Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Jalir, Lanji, dan Juru Pajak Seks di Balik Sistem Jawa Kuno

by dimas
April 3, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Bayangkan sebuah aturan kuno yang tidak hanya mengatur hubungan laki-laki dan perempuan, tetapi juga memberi denda kepada siapa pun yang memfasilitasi pertemuan yang dianggap melanggar norma.

Dalam salah satu pasal paradara, istilah yang merujuk pada pelanggaran hubungan seksual dalam hukum Jawa Kuno, aturan menetapkan sanksi 4000 kepada perempuan yang mengantar seorang gadis ke rumah laki-laki atau menyediakan tempat untuk pertemuan tidak senonoh demi imbalan.

Raja menggunakan aturan itu untuk mengendalikan tatanan sosial, bukan sekadar menegakkan moralitas.

Hukum moral sebagai cara mengelola masyarakat

Hukum paradara memuat sedikitnya 17 pasal yang mengatur relasi laki-laki dan perempuan. Aturan itu menekankan larangan terhadap tindakan yang mengganggu perempuan bersuami dan menjaga struktur sosial yang berlaku.

Namun sistem hukum tersebut tidak hanya menekan perilaku, tetapi juga mencatat realitas sosial yang berjalan di masyarakat. Warga Jawa Kuno tetap menjalankan berbagai praktik yang berada di luar norma ideal, termasuk yang berkaitan dengan layanan seksual.

Ini Belum Selesai

Gerwis: Dari Medan Revolusi Menuju Perjuangan Kesetaraan

Peristiwa Madiun 1948: Sejarah yang Belum Selesai

Negara tidak menghapus fenomena itu, tetapi mengelolanya melalui aturan dan struktur administratif.

Jalir dan lanji: bahasa yang merekam kehidupan sosial

Arkeolog Dwi Cahyono menjelaskan bahwa istilah jalir merujuk pada pekerja seks dalam konteks Jawa Kuno. Istilah ini muncul dalam berbagai teks sastra dan prasasti, termasuk bentuk turunannya seperti kajaliran.

Kata itu muncul dalam Kakawin Bharatayuddha, Kidung Sunda, Nitisastra, dan sejumlah karya lain. Istilah lanji juga muncul dalam teks Jawa Kuno dan Jawa Tengahan untuk menggambarkan pelacuran atau perilaku seksual tertentu.

Bahasa dalam teks kuno tersebut tidak hanya menjadi alat norma, tetapi juga merekam realitas sosial yang hidup di masyarakat.

Catatan asing tentang Jawa Kuno

Kronik Dinasti Tang dari Tiongkok mencatat keberadaan perempuan di wilayah Kalingga yang mereka gambarkan dengan narasi ekstrem terkait hubungan seksual dan penyakit.

Catatan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat luar membaca Jawa sebagai ruang sosial yang kompleks, meski sering kali bercampur antara fakta dan persepsi budaya.

Narasi itu memperlihatkan Jawa Kuno sebagai bagian dari jaringan interaksi global sejak abad awal Masehi.

Negara, pajak, dan struktur “juru jalir”

Prasasti abad ke-9 M menyebut istilah juru jalir. Dalam sejumlah kajian lama, istilah ini sering disamakan dengan muncikari. Namun arkeolog Dwi Cahyono menawarkan penafsiran berbeda.

Ia menjelaskan bahwa juru jalir bekerja sebagai petugas yang memungut pajak dari aktivitas tertentu sekaligus mengatur dan mengawasi praktik pelacuran. Jabatan ini berfungsi dalam struktur administrasi kerajaan.

Posisi itu masuk dalam kelompok mangilala drawya haji, yaitu pejabat yang mengelola milik raja. Kelompok ini bekerja dalam birokrasi kerajaan dan menerima gaji melalui sistem resmi.

Struktur tersebut menunjukkan bahwa kerajaan tidak berdiri di luar fenomena sosial, tetapi ikut mengaturnya dalam sistem fiskal dan administratif.

Sistem sosial yang mengakui realitasnya sendiri

Keberadaan jabatan seperti juru jalir menunjukkan bahwa pelacuran telah menjadi bagian dari kehidupan sosial yang terstruktur pada masa Jawa Kuno. Sistem kerajaan tidak hanya mengatur moral, tetapi juga mengelola dampak sosial dan ekonominya.

Sejarawan Titi Surti Nastiti menegaskan bahwa keberadaan jabatan ini menunjukkan pengakuan negara terhadap praktik yang berlangsung di masyarakat, meski teks hukum tidak selalu menyatakannya secara eksplisit.

Dalam sejumlah karya sastra, istilah yang merujuk pada perempuan muncul lebih dulu sebelum istilah yang berkaitan dengan praktik tersebut, memperlihatkan bagaimana bahasa membingkai realitas sosial secara berlapis.

Refleksi Tabooo: ketika moral bertemu administrasi

Sejarah Jawa Kuno menunjukkan bahwa moral, ekonomi, dan kekuasaan sering bekerja dalam satu sistem yang saling terkait. Negara tidak selalu menghapus hal yang dianggap menyimpang, tetapi mengatur agar tetap berada dalam kendali.

Cara kerja itu membuat batas antara “yang dilarang” dan “yang dikelola” menjadi sangat tipis.

Pertanyaan itu kemudian bergeser ke masa kini seberapa jauh masyarakat modern benar-benar berbeda dari masa lalu dalam mengatur hal-hal yang dianggap tabu?

Penutup: sejarah yang terus bergerak

Jawa Kuno meninggalkan jejak bahwa masyarakat selalu hidup dalam negosiasi antara norma dan realitas. Aturan lahir, tetapi kehidupan sosial terus bergerak melampaui batasnya.

Sejarah itu tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus terbaca ulang, dengan bahasa, sistem, dan wajah yang selalu berubah. @dimas

Tags: BudayaNasionalRefleksiSejarahSosialTabu

Kamu Melewatkan Ini

Nama Jampidsus Disebut, Febrie Pertanyakan Kaitannya dengan Blackout PLN

Nama Jampidsus Disebut, Febrie Pertanyakan Kaitannya dengan Blackout PLN

by Tabooo
Juli 11, 2026

Nama Jampidsus Febrie Adriansyah ikut disebut dalam pusaran pengusutan dugaan korupsi BUMN. Ia mempertanyakan kaitannya dengan kasus blackout PLN yang...

Barikan Warnai Pengetan Adeging Nagari Kraton Surakarta

Barikan Warnai Pengetan Adeging Nagari Kraton Surakarta

by dimas
Juli 4, 2026

Barikan mewarnai Pengetan Adeging Nagari Kraton Surakarta sebagai simbol syukur, keselamatan, dan pelestarian filosofi budaya Jawa. Tabooo.id: Surakarta - Kraton...

TABOOO Cinema Lab: Mengubah Realitas Menjadi Film Dokumenter

TABOOO Cinema Lab: Mengubah Realitas Menjadi Film Dokumenter

by dimas
Juli 1, 2026

TABOOO Cinema Lab menghadirkan pelatihan film dokumenter bersama filmmaker Wahyu Utami untuk mengubah cerita budaya menjadi karya yang bermakna. Tabooo.id...

Next Post
AI Ambil Alih Game: Solusi atau Akhir dari Tantangan?

AI Ambil Alih Game: Solusi atau Akhir dari Tantangan?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id