Kamis, Juli 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mercon Bumbung: Ledakan Tradisi yang Melekat di Ramadan

by dimas
Februari 23, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Pernah nggak sih, pas lagi ngabuburit, kamu mendengar suara “boom” keras dari ujung gang atau halaman rumah tetangga, lalu tersenyum geli sambil menebak-nebak siapa yang menyalakan meriam bambu itu? Yup, itu dia mercon bumbung, permainan tradisional yang bikin Ramadan makin berwarna, sekaligus menyimpan sejarah panjang yang sering terlupakan.

Dari Meriam Portugis ke Bambu Lokal

Di balik ledakan bambu yang menggelegar itu, ternyata ada kisah akal dan keberanian masyarakat Nusantara zaman dulu. Ulul Azmi, pengasuh Pondok Pesantren Rakyat Kota Batu, Malang, Jawa Timur, menjelaskan bahwa mercon bumbung muncul saat Portugis tiba di Nusantara abad ke-16. Bangsa Eropa membawa meriam dengan suara keras dan api yang menakutkan.

Warga pribumi yang belum mengenal meriam asli pun tak tinggal diam. Dengan kreativitas, mereka membuat versi lokal: bambu panjang diisi minyak tanah, lalu disulut api hingga meletus dengan suara nyaring. Meski tak sekeras meriam Portugis, ledakan bambu ini cukup membuat tetangga terkejut dan anak-anak girang. Inovasi sederhana ini menunjukkan bagaimana masyarakat menyalurkan rasa ingin tahu, keberanian, dan kesenangan dalam satu alat main.

Dari Tradisi ke Ramadan

Nah, kenapa mercon bumbung sekarang identik dengan Ramadan? Ternyata, ini adalah hasil akulturasi budaya. Warga Tionghoa di Nusantara punya kebiasaan menyalakan petasan saat perayaan besar. Masyarakat Muslim kemudian mengadaptasi ide ini untuk bulan Ramadan, menjadikan meriam bambu sebagai pengiring waktu berbuka atau sahur. Bunyi ledakan mercon bumbung kini tak hanya hiburan anak-anak, tapi juga simbol perayaan dan kebersamaan komunitas.

Nama Beragam, Tradisi Sama

Serunya, tiap daerah punya sebutan unik untuk mercon bumbung. Di Jawa, dikenal dengan nama mercon bumbung, sementara di Minangkabau disebut meriam betung atau badia batuang. Bangka punya bedil bambu, Banten dan Sunda bilang bebeledugan, Aceh menyebut Te’t Beude Trieng, dan Gorontalo menamainya bunggo.

Ini Belum Selesai

Londo Ireng: Ketika Sejarah Menjadi Senjata Politik

Rumah Dinas Bakorwil: Sejarah Madiun yang Terlupakan

Kebiasaan bermain pun berbeda-beda: di Aceh dan Gorontalo, meriam bambu dinyalakan menjelang sahur untuk membangunkan warga. Di Minangkabau, anak-anak berjejer di tepian sungai menunggu berbuka, saling menyalakan meriam bambu sambil tertawa riang. Tradisi sederhana ini jadi pengikat sosial, memberi identitas lokal dan kenangan kolektif bagi generasi muda.

Makna Budaya yang Tetap Hidup

Sekarang, mercon bumbung bukan sekadar suara keras dan ledakan singkat. Ia mewakili kreativitas lokal, akulturasi budaya, dan kebersamaan masyarakat. Anak-anak yang menyalakan meriam bambu belajar tentang kesabaran, keberanian, dan tanggung jawab. Orang dewasa melihatnya sebagai pengingat masa kecil dan ritual sosial yang menyatukan tetangga.

Di era digital ini, suara mercon bumbung sering terdengar bersaing dengan notification ponsel dan musik viral. Tapi ritual fisik ini tetap punya tempat di hati masyarakat, membuktikan bahwa budaya tradisional mampu bertahan meski zaman berubah. Ia menjadi simbol sederhana bahwa kearifan lokal dan identitas budaya bisa hidup berdampingan dengan modernitas.

Refleksi Tabooo

Mercon bumbung mengingatkan kita bahwa budaya tidak hanya soal artefak atau adat tertulis. Ia hidup lewat pengalaman, suara, dan interaksi sosial. Setiap ledakan bambu adalah metafora kecil tentang sejarah, kreativitas, dan keberanian masyarakat Nusantara. Saat anak-anak tersenyum setelah menyalakan mercon, mereka tak hanya bermain, tapi juga menghidupkan warisan yang penuh makna.

Jadi, ketika Ramadan datang, jangan cuma sibuk dengan gadget atau tren kuliner viral. Ambil bambu, nyalakan mercon, dan dengarkan suara sejarah yang bergaung dari masa ke masa. Karena dalam setiap letupan, ada cerita, ada tradisi, dan ada tawa yang menempel di memori generasi. Mercon bumbung, sederhana tapi berisi seperti Ramadan itu sendiri. @dimas

Tags: AnakBudayaLokalNasionalNostalgiapermainanRamadanSenjaTradisional

Kamu Melewatkan Ini

Haul Ki Ageng Tarub: Perkuat Simbol Budaya dan Wisata Religi

Haul Ki Ageng Tarub: Perkuat Budaya dan Wisata Religi

by dimas
Juli 29, 2026

Haul Ki Ageng Tarub di Grobogan memperkuat pelestarian budaya dan wisata religi melalui kirab budaya, rebutan gunungan, wilujengan, dan nyadran....

Nama Jampidsus Disebut, Febrie Pertanyakan Kaitannya dengan Blackout PLN

Nama Jampidsus Disebut, Febrie Pertanyakan Kaitannya dengan Blackout PLN

by Tabooo
Juli 11, 2026

Nama Jampidsus Febrie Adriansyah ikut disebut dalam pusaran pengusutan dugaan korupsi BUMN. Ia mempertanyakan kaitannya dengan kasus blackout PLN yang...

Barikan Warnai Pengetan Adeging Nagari Kraton Surakarta

Barikan Warnai Pengetan Adeging Nagari Kraton Surakarta

by dimas
Juli 4, 2026

Barikan mewarnai Pengetan Adeging Nagari Kraton Surakarta sebagai simbol syukur, keselamatan, dan pelestarian filosofi budaya Jawa. Tabooo.id: Surakarta - Kraton...

Next Post
Presiden Meksiko Apresiasi Operasi Militer Tewaskan Bos Kartel CJNG

Presiden Meksiko Apresiasi Operasi Militer Tewaskan Bos Kartel CJNG

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id