Jumat, Mei 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Jalir, Lanji, dan Juru Pajak Seks di Balik Sistem Jawa Kuno

by dimas
April 3, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Bayangkan sebuah aturan kuno yang tidak hanya mengatur hubungan laki-laki dan perempuan, tetapi juga memberi denda kepada siapa pun yang memfasilitasi pertemuan yang dianggap melanggar norma.

Dalam salah satu pasal paradara, istilah yang merujuk pada pelanggaran hubungan seksual dalam hukum Jawa Kuno, aturan menetapkan sanksi 4000 kepada perempuan yang mengantar seorang gadis ke rumah laki-laki atau menyediakan tempat untuk pertemuan tidak senonoh demi imbalan.

Raja menggunakan aturan itu untuk mengendalikan tatanan sosial, bukan sekadar menegakkan moralitas.

Hukum moral sebagai cara mengelola masyarakat

Hukum paradara memuat sedikitnya 17 pasal yang mengatur relasi laki-laki dan perempuan. Aturan itu menekankan larangan terhadap tindakan yang mengganggu perempuan bersuami dan menjaga struktur sosial yang berlaku.

Namun sistem hukum tersebut tidak hanya menekan perilaku, tetapi juga mencatat realitas sosial yang berjalan di masyarakat. Warga Jawa Kuno tetap menjalankan berbagai praktik yang berada di luar norma ideal, termasuk yang berkaitan dengan layanan seksual.

Ini Belum Selesai

Malioboro Tengah Malam: Ketika Jogja Berhenti Jadi Panggung Wisata

Hardiknas, Harkitnas, dan Keberanian Membuka Titik Buta Kekuasaan

Negara tidak menghapus fenomena itu, tetapi mengelolanya melalui aturan dan struktur administratif.

Jalir dan lanji: bahasa yang merekam kehidupan sosial

Arkeolog Dwi Cahyono menjelaskan bahwa istilah jalir merujuk pada pekerja seks dalam konteks Jawa Kuno. Istilah ini muncul dalam berbagai teks sastra dan prasasti, termasuk bentuk turunannya seperti kajaliran.

Kata itu muncul dalam Kakawin Bharatayuddha, Kidung Sunda, Nitisastra, dan sejumlah karya lain. Istilah lanji juga muncul dalam teks Jawa Kuno dan Jawa Tengahan untuk menggambarkan pelacuran atau perilaku seksual tertentu.

Bahasa dalam teks kuno tersebut tidak hanya menjadi alat norma, tetapi juga merekam realitas sosial yang hidup di masyarakat.

Catatan asing tentang Jawa Kuno

Kronik Dinasti Tang dari Tiongkok mencatat keberadaan perempuan di wilayah Kalingga yang mereka gambarkan dengan narasi ekstrem terkait hubungan seksual dan penyakit.

Catatan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat luar membaca Jawa sebagai ruang sosial yang kompleks, meski sering kali bercampur antara fakta dan persepsi budaya.

Narasi itu memperlihatkan Jawa Kuno sebagai bagian dari jaringan interaksi global sejak abad awal Masehi.

Negara, pajak, dan struktur “juru jalir”

Prasasti abad ke-9 M menyebut istilah juru jalir. Dalam sejumlah kajian lama, istilah ini sering disamakan dengan muncikari. Namun arkeolog Dwi Cahyono menawarkan penafsiran berbeda.

Ia menjelaskan bahwa juru jalir bekerja sebagai petugas yang memungut pajak dari aktivitas tertentu sekaligus mengatur dan mengawasi praktik pelacuran. Jabatan ini berfungsi dalam struktur administrasi kerajaan.

Posisi itu masuk dalam kelompok mangilala drawya haji, yaitu pejabat yang mengelola milik raja. Kelompok ini bekerja dalam birokrasi kerajaan dan menerima gaji melalui sistem resmi.

Struktur tersebut menunjukkan bahwa kerajaan tidak berdiri di luar fenomena sosial, tetapi ikut mengaturnya dalam sistem fiskal dan administratif.

Sistem sosial yang mengakui realitasnya sendiri

Keberadaan jabatan seperti juru jalir menunjukkan bahwa pelacuran telah menjadi bagian dari kehidupan sosial yang terstruktur pada masa Jawa Kuno. Sistem kerajaan tidak hanya mengatur moral, tetapi juga mengelola dampak sosial dan ekonominya.

Sejarawan Titi Surti Nastiti menegaskan bahwa keberadaan jabatan ini menunjukkan pengakuan negara terhadap praktik yang berlangsung di masyarakat, meski teks hukum tidak selalu menyatakannya secara eksplisit.

Dalam sejumlah karya sastra, istilah yang merujuk pada perempuan muncul lebih dulu sebelum istilah yang berkaitan dengan praktik tersebut, memperlihatkan bagaimana bahasa membingkai realitas sosial secara berlapis.

Refleksi Tabooo: ketika moral bertemu administrasi

Sejarah Jawa Kuno menunjukkan bahwa moral, ekonomi, dan kekuasaan sering bekerja dalam satu sistem yang saling terkait. Negara tidak selalu menghapus hal yang dianggap menyimpang, tetapi mengatur agar tetap berada dalam kendali.

Cara kerja itu membuat batas antara “yang dilarang” dan “yang dikelola” menjadi sangat tipis.

Pertanyaan itu kemudian bergeser ke masa kini seberapa jauh masyarakat modern benar-benar berbeda dari masa lalu dalam mengatur hal-hal yang dianggap tabu?

Penutup: sejarah yang terus bergerak

Jawa Kuno meninggalkan jejak bahwa masyarakat selalu hidup dalam negosiasi antara norma dan realitas. Aturan lahir, tetapi kehidupan sosial terus bergerak melampaui batasnya.

Sejarah itu tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus terbaca ulang, dengan bahasa, sistem, dan wajah yang selalu berubah. @dimas

Tags: BudayaNasionalRefleksiSejarahSosialTabu

Kamu Melewatkan Ini

Kalau Niatnya Baik, Masih Salah Pakai Nama Yakuza?

Kalau Niatnya Baik, Masih Salah Pakai Nama Yakuza?

by teguh
Mei 22, 2026

Nama “Yakuza” selama ini identik dengan bayangan dunia kriminal Jepang: kekerasan, mafia, dan ketakutan. Namun di Kediri, Jawa Timur, nama...

Socrates Tidak Mati, Kita yang Berhenti Bertanya

Filsafat Socrates: Mengapa Berpikir Kritis Semakin Langka di Era Digital

by jeje
Mei 22, 2026

Ada sesuatu yang terasa janggal di zaman ini. Informasi datang tanpa henti. Namun, manusia justru semakin sulit membedakan mana pengetahuan...

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

by jeje
Mei 20, 2026

Buruh diminta jangan terlalu banyak menuntut. Pengusaha jangan diperas. Itulah pesan blak-blakan Presiden Prabowo Subianto saat berbicara di Rapat Paripurna...

Next Post
AI Ambil Alih Game: Solusi atau Akhir dari Tantangan?

AI Ambil Alih Game: Solusi atau Akhir dari Tantangan?

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

Perlawanan Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Perlawanan Dari Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Mei 21, 2026

Pemkab Lombok Tengah Tutup 25 Minimarket: Menjaga Pasar, Mengorbankan Pekerja?

Mei 22, 2026

KUHAP 2025 Tegaskan Peran Sah PPNS dalam Sistem Peradilan Pidana

Februari 4, 2026

Inbox Lebih Kalem: Saat Gmail Pakai AI Buat Ngurangin Drama Email

Mei 8, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id