Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mercon Bumbung: Ledakan Tradisi yang Melekat di Ramadan

by dimas
Februari 23, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Pernah nggak sih, pas lagi ngabuburit, kamu mendengar suara “boom” keras dari ujung gang atau halaman rumah tetangga, lalu tersenyum geli sambil menebak-nebak siapa yang menyalakan meriam bambu itu? Yup, itu dia mercon bumbung, permainan tradisional yang bikin Ramadan makin berwarna, sekaligus menyimpan sejarah panjang yang sering terlupakan.

Dari Meriam Portugis ke Bambu Lokal

Di balik ledakan bambu yang menggelegar itu, ternyata ada kisah akal dan keberanian masyarakat Nusantara zaman dulu. Ulul Azmi, pengasuh Pondok Pesantren Rakyat Kota Batu, Malang, Jawa Timur, menjelaskan bahwa mercon bumbung muncul saat Portugis tiba di Nusantara abad ke-16. Bangsa Eropa membawa meriam dengan suara keras dan api yang menakutkan.

Warga pribumi yang belum mengenal meriam asli pun tak tinggal diam. Dengan kreativitas, mereka membuat versi lokal: bambu panjang diisi minyak tanah, lalu disulut api hingga meletus dengan suara nyaring. Meski tak sekeras meriam Portugis, ledakan bambu ini cukup membuat tetangga terkejut dan anak-anak girang. Inovasi sederhana ini menunjukkan bagaimana masyarakat menyalurkan rasa ingin tahu, keberanian, dan kesenangan dalam satu alat main.

Dari Tradisi ke Ramadan

Nah, kenapa mercon bumbung sekarang identik dengan Ramadan? Ternyata, ini adalah hasil akulturasi budaya. Warga Tionghoa di Nusantara punya kebiasaan menyalakan petasan saat perayaan besar. Masyarakat Muslim kemudian mengadaptasi ide ini untuk bulan Ramadan, menjadikan meriam bambu sebagai pengiring waktu berbuka atau sahur. Bunyi ledakan mercon bumbung kini tak hanya hiburan anak-anak, tapi juga simbol perayaan dan kebersamaan komunitas.

Nama Beragam, Tradisi Sama

Serunya, tiap daerah punya sebutan unik untuk mercon bumbung. Di Jawa, dikenal dengan nama mercon bumbung, sementara di Minangkabau disebut meriam betung atau badia batuang. Bangka punya bedil bambu, Banten dan Sunda bilang bebeledugan, Aceh menyebut Te’t Beude Trieng, dan Gorontalo menamainya bunggo.

Ini Belum Selesai

Dari Kelapa ke Sawit: Siapa yang Mengubah Isi Wajan Kita?

Silat Panglipur: Sejarah, Filosofi dan Warisan Abah Aleh

Kebiasaan bermain pun berbeda-beda: di Aceh dan Gorontalo, meriam bambu dinyalakan menjelang sahur untuk membangunkan warga. Di Minangkabau, anak-anak berjejer di tepian sungai menunggu berbuka, saling menyalakan meriam bambu sambil tertawa riang. Tradisi sederhana ini jadi pengikat sosial, memberi identitas lokal dan kenangan kolektif bagi generasi muda.

Makna Budaya yang Tetap Hidup

Sekarang, mercon bumbung bukan sekadar suara keras dan ledakan singkat. Ia mewakili kreativitas lokal, akulturasi budaya, dan kebersamaan masyarakat. Anak-anak yang menyalakan meriam bambu belajar tentang kesabaran, keberanian, dan tanggung jawab. Orang dewasa melihatnya sebagai pengingat masa kecil dan ritual sosial yang menyatukan tetangga.

Di era digital ini, suara mercon bumbung sering terdengar bersaing dengan notification ponsel dan musik viral. Tapi ritual fisik ini tetap punya tempat di hati masyarakat, membuktikan bahwa budaya tradisional mampu bertahan meski zaman berubah. Ia menjadi simbol sederhana bahwa kearifan lokal dan identitas budaya bisa hidup berdampingan dengan modernitas.

Refleksi Tabooo

Mercon bumbung mengingatkan kita bahwa budaya tidak hanya soal artefak atau adat tertulis. Ia hidup lewat pengalaman, suara, dan interaksi sosial. Setiap ledakan bambu adalah metafora kecil tentang sejarah, kreativitas, dan keberanian masyarakat Nusantara. Saat anak-anak tersenyum setelah menyalakan mercon, mereka tak hanya bermain, tapi juga menghidupkan warisan yang penuh makna.

Jadi, ketika Ramadan datang, jangan cuma sibuk dengan gadget atau tren kuliner viral. Ambil bambu, nyalakan mercon, dan dengarkan suara sejarah yang bergaung dari masa ke masa. Karena dalam setiap letupan, ada cerita, ada tradisi, dan ada tawa yang menempel di memori generasi. Mercon bumbung, sederhana tapi berisi seperti Ramadan itu sendiri. @dimas

Tags: AnakBudayaLokalNasionalNostalgiapermainanRamadanSenjaTradisional

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

Ketika Sound Horeg Jadi Soal Kuasa: Siapa Berhak Menentukan Batas?

by teguh
September 10, 2026

Polemik “goblok” hanya permukaan. Di bawahnya ada benturan antara kebebasan, kenyamanan publik, otoritas, dan negara. Kata “goblok” tiba-tiba masuk ke...

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

Wanita Menempa Keris: Ia Diwariskan. Lalu Siapa Pewaris Berikutnya?

by teguh
September 3, 2026

Sisil meninggalkan dunia penerbangan untuk menempa keris. Pilihan itu membawa pertanyaan lebih besar siapa yang akan menjaga pengetahuan leluhur ketika...

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

by Tabooo
September 1, 2026

Kementerian Kebudayaan merilis lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Lebih dari 5.000 halaman membawa pembaca dari...

Next Post
Presiden Meksiko Apresiasi Operasi Militer Tewaskan Bos Kartel CJNG

Presiden Meksiko Apresiasi Operasi Militer Tewaskan Bos Kartel CJNG

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id