Rabu, Agustus 26, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kenapa Jemuran di Bali Nggak Boleh Tinggi?

by eko
Maret 25, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Talk – Pernah nggak sih kamu jalan di gang perumahan Bali lalu tiba-tiba mikir: “Kok jemurannya pendek-pendek ya?” Nggak menjulang tinggi seperti di kota besar. Nggak ada celana melambai setinggi kepala.

Kebetulan? Estetika? Atau ada aturan yang lebih dalam?

Nah, di sinilah obrolan kita mulai seru. Ini bukan sekadar urusan jemur baju, tapi cara manusia memaknai hidup.

Jemuran dan Cara Kita Memaknai “Atas” dan “Bawah”

Orang Bali khususnya umat Hindu memegang prinsip sederhana: kepala itu suci. Sebaliknya, mereka tetap menganggap pakaian, meski sudah dicuci, sebagai sesuatu yang “leteh” secara spiritual.

Karena itu, mereka membatasi tinggi jemuran. Mereka menjemur pakaian maksimal setinggi dada, bukan kepala. Dengan cara ini, mereka menjaga posisi simbolis kesucian tetap di atas.

Ini Belum Selesai

Demo 27 Agustus dan Perebutan Narasi tentang Rakyat

Motor Boleh Beda, Solidaritas Jangan Hilang

Sekarang bandingkan dengan kebiasaan kita. Banyak orang menggantung baju di mana saja. Kita fokus pada kepraktisan, bukan makna. Kita jarang memikirkan posisi sebagai sesuatu yang penting.

Jadi, kita perlu bertanya: kita yang terlalu santai, atau mereka yang lebih sadar?

Bukan Sekadar Jemur, Tapi Tata Krama Ruang

Selain tinggi, orang Bali juga mengatur susunan pakaian. Mereka menaruh baju dan udeng di bagian atas, lalu menempatkan celana serta pakaian dalam di bagian bawah.

Logikanya jelas. Mereka menempatkan bagian yang “dekat dengan kepala” di posisi lebih tinggi.

Sebaliknya, dalam keseharian kita, kita sering mencampur semuanya tanpa urutan. Kita mengejar kecepatan, sementara kita mengabaikan simbol.

Selain itu, mereka juga memilih lokasi jemuran dengan hati-hati. Mereka menghindari area tengah halaman dan depan pintu masuk. Sebagai gantinya, mereka meletakkan jemuran di sudut yang lebih tersembunyi.

Alasannya sederhana. Orang Bali memandang rumah bukan sekadar tempat tinggal. Mereka menjaga pelinggih sebagai ruang suci. Karena itu, mereka tetap menjaga etika, bahkan saat menjemur pakaian.

Lalu, Soal Lewat di Bawah Jemuran

Di titik ini, banyak orang luar mulai heran. Mengapa orang Bali melarang lewat di bawah jemuran?

Masyarakat Bali melihat larangan ini sebagai pengingat. Mereka ingin setiap orang sadar posisi. Mereka mengajarkan bahwa tubuh—terutama kepala—harus dihormati.

Selain itu, sebagian masyarakat juga percaya bahwa kebiasaan ini bisa memicu sakit kepala.

Kedengarannya mistis? Mungkin. Namun, kalau kita melihat lebih dalam, aturan ini melatih disiplin sejak dini. Orang tua mengawasi anak-anak agar tidak sembarangan bergerak. Mereka menanamkan rasa hormat lewat kebiasaan kecil.

Menariknya, di era modern kita sering membahas “mindfulness”. Sementara itu, budaya ini sudah mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Perspektif Lain: Ribet atau Justru Punya Makna?

Sekarang mari kita jujur. Dari sudut pandang modern, aturan ini memang bisa terasa ribet. Detailnya banyak, batasannya jelas.

Di sisi lain, kehidupan sekarang menuntut kecepatan. Kita mengejar efisiensi. Kita mengutamakan hal-hal praktis.

Selain itu, kondisi ruang juga sering memaksa kita untuk fleksibel. Balkon sempit atau hunian kecil membuat kita tidak punya banyak pilihan.

Karena itu, sebagian orang menganggap aturan ini tidak relevan.

Namun, kita perlu bertanya lagi: kita menolak karena memang tidak cocok, atau karena kita tidak terbiasa hidup dengan batas?

Tabooo Take: Ini Bukan Soal Jemuran, Ini Soal Kesadaran

Kalau kita tarik lebih jauh, aturan jemuran ini berbicara tentang kesadaran.

Orang Bali tidak sekadar menjemur pakaian. Mereka menjaga hubungan antara tubuh, ruang, dan nilai spiritual.

Sebaliknya, kita sering mengejar kecepatan. Kita fokus pada fungsi. Kita melupakan makna.

Tentu, kita tidak harus meniru semuanya. Namun, kita bisa mengambil pelajaran.

Kita bisa mulai lebih sadar. Kita bisa mulai menghargai hal kecil. Kita bisa mulai bertanya: apa yang sebenarnya kita anggap penting?

Pada akhirnya, cara kita memperlakukan hal sederhana mencerminkan cara kita menjalani hidup.

Jadi, saat kamu melihat jemuran rendah di Bali, jangan buru-buru menganggapnya aneh.

Sebaliknya, coba pikirkan: selama ini, apa yang kamu tempatkan “di atas kepala”?

Lalu, kamu di kubu mana. @eko

Tags: baliEtikaTalk

Kamu Melewatkan Ini

Keracunan MBG: Apa yang Harus Jadi Prioritas?

Keracunan MBG: Apa yang Harus Jadi Prioritas?

by eko
Agustus 6, 2026

Program Makan Bergizi Gratis tidak cukup mengejar target distribusi. Kasus keracunan memunculkan pertanyaan: apakah keamanan pangan benar-benar menjadi prioritas? Tabooo.id...

Pencuri Ayam, Amuk Massa dan Tangis Anak Kehilangan Ayahnya

Pencuri Ayam, Amuk Massa dan Tangis Anak Kehilangan Ayah

by dimas
Juli 27, 2026

Terduga pencuri ayam tewas diamuk massa di Tabanan, Bali. Di balik tragedi itu, jeritan tangis seorang anak yang kehilangan ayahnya...

NIK Bocor, OTP Jebol: Salah Hacker atau Negara Terlambat?

NIK Bocor, OTP Jebol: Salah Hacker atau Negara Terlambat?

by teguh
Mei 17, 2026

Pernah tiba-tiba dapat OTP padahal kamu tidak login apa-apa? Atau mendadak muncul SMS pinjaman yang tidak pernah kamu ajukan? Kalau...

Next Post
Jalan Santai Bukan Sekadar Jalan: Cara Banjar Legian Kulod Merawat Rasa Jadi “Kita”

Jalan Santai Bukan Sekadar Jalan: Cara Banjar Legian Kulod Merawat Rasa Jadi “Kita”

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id