Jumat, Mei 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Becak Tua di Madiun: Bertahan atau Sekadar Menunggu Waktu?

by Tabooo
April 2, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Sore di Kota Madiun turun tanpa suara. Langit meredup perlahan, dan lampu jalan mulai menyala satu per satu. Seolah kota sedang bersiap masuk ke fase yang lebih sunyi.

Orang-orang pulang dengan langkah cepat, motor melintas tanpa jeda, dan hidup berjalan seperti tidak pernah punya alasan untuk berhenti.

Di pinggir jalan itu, waktu terasa berbeda. Seorang pria duduk diam di samping becaknya. Ia tidak terburu-buru, tidak juga terlihat menunggu sesuatu yang pasti.

Seolah ia hanya ada, di tengah dunia yang terus bergerak tanpa benar-benar melihatnya.

Kisah yang Tidak Pernah Masuk Berita

Sebut saja “Parjo” (57 tahun), ia sudah menarik becak sejak muda. Dari masa ketika jalanan masih memberi ruang untuk pelan, sampai sekarang ketika semuanya dipaksa serba cepat.

Ini Belum Selesai

Hardiknas, Harkitnas, dan Keberanian Membuka Titik Buta Kekuasaan

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Semangat Bersama Perlahan Menghilang

“Dulu rame… tiap hari ada saja yang naik,” ujar Parjo, suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara kendaraan di kejauhan. “Tapi sekarang… ya begini. Nunggu saja,” keluhnya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di balik kata “nunggu”, ada puluhan tahun perubahan yang tidak pernah ia minta.

Ia tidak pernah benar-benar memilih untuk tertinggal. Tapi zaman berjalan tanpa menunggu siapa pun.

Becak: Antara Masa Lalu dan Realita Sekarang

Becak di sampingnya tampak lebih dari sekadar kendaraan. Ia adalah ruang hidup yang terbuka.

Atap plastik yang mulai kusam, pakaian yang digantung seadanya, dan barang-barang kecil yang menunjukkan bahwa hidupnya tidak lagi punya batas yang jelas antara bekerja dan bertahan.

Setiap bagian dari becak itu menyimpan cerita. Tentang panas, hujan, serta hari-hari panjang yang tidak selalu menghasilkan apa-apa.

“Kalau hujan, ya di sini saja,” katanya sambil menepuk plastik pelindung. “Daripada nggak punya tempat,” imbuh Parjo.

Becak itu bukan hanya alat. Ia adalah rumah yang tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah.

Keluh Kesah yang Dipendam Terlalu Lama

Parjo tidak banyak bicara. Tidak ada nada marah dari sosok tua itu, tidak ada juga keluhan panjang yang keluar dari mulutnya.

Tapi justru di situlah letak beratnya.

“Kadang sehari nggak dapat sama sekali,” katanya. “Kalau dapat ya buat makan hari itu saja,” tambahnya.

Parjo mengaku tidak ada rencana jangka panjang dengan usianya yang sudah cukup renta. Tidak ada tabungan di hari tuanya ini. Dan tidak ada kepastian bagaimana kehidupannya esok hari. Hidupnya berjalan dalam hitungan hari, dan setiap hari adalah pertaruhan baru.

Ironisnya, ia sudah terlalu terbiasa dengan ketidakpastian itu, sampai tidak lagi terdengar seperti keluhan.

Madiun: Kota Tenang Dengan Cerita yang Tidak Terlihat

Madiun sering disebut sebagai kota yang nyaman. Tidak terlalu padat, tidak terlalu keras, dan terasa lebih “manusiawi” dibanding kota besar. Tapi ketenangan itu punya sisi lain.

Kota yang tidak berisik ini menyimpan banyak hal yang tidak terdengar. Tidak ada sorotan media. Tidak ada kamera yang datang. Hanya ada kehidupan yang berjalan pelan, dan orang-orang yang perlahan tertinggal tanpa pernah benar-benar disadari.

