Tabooo.id: Deep – Pukul dua dini hari di Seturan, dan malam tidak benar-benar hadir. Lampu kos menyala terang, seolah siang enggan pergi. Motor meraung tanpa jeda, pintu besi berderit silih berganti, sementara tawa pecah dari balkon lantai dua. Di sebuah gang sempit, seorang warga tua berdiri di balik pagar. Ia memilih tetap di dalam, tetapi matanya terus mengawasi. Ia menghitung orang asing yang keluar-masuk bangunan seberang.
Sementara itu, Jogja yang selama ini menjual ketenangan justru menyimpan ironi di sudut timurnya. Seturan dan Babarsari tidak lagi sekadar kawasan mahasiswa. Kini, keduanya menjelma ruang abu-abu tempat batas antara kebebasan dan kekacauan semakin kabur.
Di negeri yang gemar bicara budaya, kebebasan kerap tumbuh liar tanpa arah. Akibatnya, banyak orang kehilangan batas.
Dari Kampung Tenang ke Mesin Urban
Awalnya, Seturan dan Babarsari hanya berupa padukuhan biasa di Caturtunggal, Depok, Sleman. Jalan masih sempit, bangunan belum padat, dan warga saling mengenal tanpa sekat. Mereka saling menyapa, berbagi cerita, dan menjaga lingkungan bersama.
Namun kemudian, kampus hadir dan mengubah ritme kawasan itu.
Mahasiswa berdatangan dari berbagai kota. Pada saat yang sama, kebutuhan tempat tinggal melonjak tajam. Para pemilik lahan melihat peluang, lalu membangun kos-kosan. Pada tahap awal, mereka tetap menetapkan aturan jelas: jam malam berlaku, tamu dibatasi, dan interaksi sosial tetap terjaga.
Akan tetapi, pasar terus bergerak.
Ketika permintaan meningkat, persaingan ikut memanas. Para pemilik kos menyesuaikan strategi. Mereka melonggarkan aturan, lalu menawarkan privasi sebagai nilai jual utama. Dari situlah istilah kos Las Vegas atau kos LV mulai dikenal luas.
Awalnya istilah itu terdengar seperti candaan. Namun praktiknya benar-benar ada dan terus berkembang.
Pengelola menghadirkan kos campur tanpa pengawasan ketat. Mereka menghapus banyak batas yang dulu dianggap penting. Bahkan, rasa sungkan perlahan menghilang dari ruang-ruang itu.
Kebebasan yang Dijual
Kos LV tidak lagi sekadar tempat tinggal. Ia berubah menjadi produk yang sengaja menyasar pasar tertentu.
Generasi urban datang dengan kebutuhan berbeda. Mereka tidak hanya mencari tempat tidur, tetapi juga ruang tanpa intervensi. Karena itu, mereka memilih tempat yang tidak banyak bertanya dan tidak banyak mengatur.
Penghuni ingin pulang kapan saja tanpa teguran. Mereka ingin membawa siapa saja tanpa sorotan. Mereka juga ingin menjalani hidup tanpa pengawasan lingkungan.
Namun, kondisi itu melahirkan ironi.
Alih-alih membangun komunitas, kebebasan justru menciptakan jarak. Penghuni menutup pintu rapat, menghindari interaksi, dan hidup sendiri-sendiri. Mereka tidak saling mengenal, apalagi saling peduli.
Akibatnya, wajah Jogja yang hangat mulai memudar setidaknya di kawasan ini.
Di sisi lain, pasar bergerak cepat. Semakin longgar aturan sebuah kos, semakin tinggi daya tariknya. Semakin sedikit batas, semakin besar peluang kamar terisi penuh.
Pada akhirnya, uang terus mengalir.
Label yang Mengikat
Seiring waktu, kebebasan yang tidak terkelola memicu gesekan. Keributan kecil muncul, lalu berulang. Perkelahian terjadi, konflik antar kelompok pecah, dan suasana memanas di waktu-waktu tertentu.
Memang, kejadian itu tidak berlangsung setiap hari. Namun frekuensinya cukup untuk membentuk pola.
Dari situ, masyarakat mulai memberi label: Gotham City.
Awalnya, sebutan itu hanya terdengar seperti guyonan. Namun lama-kelamaan, label tersebut menempel kuat dan membentuk persepsi.
Label tidak sekadar menggambarkan realitas ia ikut membentuknya.
Ketika orang menyebut sebuah tempat “bebas”, mereka yang mencari kebebasan akan datang. Sebaliknya, ketika sebuah kawasan dicap “liar”, energi yang hadir pun cenderung liar.
