Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketidakadilan Terasa Wajar. Siapa yang Sedang Mengatur Ceritanya?

by dimas
April 11, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Kita merasa dunia berjalan normal.
Namun, perasaan itu belum tentu datang dari realita. Bisa jadi, narasi yang terus diulang membentuknya.
Jadi, siapa sebenarnya yang menulis cerita yang kita percaya?

Dari Apropriasi ke Dominasi: Rantai yang Dibangun Perlahan

Kekuasaan tidak muncul secara tiba-tiba. Sebaliknya, ia tumbuh melalui tahapan yang rapi dan terstruktur.

Pertama, aktor tertentu mengambil alih sumber daya, pengetahuan, atau ruang. Inilah yang disebut apropriasi.
Lalu, mereka memanfaatkan sumber daya itu untuk keuntungan ekonomi atau politik. Di sinilah eksploitasi terjadi.
Selanjutnya, mereka menjaga kontrol tersebut hingga menjadi sistem yang stabil. Pada titik ini, dominasi terbentuk.

Dengan kata lain, kekuasaan bergerak secara bertahap, bukan secara frontal.

Representasi: Cara Kekuasaan Mengatur Cara Kita Melihat Dunia

Namun, kekuasaan tidak hanya bekerja lewat kontrol sumber daya. Ia juga bekerja lewat cerita.

Ini Belum Selesai

Kompetensi atau Koneksi? Jalan Menuju Indonesia Emas

Masihkah Pemimpin Indonesia Percaya Laku Sebelum Bertahta?

Aktor kekuasaan menyusun narasi tentang pembangunan, kemajuan, dan stabilitas. Kemudian, mereka menyebarkannya secara masif.
Akibatnya, publik mulai melihat realitas melalui sudut pandang tersebut.

Selain itu, data UNESCO tahun 2023 menunjukkan lebih dari 70 persen masyarakat perkotaan mengakses pemahaman sosial melalui platform digital.
Artinya, sebagian besar persepsi kita terbentuk dari sistem yang dikendalikan oleh algoritma dan institusi besar.

Jadi, ini bukan sekadar informasi. Ini proses pembentukan cara berpikir.

Dari Representasi ke Modifikasi: Ketika Pikiran Mulai Diarahkan

Masalahnya, proses ini tidak berhenti di representasi.

Kini, aktor kekuasaan tidak hanya menyampaikan cerita. Mereka juga membentuk batas cara kita memahami dunia.
Dengan demikian, representasi berubah menjadi modifikasi.

Dalam konsep “mind shaping”, arus informasi yang terus-menerus membentuk pola pikir masyarakat.
Akibatnya, orang menerima narasi dominan tanpa mempertanyakan asal-usulnya.

Sebagai contoh, dalam konflik agraria, perusahaan sering menyebut eksploitasi lahan sebagai “pembangunan nasional”.
Sementara itu, masyarakat adat sering diposisikan sebagai penghambat.

Padahal, laporan FAO menyebut mereka mengelola sekitar 80 persen keanekaragaman hayati global.

Di sini, narasi tidak sekadar menjelaskan realita. Narasi justru mengubah cara kita memahaminya.

Narasi Mengalahkan Struktur

Selanjutnya, kita melihat fenomena yang lebih dalam.

Dalam banyak kasus, publik lebih percaya cerita daripada struktur nyata.
Sebagai akibatnya, isu besar seperti ketimpangan ekonomi sering kalah oleh narasi identitas atau emosi.

Laporan International IDEA menunjukkan peningkatan penggunaan framing emosional dalam kampanye politik global.
Karena itu, masyarakat lebih mudah bereaksi daripada menganalisis.

Pada titik ini, struktur tidak hilang. Namun, orang berhenti melihatnya.

Ini Dampaknya Buat Kamu

Sekarang, mari kita tarik lebih dekat.

Ketika narasi mengendalikan realitas, kamu tidak lagi melihat dunia secara objektif.
Sebaliknya, kamu melihat dunia berdasarkan cerita yang paling sering muncul.

Akibatnya, privasi terasa seperti pilihan, bukan hak. Ketimpangan terlihat normal. Bahkan, ketidakadilan terasa biasa.

Lebih jauh lagi, kamu bisa ikut mempertahankan sistem itu tanpa sadar.

Analisis Tabooo: Masalahnya Ada pada Siapa yang Menguasai Cerita

Banyak orang mengira masalah utama terletak pada siapa yang berkuasa.
Namun, kenyataannya lebih dalam dari itu.

Masalah utama terletak pada siapa yang mengendalikan narasi.

Ketika satu pihak menguasai cerita, mereka juga mengarahkan cara publik memahami realitas.
Akibatnya, dominasi tidak terlihat sebagai dominasi. Ia terlihat sebagai sesuatu yang normal.

Dan di sinilah letak kekuatan terbesar kekuasaan modern.

Closing

Mungkin dunia memang tidak berubah secepat itu.
Namun, cara kita melihat dunia berubah setiap hari.

Jadi sekarang pertanyaannya, apakah kita benar-benar melihat realita, atau hanya mengulang narasi yang sama? @dimas

Tags: DominasiEksploitasikekuasaanKesadaranmanipulasiNarasiPolitik IndonesiaRealitaSistemSosial

Kamu Melewatkan Ini

D.N. Aidit: Dari Muazin Belitung ke Ketua PKI

D.N. Aidit: Dari Muazin Belitung ke Ketua PKI

by Tabooo
Juli 18, 2026

D.N. Aidit tumbuh dalam keluarga Muslim terpandang di Belitung. Perjalanannya membawanya dari surau, gerakan pemuda, hingga puncak kepemimpinan PKI dan...

Kipas Anginnya Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

Kipas Angin Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

by teguh
Juli 17, 2026

Di era media sosial, satu tangkapan layar bisa memicu kegaduhan nasional sebelum pemerintah sempat membuka konferensi pers. Itulah yang terjadi...

Legislator dan Hukum yang Kehilangan Wajah Manusia

Legislator dan Hukum yang Kehilangan Wajah Manusia

by dimas
Juli 13, 2026

Legislator tidak cukup menjadi pembuat norma. Hukum membutuhkan arsitek kemanusiaan agar setiap undang-undang benar-benar melindungi rakyat, bukan sekadar melayani kekuasaan....

Next Post
Indonesia Negara Termiskin Kedua? Atau Kita yang Salah Paham Data?

Indonesia Negara Termiskin Kedua? Atau Kita yang Salah Paham Data?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id