Bukan Sekadar Cerita Pribadi

Kisah ini bukan hanya tentang satu orang “Parjo”. Ini adalah potongan kecil dari realita yang lebih besar. Zaman berubah, teknologi datang, pilihan makin banyak. Tapi sayangnya, perubahan itu tidak datang dengan kesempatan yang sama untuk semua orang.

Ada yang mampu beradaptasi dan kemudian naik mengikuti perubahan, sementara di sisi lain, ada juga yang justru hanya bisa bertahan di tempat, lalu perlahan melihat semuanya bergerak menjauh.

Dampak yang Terasa Dekat

Mungkin kamu pernah melihat pemandangan seperti ini. Mungkin kamu pernah melewati Parjo, atau bahkan Parjo-Parjo yang lain, lalu sempat melirik sebentar, kemudian langsung melanjutkan perjalanan. Dan karena itu terjadi berulang kali, akhirnya semuanya terasa biasa saja.

Ddi situlah masalahnya. Ketika sesuatu yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak justru terasa normal, kita mulai kehilangan sesuatu yang lebih besar dari sekadar perhatian, kita kehilangan rasa.

Cerita yang Jarang Masuk Headline

Cerita seperti ini jarang masuk headline. Tidak cukup “dramatis” untuk viral, tidak cukup “besar” untuk dibahas panjang. Tapi justru di sanalah realita paling jujur bersembunyi.

Hal-hal yang paling sunyi sering kali adalah cerminan paling nyata dari bagaimana sistem bekerja, dan bagaimana kita memilih untuk melihat atau mengabaikannya.

Malam pun turun. Lampu jalan memantulkan cahaya redup di aspal yang basah.

Parjo tetap duduk di samping becaknya, dan ia mempertahankan posisi yang hampir tidak berubah sejak sore tadi. Ia mungkin sedang menunggu penumpang atau mungkin hanya menunggu waktu.

Di tengah kota yang terus berjalan, satu pertanyaan tertinggal, sebenarnya yang berhenti itu hidupnya… atau kepedulian kita? @tabooo

Tags: Fenomena Sosialketimpangan sosialmadiunpekerja informalrealita sosialTabooo Vibes

Kamu Melewatkan Ini

Malioboro Tak Pernah Tidur, Siapa yang Masih Harus Bertahan Hidup?

Malioboro Tak Pernah Tidur, Siapa yang Masih Harus Bertahan Hidup?

by teguh
Mei 21, 2026

Kalimat dari intelektual Indonesia, Soedjatmoko, terasa seperti gema yang pelan-pelan hidup di trotoar Malioboro ketika malam mulai menggulung keramaian. Sebab...

YAKUZA Kediri: Bukan Mafia, Tapi Ruang Bertobat

YAKUZA Kediri: Bukan Mafia, Tapi Ruang Bertobat

by teguh
Mei 20, 2026

Saat mendengar kata Yakuza, banyak orang langsung membayangkan mafia Jepang tato penuh tubuh, bisnis ilegal, kekerasan, dan bayangan dunia kriminal...

Ketika Pembangunan Terlihat Megah, Tapi Rakyat Tetap Gelisah

Ketika Pembangunan Terlihat Megah, Tapi Rakyat Tetap Gelisah

by dimas
Mei 11, 2026

Pembangunan tampak megah lewat angka pertumbuhan, gedung tinggi, dan proyek infrastruktur besar yang terus dipamerkan. Namun bagi banyak orang, kemajuan...

Next Post
Narasi Liar vs Realita: Benarkah Raja Inggris Seorang Muslim?

Narasi Liar vs Realita: Benarkah Raja Inggris Seorang Muslim?

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

Pacitan Diguncang Gempa Magnitudo 6,4, Tidak Berpotensi Tsunami

Gempa Berkekuatan 6,4 Magnitudo Guncang Pacitan

Februari 6, 2026

KPK Tetapkan Reza Maullana Sebagai Tersangka Suap Proyek Kereta Api

Februari 3, 2026

Dari Desa ke Karung: Jejak Uang Korupsi Bupati Pati

Januari 22, 2026

Inbox Lebih Kalem: Saat Gmail Pakai AI Buat Ngurangin Drama Email

Mei 8, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id