Tabooo.id: Check – Media sosial diramaikan oleh informasi bahwa harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax, akan naik hingga Rp17.850 per liter mulai 1 April 2026. Angkanya spesifik dan tanggalnya jelas. Seperti biasa… Di tengah kondisi ekonomi yang sensitif, satu angka bisa bikin semua orang panik.
Kabar semacam ini banyak yang langsung percaya tanpa bertanya lagi … Apakah kabar ini benar?
FAKTA RESMI DARI PERTAMINA
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron, menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar dan belum ada pengumuman resmi terkait perubahan harga BBM.
“Informasi proyeksi kenaikan harga BBM yang beredar tidak dapat dipertanggungjawabkan, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai harga per 1 April 2026,” katanya, Senin (30/3/2026).
Ia juga menambahkan, “Dapatkan informasi valid harga BBM Pertamina hanya melalui saluran resmi www.pertamina.com. Pertamina mendukung imbauan Pemerintah untuk menggunakan energi secara bijak,” tandasnya.
Artinya: Tidak ada kenaikan BBM seperti yang diklaim.
KENAPA HOAKS INI MUDAH DIPERCAYA?
Masalahnya bukan cuma di informasinya, namun ada di cara kita merespons.
Setiap awal bulan, publik sudah “siap” dengan kemungkinan kenaikan BBM. Begitu muncul narasi yang cocok, yaitu angka tinggi lengkap dengan tanggal pasti, otak langsung menyimpulkan bahwa ini fakta. Padahal… belum tentu.
Kita tidak selalu mencari kebenaran, tapi hanya mencari konfirmasi dari ketakutan kita sendiri.
INI BUKAN SEKADAR HOAKS
Ini bukan kasus pertama, dan kemungkinan besar, bukan yang terakhir. Ini pola berulang, dimana informasi muncul → emosi naik → publik bereaksi → konten menyebar.
Dan yang paling cepat viral? Bukan fakta, melainkan ketakutan kolektif.
Hoaks seperti ini kelihatannya sepele. Tapi efeknya nyata:
- Kamu bisa panik tanpa alasan
- Pengeluaran jadi lebih defensif atau impulsif
- Persepsi ekonomi terasa lebih buruk dari realita
Lebih dalam lagi, kita jadi terbiasa percaya tanpa verifikasi.
EKONOMI + EMOSI = VIRAL
Isu BBM selalu punya daya ledak tinggi. Kenapa? Karena menyentuh langsung situasi dan kondisi masyarakat, yakni urusan dompet, mobilitas, dan kebutuhan sehari-hari.
Jadi ketika narasi “BBM naik” muncul, publik tidak lagi netral. Mereka sudah emosional sejak awal. Sedangkan di era digital, emosi adalah bahan bakar utama viralitas.
BERPIKIR SEBELUM SHARE,
Sebelum kamu ikut menyebarkan kabar seperti ini… Berhenti sebentar, cek sumbernya, dan tanya logikanya. Karena hari ini, yang viral belum tentu valid.
Dan pertanyaannya sekarang adalah kamu masih mau jadi bagian dari penyebar hoaks atau mulai jadi penyaring kebenaran? @tabooo



