Tabooo.id: Bisnis – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini melemah setelah investor merespons ketegangan geopolitik di Teluk Persia dan lonjakan harga minyak global. Pada pembukaan perdagangan Jumat (13/3/2026), IHSG berada di posisi 7.338,824.
Data RTI hingga pukul 09.23 WIB menunjukkan indeks turun 63,270 poin atau 0,86 persen ke level 7.298,847. IHSG sempat menyentuh level tertinggi 7.350 dan terendah 7.283. Dari total 705 saham yang diperdagangkan, 147 saham menguat, 430 saham melemah, dan 128 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp1,942 triliun dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp13.027,970 triliun dari 5.081 miliar saham yang beredar.
Dampak Pelemahan Pasar Global
Analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) menyoroti dampak pelemahan pasar saham Amerika pada IHSG. Pada perdagangan kemarin, 12 Maret 2026, indeks S&P 500 turun 1,52 persen, Nasdaq melemah 1,78 persen, dan Dow Jones turun 1,56 persen. Kekhawatiran investor meningkat karena konflik di Teluk Persia memanas, dan ketidakpastian mengenai kapan perang akan berakhir semakin menekan sentimen global.
Harga Brent Oil menembus USD100 per barel setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup sebagai tekanan terhadap negara pesaing. Lonjakan ini meningkatkan potensi biaya produksi, sehingga sektor industri dan transportasi menjadi paling terdampak.
Kondisi Pasar Saham Domestik
Di dalam negeri, IHSG pada 12 Maret 2026 tercatat melemah 0,37 persen dengan likuiditas Rp11,7 triliun, lebih rendah dari hari sebelumnya. Menurut KISI, “Dengan kondisi geopolitik yang meningkat, IHSG hari ini kemungkinan kembali melemah. Support berada di level 7.280, sementara harga Brent Oil pagi ini sudah naik 10 persen.”
Investor di pasar saham Indonesia kini menghadapi tekanan berlapis. Ketegangan regional dan lonjakan harga energi global berpotensi menekan laba perusahaan dan daya beli masyarakat. Pelaku pasar harus bergerak cepat untuk menyesuaikan strategi karena volatilitas bisa menjerat siapa pun yang terlambat membaca arah sentimen.
Pasar saham tidak pernah tidur. Ketika geopolitik menjadi sandungan, keuntungan dan risiko bergerak bersamaan, dan hanya investor yang cermat yang bisa tetap bertahan di tengah badai global. @dimas




