secara penuh. Sementara itu, Roblox dan TikTok masih menyesuaikan sistem mereka.
Di sisi lain, Google justru menerima teguran tertulis dan harus memenuhi kewajiban dalam waktu tujuh hari.
Langkah ini menunjukkan satu hal negara tidak lagi sekadar mengawasi, tetapi juga menekan.
Internet yang Tak Lagi Sepenuhnya Bebas
Dulu, internet terasa seperti ruang tanpa pagar. Semua orang bisa masuk, berbicara, dan berekspresi. Sekarang, situasinya berubah.
Negara mulai memasang batas. Platform mulai menyaring konten. Algoritma mulai menentukan apa yang kamu lihat. Akibatnya, kebebasan tidak lagi absolut.
Menurut ahli komunikasi digital Universitas Indonesia, Dr. Rudi Hartono, fenomena ini merupakan fase baru dalam tata kelola digital.
“Negara di seluruh dunia mulai masuk ke ruang digital bukan hanya untuk melindungi, tapi juga untuk memastikan kendali atas arus informasi,” ujar Rudi dalam diskusi publik, 05/03/2026.
“Masalahnya, batas antara proteksi dan surveillance itu sangat tipis,” tambahnya. Dengan kata lain, perlindungan dan pengawasan kini berjalan berdampingan.
Verifikasi Usia: Solusi atau Pintu Masuk Data?
Verifikasi usia terdengar seperti langkah teknis. Namun, praktiknya jauh lebih kompleks. Platform bisa menggunakan:
- Data identitas resmi
- Teknologi biometrik
- Analisis perilaku pengguna
Artinya, semakin ketat perlindungan, semakin banyak data yang dikumpulkan. Di sinilah muncul pertanyaan penting.
Siapa yang menyimpan data itu? Siapa yang mengelolanya? Dan sejauh mana data tersebut aman?
Peneliti kebijakan digital dari SAFEnet, Damar Juniarto, mengingatkan:
“Setiap kebijakan perlindungan di ruang digital harus diuji dengan satu pertanyaan apakah ini melindungi warga, atau justru membuka pintu pengawasan berlebih?” (12/04/2026)
Karena itu, isu ini tidak lagi sekadar teknis ia sudah menjadi persoalan hak digital.
Siapa yang Diuntungkan?
Jika ditarik lebih jauh, peta keuntungannya mulai terlihat. Negara mendapatkan kendali lebih besar atas ruang digital. Platform mempertahankan operasional dengan menyesuaikan aturan.
Sementara itu, pengguna memperoleh keamanan namun harus membayar dengan data pribadi.
Di titik ini, pertanyaannya berubah. Bukan lagi “aman atau tidak,” melainkan “aman dengan harga apa?”
Generasi yang Tumbuh dalam Sistem yang Diawasi
Anak-anak yang hari ini dilindungi oleh regulasi akan tumbuh dalam ekosistem yang sudah terstruktur.
Mereka tidak mengalami internet yang benar-benar bebas. Sebaliknya, mereka mengenal internet yang sudah difilter, diverifikasi, dan diawasi.
Situasi ini bisa menciptakan generasi yang lebih aman. Namun sekaligus, ia bisa membentuk generasi yang terbiasa diawasi.
Penutup: Timeline yang Tak Lagi Netral
Hari ini, negara masuk ke timeline dengan alasan perlindungan. Besok, bisa saja alasan itu berubah menjadi stabilitas. Selanjutnya, alasan lain mungkin muncul dan tetap terasa logis.
Akhirnya, internet berubah menjadi ruang negosiasi. Negara, platform, dan pengguna terus beradu peran.
Namun di tengah semua itu, kamu tetap scroll seperti biasa. Tanpa sadar, kontrol itu bekerja diam-diam.Tanpa terasa, batas itu semakin dekat.
Jadi sekarang pertanyaannya sederhana ketika semua pihak ikut mengatur, apakah timeline itu masih benar-benar milikmu?.@teguh






