Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Empat Nama Muncul, Nol Kepastian: Hukum Tersandera Kuasa?

by dimas
Maret 31, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Sudah dua pekan sejak pelaku menyiram air keras ke wajah Andrie Yunus, aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Serangan itu tidak hanya melukai fisiknya, tetapi juga mengirim teror terbuka ke ruang sipil.

Fakta paling mencolok muncul dari identitas pelaku. Empat anggota aktif TNI dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES masuk dalam daftar terduga sejak 18 Maret 2026.

Namun setelah pengungkapan itu, proses hukum justru melambat. Aparat belum mengumumkan perkembangan berarti. Publik terus menunggu kejelasan, sementara motif pelaku masih gelap.

Komnas HAM Mengejar, Jawaban Menghindar

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia bergerak cepat untuk menelusuri kasus ini. Pada Senin (30/3/2026), mereka mengajukan belasan pertanyaan kepada Polda Metro Jaya.

Namun langkah itu belum menghasilkan jawaban baru. Komnas HAM masih membutuhkan data tambahan, terutama dari TNI. Minimnya informasi memperlihatkan bahwa koordinasi antar lembaga belum berjalan efektif.

Ini Belum Selesai

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Situasi ini menegaskan satu hal negara belum berbicara dengan satu suara dalam kasus besar yang menyita perhatian publik.

Koordinasi Tersendat, Penanganan Dipertanyakan

Kasus ini melibatkan aparat militer aktif. Karena itu, penyelidikan tidak bisa berjalan dengan pola biasa. Polisi dan TNI harus membangun komunikasi setara agar proses hukum tetap kredibel.

Komnas HAM menilai Polda Metro Jaya tidak lagi cukup kuat menangani perkara ini sendirian. Mereka mendorong Bareskrim Polri mengambil alih agar koordinasi dengan Polisi Militer TNI berjalan seimbang.

Tanpa koordinasi yang setara, penyelidikan akan terus tersendat. Waktu berjalan, tetapi kejelasan tidak kunjung datang.

Sorotan Global, Tekanan Kian Nyata

Kasus ini kini melampaui batas domestik. Dewan HAM PBB di Jenewa mulai menyoroti perkembangan penyelidikan. Sejumlah organisasi sipil juga terus mendesak transparansi.

Sorotan internasional menambah tekanan bagi pemerintah. Jika proses hukum terus mandek, kepercayaan global terhadap komitmen Indonesia pada HAM bisa ikut tergerus.

Di dalam negeri, publik juga menuntut jawaban. Mereka tidak hanya ingin pelaku dihukum, tetapi juga ingin melihat proses hukum berjalan terbuka dan adil.

TGPF Menguat sebagai Jalan Keluar

Di tengah kebuntuan, desakan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) semakin menguat. Amnesty International Indonesia dan SETARA Institute menilai langkah ini bisa memecah kebuntuan.

Dorongan juga mengarah langsung ke Presiden Prabowo Subianto. Banyak pihak menilai situasi ini membutuhkan keputusan politik tingkat tinggi agar penyelidikan kembali bergerak.

Perkembangan internal turut memperkeruh keadaan. Mundurnya Kepala BAIS TNI memicu tafsir baru di publik, alih-alih meredakan kecurigaan.

Korban Meluas, Rasa Aman Menyusut

Andrie Yunus menanggung dampak paling nyata. Ia menghadapi luka fisik dan trauma yang tidak ringan.

Namun efek kasus ini menjalar lebih luas. Para aktivis HAM mulai merasa terancam. Rasa aman mereka menyusut, sementara ruang kritik terhadap kekuasaan terasa semakin sempit.

Publik pun menangkap pesan yang sama: kekerasan bisa menyasar siapa saja yang bersuara.

Ujian Terbuka bagi Penegakan Hukum

Kasus ini menguji keberanian negara dalam menegakkan hukum. Aparat sudah mengantongi nama pelaku, tetapi proses hukum belum menunjukkan arah yang jelas.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat. Apakah hukum benar-benar berdiri tegak, atau justru berhenti ketika berhadapan dengan kekuasaan?

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya keadilan untuk Andrie, tetapi juga kepercayaan publik. Dan ketika kepercayaan itu retak, memperbaikinya jauh lebih sulit daripada sekadar mengungkap satu kasus. @dimas

Tags: AktivisAndrie YunusDemokrasiKeadilanKontraSKriminal & HukumPidanaSanksi

Kamu Melewatkan Ini

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

by Tabooo
Juni 10, 2026

UU Polri baru tidak hanya mengubah batas usia pensiun. Aturan ini juga membuka pertanyaan besar soal regenerasi, kewenangan digital, ruang...

Air Keras untuk Kritik: Demokrasi Sedang Sakit?

Air Keras untuk Kritik: Demokrasi Sedang Sakit?

by dimas
Juni 8, 2026

Ketika kritik dibalas dengan kekerasan, yang terancam bukan hanya seorang aktivis. Kasus Andrie Yunus menguji batas demokrasi dan kebebasan berpendapat...

Demokrasi atau Ilusi Pilihan? Saat Popularitas Mengalahkan Pengetahuan

Demokrasi atau Ilusi Pilihan? Saat Popularitas Mengalahkan Pengetahuan

by dimas
Juni 5, 2026

Demokrasi menjanjikan kesetaraan, tetapi apakah suara terbanyak selalu melahirkan keputusan terbaik? Saat emosi mengalahkan pengetahuan, bencana bisa terjadi. Tabooo.id -...

Next Post
Soft Rejection: Cara Halus Bilang “Tidak” Tanpa Drama

Soft Rejection: Cara Halus Bilang “Tidak” Tanpa Drama

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id