Rabu, Juli 29, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Becak yang Tak Pernah Pulang: Saat Kota Membiarkan Warganya Tidur di Jalan

by dimas
Maret 25, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Di setiap sudut dekat Pasar Klewer, seorang lelaki tua langsung merebahkan tubuhnya di atas becak yang seharian ia kayuh. Ia tidak menuju rumah, tidak membuka pintu, dan tidak menyalakan lampu. Sebaliknya, ia berhenti di tempat yang sama di jalan yang terus dilalui orang lain.

Saat siang berubah menjadi malam, suasana kota ikut berganti. Keramaian yang tadi terasa hangat mendadak menjauh, lalu menyisakan ruang asing yang dingin. Becak itu pun kehilangan fungsi utamanya. Ia tak lagi mengantar orang, melainkan menampung tubuh yang kelelahan. Besi dingin menggantikan kasur, sementara roda menjadi batas sempit yang memisahkan ruang pribadi dari kerasnya jalanan.

Di tengah kota yang terus bergerak maju, sebagian orang justru berhenti di tempat yang sama tanpa pilihan untuk pulang.

Becak yang Tak Pernah Pulang: Saat Kota Membiarkan Warganya Tidur di Jalan
Becak berisi barang pribadi terparkir di sekitar Pasar Klewer, menjadi ruang hidup sekaligus tempat tidur tukang becak.

Siang yang Gemerlap, Malam yang Membuka Luka

Pada siang hari, Surakarta menampilkan wajah terbaiknya. Wisatawan memenuhi kawasan pasar, transaksi batik berlangsung cepat, dan geliat ekonomi terasa hidup. Kota tampak percaya diri sebagai pusat budaya yang terus berkembang.

Namun ketika malam turun, realitas yang berbeda perlahan muncul.

Ini Belum Selesai

Kabinet Bayangan: Alarm Demokrasi di Tengah Minimnya Oposisi

MBG Dilarang Pakai Subsidi, Siapa Menanggung Selisih Biayanya?

Setelah toko-toko menutup dan keramaian mereda, beberapa tukang becak tetap bertahan di lokasi yang sama. Mereka tidak pulang bukan karena memilih, melainkan karena tidak memiliki tempat untuk kembali. Selain itu, jarak kampung yang jauh dan ongkos yang mahal mempersempit pilihan. Di saat yang sama, penghasilan harian sering kali hanya cukup untuk makan, bukan untuk menyewa tempat tinggal.

Akibatnya, becak mengalami perubahan makna. Ia tidak lagi sekadar alat transportasi, tetapi menjadi ruang terakhir untuk bertahan hidup.

Rumah yang Rapuh di Atas Roda

Dalam kondisi seperti itu, becak berubah menjadi rumah darurat yang tidak pernah benar-benar aman. Tubuh harus menyesuaikan ruang sempit, kaki terlipat, dan punggung bersandar pada rangka besi. Sementara itu, barang-barang pribadi digantung seadanya, tanpa jaminan akan tetap utuh hingga pagi.

Ketika hujan turun, mereka mengandalkan terpal tipis sebagai pelindung. Namun air tetap merembes, angin tetap menembus, dan dingin tetap terasa. Tidak ada dinding yang kokoh, tidak ada atap yang benar-benar melindungi.

Akhirnya, mereka tidur di ruang terbuka di bawah lampu jalan, di antara suara kendaraan yang tak pernah benar-benar hilang. Di titik ini, ironi terasa begitu nyata: becak yang dulu mengantar orang menuju rumah kini justru menjadi rumah yang paling rentan.

Kota Bergerak Cepat, Sebagian Orang Tertinggal

Sementara itu, perubahan kota berlangsung cepat. Transportasi berbasis aplikasi mengambil alih jalan, kendaraan bermotor mendominasi ruang, dan efisiensi menjadi ukuran utama. Sekilas, semua tampak sebagai kemajuan.

Namun di balik percepatan tersebut, ada kelompok yang tidak ikut bergerak.

Tukang becak kehilangan peran dalam sistem baru. Mereka tidak terhubung dengan teknologi, tidak masuk dalam perencanaan transportasi modern, dan tidak memiliki cukup akses untuk beradaptasi. Akibatnya, ruang mereka semakin sempit, peluang semakin kecil, dan keberadaan mereka perlahan memudar.

Meski tidak ada penggusuran fisik, dampaknya tetap terasa. Sistem baru menggantikan yang lama tanpa menyediakan jembatan bagi mereka yang tertinggal. Dengan kata lain, kota memang bergerak maju, tetapi tidak semua orang diajak ikut.

Tubuh yang Terus Dipaksa Bertahan

Di sisi lain, usia menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari. Sebagian besar tukang becak telah melewati masa produktif. Tubuh mereka menyimpan kelelahan panjang, sementara tenaga semakin berkurang.

Meski begitu, mereka tetap bekerja setiap hari. Mereka tidak memiliki banyak pilihan, sehingga bertahan menjadi satu-satunya jalan yang tersedia. Beralih pekerjaan membutuhkan keterampilan baru, sedangkan waktu dan kondisi tidak memberi ruang untuk memulai kembali.

