Rabu, September 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Orang Miskin Tak Masuk Data, Lalu Harus Ke Mana?

by dimas
April 2, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Talk – Kita mulai dari pertanyaan yang agak nyelekit orang miskin di negeri ini sebenarnya “punya” siapa? Negara? Pemerintah daerah? Atau cuma muncul saat kampanye lalu hilang dari prioritas?

Kedengarannya sinis. Tapi coba ingat lagi berapa kali kamu mendengar janji kesejahteraan, lalu melihat orang sakit berhenti berobat karena status bantuannya tiba-tiba hilang?

Bayangkan kita lagi ngobrol santai di kafe. Topiknya berat, tapi ini realita.

Welfare State: Konsep Besar, Realita Kecil

Indonesia sejak awal memilih konsep welfare state. Negara wajib menjamin kebutuhan dasar warganya. Konstitusi menegaskan tanggung jawab itu, bukan sekadar hiasan teks.

Pemerintah juga menjalankan banyak program BPJS, bantuan pendidikan, hingga berbagai skema perlindungan sosial. Di atas kertas, semuanya terlihat rapi dan menjanjikan.

Ini Belum Selesai

Karhutla Meluas, Tanggung Jawab Korporasi Jadi Sorotan

Suap HGB Terbongkar, Sistem Pertanahan Jadi Sorotan

Namun, begitu program berjalan di lapangan, banyak celah mulai terlihat.

Kasus penonaktifan jutaan peserta BPJS PBI jadi contoh paling jelas. Pemerintah memperbarui data untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Secara logika, langkah itu masuk akal.

Saat Sistem Diperbaiki, Hidup Justru Terganggu

Masalah muncul ketika dampaknya langsung menghantam masyarakat. Pasien gagal ginjal kehilangan akses cuci darah. Sebagian pasien kanker berhenti menjalani kemoterapi.

Kebijakan itu tidak sekadar memperbarui data kebijakan itu menghentikan layanan kesehatan bagi orang yang sangat bergantung padanya.

Di titik ini, kita perlu jujur: apakah kita sedang memperbaiki sistem, atau justru mengorbankan yang paling lemah?

Orang yang sakit tidak butuh istilah “validasi data”. Mereka hanya butuh satu hal: tetap bisa berobat.

Anggaran Besar, Kenapa Dampaknya Kecil?

Pemerintah tentu punya argumen kuat. Negara sudah mengalokasikan anggaran besar untuk kesehatan dan perlindungan sosial. Bahkan, pemerintah menjalankan program ambisius dengan skala masif.

Dari atas, semua terlihat serius.

Namun, pengalaman masyarakat sering berkata sebaliknya. Program berjalan, tapi manfaatnya tidak selalu sampai ke yang membutuhkan.

Ibarat restoran lengkap: bahan ada, koki siap, menu tersedia tapi makanan tidak pernah sampai ke meja pelanggan.

Masalahnya jelas: koordinasi belum berjalan rapi.

Efisiensi vs Empati: Harus Berlawanan?

Sebagian orang menilai bantuan sosial harus diperketat. Tanpa kontrol, bantuan mudah salah sasaran. Fakta di lapangan memang menunjukkan ada penerima yang tidak layak.

Pendapat ini masuk akal.

Negara juga harus mengelola anggaran dengan hati-hati, apalagi di tengah tekanan ekonomi global. Pemerintah tidak bisa membiarkan pengeluaran tanpa kontrol.

Namun, kebijakan tetap butuh empati.

Efisiensi tidak boleh mengorbankan akses layanan dasar. Ketika kebijakan menghentikan pengobatan pasien, sistem gagal melindungi yang paling rentan.

Mengentaskan atau Sekadar Mengelola?

Di sini muncul pertanyaan penting: apakah kita benar-benar mengentaskan kemiskinan, atau hanya mengelolanya?

Program terus berubah. Data terus diperbarui. Tapi masalah yang sama terus muncul.

Kondisi ini menunjukkan satu hal: koordinasi belum solid.

Tanpa kendali yang jelas, setiap lembaga berjalan sendiri. Semua merasa sudah bekerja, tetapi hasilnya tidak terasa di masyarakat.

Semua Bergerak, Tapi Tidak Terhubung

Pemerintah pusat membuat kebijakan. Kementerian menjalankan program. Fasilitas layanan mengikuti aturan. BPJS menyalurkan pembiayaan.

Semua bergerak.

Namun, gerakan itu sering tidak terhubung.

Akibatnya, masyarakat menghadapi dampak langsung tanpa perlindungan yang cukup. Mereka tidak punya akses untuk memperbaiki sistem, tetapi mereka harus menanggung risikonya.

Ironisnya, di sektor lain, pemerintah bisa bergerak cepat dan terkoordinasi. Artinya, kapasitas itu ada hanya belum diterapkan secara merata.

Jadi, Orang Miskin Itu “Punya” Siapa?

Sekarang kita kembali ke pertanyaan awal.

Jika negara memegang tanggung jawab, maka negara harus hadir saat rakyat berada di titik paling sulit.

Jika banyak pihak terlibat, maka semua harus bekerja dalam satu arah bukan saling lempar tanggung jawab.

Yang perlu kita ingat: orang miskin bukan angka statistik. Mereka manusia dengan kebutuhan nyata. Setiap kebijakan langsung memengaruhi hidup mereka.

Sekarang giliran kamu.

Apakah masalah ini muncul karena sistem belum matang?
Atau karena cara kita memandang kesejahteraan masih keliru?

Negara sudah benar-benar hadir, atau baru terlihat hadir?

Lalu, kamu di kubu mana? @dimas

Tags: anggaranbansosbpjsDataEmpatiGelapKeadilanKebijakanKesejahteraanKrisis GlobalMiskinNasionalNegaraNyatarakyatRealitaSosialSosial & PublikSuara

Kamu Melewatkan Ini

Pelanggaran HAM dan Kekuasaan: Mengapa Keadilan Terus Tertunda?

Pelanggaran HAM dan Kekuasaan: Mengapa Keadilan Terus Tertunda?

by dimas
September 1, 2026

Pelanggaran HAM dan kekuasaan terus berhadapan dengan persoalan impunitas. Mengapa keadilan bagi korban tak kunjung tuntas? Tabooo.id - Ada perkara...

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

by Tabooo
September 1, 2026

Kementerian Kebudayaan merilis lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Lebih dari 5.000 halaman membawa pembaca dari...

Membuka Jalan Perubahan di Tengah Persoalan Sosial Gilingan

Membuka Jalan Perubahan di Tengah Persoalan Sosial Gilingan

by eko
Agustus 30, 2026

Kelurahan Gilingan membuka jalan perubahan di tengah persoalan sosial lewat pendekatan humanis dan pemberdayaan warga yang ingin beralih pekerjaan. Tabooo.id...

Next Post
Becak Tua di Madiun: Bertahan atau Sekadar Menunggu Waktu?

Becak Tua di Madiun: Bertahan atau Sekadar Menunggu Waktu?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id