Jumat, Mei 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pernikahan Berujung Duka: Preman Bunuh Ayah Pengantin di Purwakarta

by dimas
April 6, 2026
in Kriminal, Reality
A A
Home Reality Kriminal
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Kriminal – Pesta pernikahan seharusnya jadi momen bahagia. Namun di Purwakarta, kebahagiaan itu berubah jadi duka dalam hitungan menit.

Dadang (58), warga Kampung Cikumpay, Desa Kertamukti, tewas setelah sekelompok orang yang diduga preman menganiayanya di acara pernikahan putrinya, pada Sabtu (4/4/2026).

Peristiwa ini bukan sekadar kriminal biasa.
Kasus ini membuka luka lama: premanisme yang terus hidup di tengah masyarakat.

Diperas, Ditolak, Lalu Dihabisi

Sekitar 10 orang pelaku datang ke lokasi hajatan pada siang hari. Mereka tidak sekadar hadir, tetapi memaksa meminta uang dari pihak keluarga.

Awalnya, keluarga sudah memberikan Rp100.000. Namun, para pelaku kembali datang dan meminta Rp500.000.

Ini Belum Selesai

Jogja Financial Festival Dibuka: Literasi Keuangan atau Bahaya Utang Digital?

Pemkab Lombok Tengah Tutup 25 Minimarket: Menjaga Pasar, Mengorbankan Pekerja?

Ketika Dadang menolak, situasi langsung memanas.
Para pelaku kemudian memukul korban menggunakan bambu sepanjang sekitar 35 sentimeter.

Pukulan itu tidak berhenti di satu titik.
Mereka terus menghajar korban di halaman rumahnya hingga Dadang tak sadarkan diri.

Keluarga langsung membawa korban ke RS Bhakti Husada. Namun, nyawa Dadang tidak tertolong. Ia meninggal dunia sekitar pukul 15.20 WIB.

Polisi Bergerak, Pelaku Masih Buron

Hingga kini, polisi masih memburu para pelaku. Aparat telah memeriksa empat saksi dan menyita barang bukti berupa bambu yang digunakan dalam penganiayaan.

Kepala Seksi Humas Polres Purwakarta, Ajun Komisaris Enjang Sukandi, menegaskan bahwa pelaku lebih dari dua orang dan proses penyelidikan masih berjalan.

Di sisi lain, Polda Jawa Barat memberi perhatian khusus pada kasus ini.
Kapolda Jabar, Inspektur Jenderal Rudi Setiawan, langsung memerintahkan penangkapan cepat terhadap para pelaku.

Namun, satu pertanyaan masih menggantung:
kenapa kejadian seperti ini terus berulang?

DPRD: Negara Harus Hadir, Bukan Diam

Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Zaini Shofari, mengecam keras aksi tersebut. Ia menilai negara tidak boleh kalah oleh premanisme.

“Saya meminta kejadian ini jadi yang terakhir. Tidak boleh ada premanisme di kota maupun desa,” tegasnya.

Ia juga mendesak aparat kepolisian memberi hukuman berat agar menimbulkan efek jera.

Selain itu, ia meminta kepala daerah lebih aktif turun ke lapangan. Menurutnya, pendekatan seperti yang dilakukan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi perlu ditiru.

“Para bupati dan wali kota harus proaktif. Jangan tunggu korban berikutnya,” ujarnya.

Premanisme: Masalah Lama yang Tak Pernah Tuntas

Kasus ini bukan yang pertama.
Premanisme dengan modus “minta jatah” di acara warga sudah lama terjadi.

Namun, yang membuat kasus ini berbeda adalah ujungnya: kematian.

Dari sekadar pungutan liar, situasi berubah menjadi kekerasan brutal.
Dari tekanan sosial, berakhir menjadi kehilangan nyawa.

Masalahnya sederhana tapi serius:
premanisme tumbuh karena ada ruang, dan ruang itu belum benar-benar ditutup.

Penutup: Siapa Melindungi Warga?

Dadang datang ke pernikahan anaknya sebagai seorang ayah.
Ia pulang sebagai korban kekerasan.

Kematian ini menyisakan satu pertanyaan besar kalau warga harus berhadapan sendiri dengan preman, lalu di mana negara?

Karena pada akhirnya, rasa aman bukan sekadar janji.
Ia harus terasa bahkan di hari paling bahagia sekalipun. @dimas

Tags: jawa baratKeamanan NegarakekerasanKriminalPolisiPungliPurwakarta

Kamu Melewatkan Ini

Kabupaten Sukabumi Gempa 4,6 M: Kecil di Angka, Besar di Kewaspadaan

Kabupaten Sukabumi Gempa 4,6 M: Kecil di Angka, Besar di Kewaspadaan

by teguh
Mei 18, 2026

Suara dentuman mungkin tak terdengar, tetapi bumi kembali memberi tanda. Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,6...

Perempuan Pembela HAM: Antara Keberanian Melawan dan Risiko Kehilangan Hidup

Perempuan Pembela HAM: Antara Keberanian Melawan dan Risiko Kehilangan Hidup

by dimas
Mei 11, 2026

Perempuan pembela HAM sering melangkah dari pengalaman melihat ketidakadilan yang terjadi di sekitar mereka. Keberanian itu mendorong mereka bersuara, mendampingi...

22 Detik Video: Satu Indonesia Mendadak Jadi Penyidik

22 Detik Video: Satu Indonesia Mendadak Jadi Penyidik

by teguh
Mei 9, 2026

;: Cuma 22 detik. Namun video dua petugas Bea Cukai yang masuk ke Warung Madura pada malam hari langsung mengubah...

Next Post
Dua Prajurit RI Tewas, Dunia Diam: Siapa Lindungi Pasukan Perdamaian?

Tiga Nyawa TNI Melayang, Israel Belum Akui Keterlibatan

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

Perlawanan Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Perlawanan Dari Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Mei 21, 2026

Pemkab Lombok Tengah Tutup 25 Minimarket: Menjaga Pasar, Mengorbankan Pekerja?

Mei 22, 2026

KUHAP 2025 Tegaskan Peran Sah PPNS dalam Sistem Peradilan Pidana

Februari 4, 2026

Inbox Lebih Kalem: Saat Gmail Pakai AI Buat Ngurangin Drama Email

Mei 8, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id