Tabooo.id: Edge – Bayangkan kamu lagi scroll TikTok, berharap menemukan resep hemat atau tips hidup sehat. Namun alih-alih itu, layar justru menampilkan seorang pria berjoget santai di dapur program negara. Bukan dapur biasa, melainkan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi ruang yang seharusnya steril, serius, dan jauh dari gimmick hiburan.
Plot twist-nya datang cepat. Pria itu dengan santai mengaku bisa meraup Rp6 juta per hari dari program tersebut. Seketika, publik bereaksi. Sebagian tertawa, sebagian geleng kepala, dan sisanya mulai bertanya: ini program gizi atau program afiliator?
Dari Gizi ke Goyang: Fakta yang Bikin Geleng Kepala
Video pria tersebut langsung menyebar luas di media sosial. Dalam satu rekaman, ia berjoget di ruangan berlogo Badan Gizi Nasional. Di video lain, ia kembali berjoget di dapur tanpa mengenakan alat pelindung diri yang layak.
Alih-alih menunjukkan standar kebersihan, konten itu justru menyerupai pembuka acara hiburan. Padahal, dapur tersebut menjadi bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar kebutuhan dasar masyarakat.
Menanggapi hal itu, Nanik S. Deyang langsung menyampaikan kekecewaannya. Ia menilai sikap mitra tersebut tidak mencerminkan tanggung jawab program.
Tim BGN kemudian turun langsung memeriksa lokasi. Mereka menemukan sejumlah pelanggaran, mulai dari tata letak dapur yang keliru hingga sistem pengolahan limbah yang tidak sesuai standar. Atas temuan itu, mereka segera menghentikan operasional dapur tersebut untuk sementara.
Negara Serius, Konten Santai?
Di titik ini, absurditas mulai terasa nyata.
Program makan bergizi hadir untuk masa depan anak-anak. Tujuannya jelas: memperbaiki kualitas gizi, meningkatkan kecerdasan, dan mengurangi ketimpangan. Namun di lapangan, sebagian pihak justru melihatnya sebagai peluang konten.
Kita hidup di era ketika hampir semua hal bisa dijadikan materi digital. Orang mengubah rutinitas sederhana menjadi konten. Bahkan program negara pun ikut terseret dalam logika yang sama.
Masalahnya bukan pada jogetnya. Masalah utamanya terletak pada konteks.
Ketika dapur publik berubah menjadi panggung pribadi, batas profesionalitas langsung kabur. Selain itu, saat seseorang menyebut angka Rp6 juta per hari dengan santai, publik mulai meragukan arah program. Apakah ini benar-benar program sosial, atau sudah bergeser menjadi ladang cuan?
Fakta lain memperkuat kegelisahan itu. Pria tersebut mengelola tujuh titik dapur SPPG. Satu dapur sudah berjalan, sementara enam lainnya masih dalam tahap persiapan. Artinya, persoalan ini bukan sekadar insiden viral, melainkan potensi masalah dalam skala lebih luas.
Antara Niat Baik dan Realita Lapangan
Di atas kertas, pemerintah merancang program MBG dengan niat yang jelas dan terukur. Namun dalam praktiknya, tantangan terbesar selalu muncul di tahap pelaksanaan.
Ketika pengawasan longgar sejak awal, celah langsung terbuka. Dari celah itulah muncul berbagai tafsir termasuk yang menjurus pada kepentingan pribadi. Akibatnya, program yang seharusnya menyasar kepentingan publik justru berisiko disalahgunakan.
Sementara itu, publik bergerak cepat merespons. Sebagian orang menyindir, sebagian lain mengkritik, dan tidak sedikit yang mulai skeptis. Polanya terasa familiar: setiap program besar sering kali menghadapi risiko yang sama berubah arah di tangan pelaksana.
Punchline: Gizi untuk Anak, Konten untuk Dewasa
Pada akhirnya, publik hanya menuntut hal sederhana program berjalan sesuai tujuan.
Program ini seharusnya memberi makan anak-anak, bukan memberi panggung viral. Ia dirancang untuk memperbaiki masa depan, bukan memperkaya narasi konten.
Karena itu, ketika dapur gizi berubah menjadi dance floor, satu pertanyaan sulit dihindari, apakah yang keliru sistemnya, pelaksananya, atau kita yang terlalu terbiasa menertawakan hal serius sampai lupa bahwa ini bukan sekadar hiburan? @dimas