Dengan kata lain, stigma bekerja seperti magnet.
Kini, Seturan dan Babarsari terus mengulang cerita yang sama. Kebebasan, keributan, dan kecurigaan berjalan berdampingan.
Warga yang Kehilangan Ruang
Di tengah perubahan itu, suara warga asli semakin melemah.
Mereka tetap tinggal, tetapi mereka tidak lagi merasa sepenuhnya memiliki ruang. Rumah mereka masih berdiri, namun lingkungan di sekitarnya berubah drastis.
Dulu, mereka mengenali setiap orang yang lewat. Sekarang, wajah baru muncul setiap hari tanpa sapaan. Interaksi menghilang, dan ruang sosial terasa kosong.
Sebagian warga mencoba beradaptasi. Namun sebagian lainnya memilih diam, meski mereka tidak benar-benar menerima keadaan.
Mereka menghadapi dilema mempertahankan nilai lama atau mengikuti arus ekonomi. Dalam banyak kasus, arus ekonomi lebih kuat.
Karena pada akhirnya, uang menjadi penentu utama.
Peta Keuntungan
Jika ditelusuri, pola keuntungan di kawasan ini terlihat jelas.
Pemilik kos meraih pemasukan besar. Mereka menarik pasar dengan aturan longgar dan fasilitas yang mendukung kebebasan. Tingkat hunian tinggi, arus uang stabil.
Sementara itu, penghuni mendapatkan ruang privat sesuai keinginan mereka.
Pelaku usaha di sekitar ikut menikmati dampaknya. Warung makan buka hingga dini hari, jasa laundry meningkat, dan berbagai usaha pendukung tumbuh pesat.
Namun di sisi lain, warga sekitar menanggung beban.
Mereka menghadapi kebisingan, perubahan nilai sosial, dan rasa tidak aman yang perlahan muncul. Mereka tidak menikmati keuntungan besar, tetapi tetap harus beradaptasi setiap hari.
Di titik ini, Seturan dan Babarsari tidak lagi sekadar soal gaya hidup. Kawasan ini mencerminkan ketimpangan ruang yang nyata.
Regulasi yang Tertinggal
Fenomena ini tidak muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh karena celah yang terus terbuka.
Aturan tentang kos-kosan sebenarnya sudah tersedia. Namun pelaksanaannya sering tertinggal. Pengawasan lemah, sementara sanksi jarang diterapkan secara tegas.
Di sisi lain, pemerintah menghadapi dilema. Ketika mereka memperketat aturan, sebagian pihak menilai langkah itu menghambat ekonomi. Sebaliknya, ketika mereka membiarkan kondisi berjalan, masalah sosial terus membesar.
Akibatnya, banyak pihak membiarkan situasi berjalan tanpa arah jelas.
Padahal, kondisi yang tampak “alami” itu sebenarnya terbentuk dari pembiaran panjang.
Sikap Tabooo: Kebebasan Perlu Arah
Tabooo melihat Seturan dan Babarsari sebagai cermin kota yang retak.
Di satu sisi, kawasan ini menunjukkan energi anak muda dan pergerakan ekonomi yang dinamis. Namun di sisi lain, ia menyimpan ironi yang tidak bisa diabaikan.
Banyak pihak menjual kebebasan sebagai komoditas, tetapi mereka mengabaikan tanggung jawab sosial. Banyak orang menjadikan privasi sebagai alasan untuk menutup mata dari dampak lingkungan.
Kita sering merayakan kebebasan, tetapi jarang membicarakan batasnya.
Padahal, kebebasan tanpa arah bukan kemajuan. Ia hanya bentuk lain dari kekacauan yang belum diakui.
Ketika warga lokal mulai merasa asing di rumahnya sendiri, perubahan itu tidak lagi netral. Ia sudah berubah menjadi pergeseran.
Pertanyaan yang Menggantung
Seturan dan Babarsari akan terus tumbuh. Tidak ada yang bisa menghentikan laju itu.
Namun pertanyaannya tetap sama: tumbuh menjadi apa?
Apakah kawasan ini akan terus menjadi ruang tanpa wajah tempat orang datang dan pergi tanpa ikatan? Atau justru menemukan keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab?
Pada akhirnya, kota bukan hanya tentang bangunan atau bisnis.
Kota adalah tentang rasa memiliki.
Hari ini, di Seturan dan Babarsari, rasa itu mulai memudar perlahan, tetapi nyata. @dimas




