Tabooo.id: Lifestyle – Pernah nggak sih kamu ngerasa insecure cuma gara-gara ketiak? Iya, bagian tubuh yang jarang kelihatan ini entah kenapa punya beban sosial tersendiri. Harus licin, cerah, tanpa bulu, dan tentu saja wangi. Pokoknya kalau ketiakmu nggak kayak iklan deodorant langsung deh, rasa percaya diri drop.
Tapi pertanyaannya apa benar mencukur bulu ketiak (alias shaving) bikin ketiak hitam? Atau sebenarnya kita cuma salah cara self care aja?
Fakta di Balik Pisau Cukur dan Skin Barrier yang Lelah
Menurut dr. Pipim Septiana Bayasari, Sp.DVE, mencukur ketiak terlalu sering atau asal-asalan bisa merusak skin barrier, alias lapisan pelindung alami kulit. “Biasanya shaving itu juga dapat merusak skin barrier. Ketika skin barrier rusak, pasti akan memperparah keringat dan juga bau badan,” jelasnya dalam acara NIVEA Deo Derma Control Launch di Jakarta (29/10/2025).
Masalahnya, ketiak itu area sensitif. Setiap kali pisau cukur bergesekan dengan kulit, terjadi abrasi kecil kulit terkikis, lapisan pelindung rusak. Kalau itu terus terjadi, kulit bisa iritasi, hiperpigmentasi (jadi lebih gelap), bahkan muncul jerawat kecil.
“Ketika kulit kita diabrasi terus-menerus, akan jadi kerusakan dan hitam,” tambah dr. Pipim. Dan ya, that’s the science behind your dark armpit drama.
Selain itu, dr. Nadia Alaydrus, M.Kes., juga bilang nggak ada batasan pasti berapa kali seseorang boleh mencukur ketiak. Yang penting adalah cara sebelum dan sesudahnya. “Yang penting adalah bagaimana kita melakukan perawatan before dan after shaving,” katanya.
Jadi bukan soal berapa kali, tapi bagaimana Harus pakai foam atau krim cukur biar kulit nggak kering, dan setelahnya kasih pelembap supaya kulit tetap tenang dan nggak gampang iritasi.
Obsesi Ketiak Cerah dan Psikologi di Baliknya
Kalau dipikir-pikir, kenapa sih banyak orang terutama perempuan begitu terobsesi sama ketiak cerah dan mulus?
Jawabannya ternyata bukan cuma soal kebersihan, tapi juga body image pressure.
Dalam budaya populer dan media iklan, ketiak sering digambarkan sebagai simbol perempuan ideal putih, halus, bebas bulu. Akibatnya, muncul standar kecantikan baru yang kadang absurd. Kita diajak percaya kalau punya ketiak hitam itu malu, padahal itu reaksi alami kulit terhadap gesekan, hormon, atau bahkan genetik.
Shaving lalu jadi solusi instan, karena cepat dan mudah. Tapi di sisi lain, ia menciptakan siklus paradoks makin sering dicukur makin rusak skin barrier makin gelap makin insecure makin sering dicukur lagi. Loop tak berujung, literally. Dan di sini kita bisa lihat satu hal penting cara kita memperlakukan tubuh seringkali bukan karena kita sayang, tapi karena kita takut nggak diterima.
Antara Sains dan Self-Love
Buat kamu yang udah mulai mikir “terus aku harus gimana dong?”, tenang. Ada alternatif selain shaving.
dr. Pipim nyaranin metode sugar waxing, yaitu waxing pakai gula murni. Lebih alami, lebih lembut ke kulit, meski tetap ada risiko luka kecil atau perdarahan. Setelah waxing, bisa pakai antibiotik topikal untuk cegah infeksi.
Tapi intinya bukan cuma soal metode melainkan mindset. Ketiak hitam bukan dosa. Ia bukan tanda kamu jorok atau nggak merawat diri. Kadang itu cuma reaksi kulit terhadap gesekan, hormon, atau produk kimia yang terlalu keras.
Mungkin ini saatnya kita menggeser fokus dari harus putih dan licin ke harus sehat dan nyaman. Karena kulitmu bukan kanvas kosong buat standar orang lain, tapi sistem hidup yang perlu dijaga keseimbangannya.
Apa Dampaknya Buat Kamu?
Cukur boleh, waxing boleh, bahkan biarin tumbuh pun boleh asal kamu tahu kenapa kamu melakukannya. Apakah karena kamu pengin merasa bersih dan nyaman, atau karena takut dilihat nggak sempurna?
Ketiak gelap bukan hal yang perlu disembunyikan. Itu tanda kulitmu pernah bekerja keras melindungimu dari gesekan, keringat, dan pisau cukur tajam. Jadi kalau pun mau merawatnya, lakukan dengan kasih, bukan dengan benci.
Karena pada akhirnya, self care itu bukan soal menghapus apa yang kamu anggap kurang, tapi menghormati tubuhmu apa adanya termasuk bagian yang jarang kamu tunjukin di depan cermin. Real glow starts when you stop fighting your skin. Kapan terakhir kali kamu nyentuh kulitmu dengan niat baik, bukan kritik?
Mungkin dari ketiak, kita bisa belajar satu hal menerima diri itu juga bagian dari perawatan. @teguh