Lebih jauh lagi, malam tidak benar-benar memberi istirahat. Tidur di atas becak membuat tubuh tetap siaga, sehingga rasa aman tidak pernah utuh. Akibatnya, kelelahan tidak pernah benar-benar hilang, melainkan terus terbawa ke hari berikutnya.

Tradisi Dijual, Pelaku Dilupakan

Di satu sisi, becak kerap ditampilkan sebagai simbol tradisi kota. Ia hadir dalam foto promosi, materi wisata, dan narasi tentang keaslian budaya. Kota memanfaatkan citra tersebut untuk memperkuat identitasnya.

Namun di sisi lain, para tukang becak tidak menikmati manfaat dari citra itu.

Mereka tetap berada di posisi paling rentan. Tidak ada integrasi yang kuat dengan sektor pariwisata, tidak ada perlindungan yang memadai, dan tidak ada sistem yang menjamin keberlanjutan hidup mereka. Dengan demikian, tradisi hanya dipertahankan sebagai simbol, sementara pelakunya dibiarkan berjuang sendiri.

Kebijakan yang Tidak Menjangkau Jalanan

Berbagai program pemberdayaan sebenarnya sering dibahas. Pemerintah mengangkat isu sektor informal dalam forum resmi, menawarkan pelatihan, bantuan sosial, hingga rencana integrasi transportasi tradisional.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan hal berbeda.

Tukang becak masih berada di posisi yang sama. Mereka jarang merasakan dampak nyata dari kebijakan tersebut. Selain itu, tidak tersedia ruang khusus yang benar-benar melindungi mereka, dan tidak ada sistem yang memasukkan mereka ke dalam solusi kota.

Akibatnya, kebijakan tampak hadir secara konsep, tetapi tidak terasa dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kondisi ini terus berulang, masalah yang sama pun terus bertahan tanpa perubahan berarti.

Sikap Tabooo: Ketika Kota Kehilangan Rasa Malu

Fenomena ini seharusnya menjadi cermin yang mengganggu. Di kota yang terus mempercantik diri, keberadaan manusia yang tidur di atas alat kerjanya sendiri menunjukkan celah besar dalam pembangunan.

Masalah ini bukan sekadar ekonomi, melainkan soal cara pandang. Ketika becak berubah menjadi rumah, itu bukan tanda kreativitas, melainkan bukti bahwa sistem gagal melindungi semua warganya.

Karena itu, ukuran kemajuan tidak cukup dilihat dari infrastruktur atau jumlah wisatawan. Sebaliknya, kota harus dinilai dari bagaimana ia memperlakukan kelompok paling rentan. Tanpa ruang hidup yang layak, semua klaim kemajuan kehilangan makna.

Pertanyaan yang Terus Menggantung

Menjelang larut malam, kawasan sekitar Pasar Klewer kembali sunyi. Lampu jalan tetap menyala, tetapi kehidupan sebagian orang menyempit di atas roda yang sama.

Keesokan paginya, mereka akan bangun di tempat yang sama, lalu mengulang hari yang serupa. Sementara itu, kota kembali ramai, transaksi kembali berlangsung, dan wisatawan kembali berdatangan.

Namun satu pertanyaan tetap tertinggal dan sulit diabaikan, jika sebuah kota membiarkan warganya hidup dan tidur di atas roda, apakah kota itu benar-benar sedang bergerak maju? @dimas

Tags: IroniJalananKemiskinanKotaKrisis GlobalManusiaPasar KlewerPerkotaanRealitaSoloSuara

Kamu Melewatkan Ini

Tank Bisa Ditunda, Lapar Nggak Bisa Disuruh Antre

Tank Bisa Ditunda, Lapar Nggak Bisa Disuruh Antre

by teguh
Juli 19, 2026

Satu tanda tangan mampu menggeser miliaran rupiah dalam APBN. Namun, satu pidato tidak pernah bisa mengenyangkan perut rakyat karena lapar...

Senjata atau Perut Rakyat? Dilema Negara Anggaran Pertahanan Masuk Meja Efisiensi

Senjata atau Perut Rakyat? Dilema Negara Anggaran Pertahanan Masuk Meja Efisiensi

by teguh
Juli 18, 2026

Ketika Presiden RI Prabowo Subianto membuka opsi mengurangi anggaran pertahanan demi memberantas kemiskinan, negara menghadapi pertanyaan besar keamanan itu soal...

Prabowo Bidik Efisiensi Pertahanan: Kesiapan TNI Dipertaruhkan?

Prabowo Bidik Efisiensi Pertahanan: Kesiapan TNI Dipertaruhkan?

by teguh
Juli 18, 2026

Presiden Prabowo membuka kemungkinan mengurangi anggaran pertahanan dan kepolisian demi melawan kemiskinan. Komisi I DPR mendukung efisiensi, tetapi mengingatkan negara...

Next Post
Rp6 Juta Sehari dari Dapur Gizi: Program Sosial atau Ladang Cuan?

Joget Rp6 Juta Sehari: Program Sosial atau Ladang Cuan?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id