Tabooo.id: Sports – Sorotan lampu, tepuk tangan, dan satu nama yang akhirnya berdiri paling tinggi Jay Idzes. Di tengah gegap gempita PSSI Awards 2026, Sabtu (28/03/2026), bek yang biasanya bekerja dalam diam itu justru jadi pusat perhatian. Bukan karena gol, melainkan konsistensi yang selama ini luput dari sorotan.
Jay Idzes resmi menyabet Men’s Player of The Year, mengungguli nama-nama seperti Rizky Ridho, Calvin Verdonk, Kevin Diks, hingga Yakob Sayuri. Ini bukan sekadar kemenangan individu. Lebih dari itu, ada pengakuan bahwa peran pemain belakang kini tak lagi dipandang sebelah mata.
Menang Tanpa Sensasi, Tapi Penuh Dampak
Dalam sepak bola modern yang sering memuja pencetak gol, kemenangan Idzes terasa seperti anomali yang menyegarkan. Ia bukan tipe pemain yang viral tiap pekan. Namun justru dari kestabilan itulah nilai utamanya lahir tenang, disiplin, dan minim kesalahan.
Penghargaan PT Freeport Indonesia Men’s Player of The Year yang ia raih menjadi simbol perubahan cara pandang. Kontribusi tak lagi diukur dari sorotan semata, tapi dari dampak nyata di lapangan.
Di sisi lain, dinamika nominasi sempat memunculkan keunikan tersendiri. Daftar pemain yang masuk menunjukkan betapa fleksibelnya peran dalam sepak bola modern batas posisi makin kabur, kualitas jadi ukuran utama.

Dari Laga Panas ke Malam Penghargaan
Sehari sebelum malam penghargaan, Idzes baru saja tampil solid saat Timnas Indonesia menang 4-0 atas Saint Kitts and Nevis di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Performa itu seperti penegasan: trofi ini datang dengan alasan yang jelas.
Saat menerima penghargaan, ia tetap rendah hati. “Sungguh terhormat mendapatkan penghargaan ini. Terima kasih kepada Erick Thohir, tim, dan semua yang bekerja di belakang layar.”
Ucapan itu terdengar sederhana, tapi penuh makna. Ia juga menegaskan peran keluarga dan rekan setim sebagai fondasi perjalanan kariernya.
Ratusan Ribu Suara, Satu Arah Baru
Antusiasme publik jadi cerita lain yang tak kalah penting. Lebih dari 790.000 suara masuk selama periode voting Januari hingga Maret.
Partisipasi ini menunjukkan bahwa sepak bola Indonesia bukan lagi milik federasi semata. Ada keterlibatan emosional dari fans dari voting online hingga titik offline seperti MRT Jakarta dan Garuda Official Store.
Dengan visi “Garuda Mendunia”, PSSI Awards berubah jadi lebih dari sekadar seremoni. Ini adalah panggung kolektif, tempat publik ikut menentukan arah cerita.
Lebih dari Trofi: Soal Cara Kita Menghargai Proses
Kemenangan Jay Idzes bukan hanya soal satu nama di atas panggung. Ada pesan yang lebih dalam di baliknya.
Peran pemain bertahan kini mendapat tempat yang layak. Kerja sunyi mulai dihargai setara dengan aksi spektakuler.
Sepak bola Indonesia perlahan belajar melihat proses, bukan hanya hasil. Di tengah dunia yang serba instan, cerita seperti ini terasa relevan.
Karena pada akhirnya, yang paling konsisten sering kali bukan yang paling ramai dibicarakan melainkan yang paling siap saat momen datang.
Lalu, kalau sepak bola saja mulai menghargai proses, kita masih mau terjebak pada hasil semata?. @teguh



