Selasa, Juni 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Restorative Justice Ditolak, Nenek Elina Pilih Lawan di Meja Hukum

by dimas
Februari 19, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Langkah damai yang ditawarkan Samuel Ardi Kristanto kepada Nenek Elina Widjajanti (80) kandas. Perempuan lansia itu menolak restorative justice dan memilih melanjutkan proses hukum dugaan pemalsuan dokumen tanah yang menyeret namanya. Ia tidak hanya kehilangan rumah. Ia juga kehilangan barang, kenangan, dan rasa aman di usia senja.

Keputusan itu menegaskan satu hal: bagi Nenek Elina, ini bukan sekadar perkara bangunan. Ini soal martabat dan kepastian hukum.

Tawaran Damai Datang Setelah Rumah Lebur

Kasus ini bermula dari peristiwa Agustus 2025, ketika Samuel bersama tiga orang lainnya Muhammad Yasin, Klowor, dan WE mendatangi rumah Nenek Elina. Mereka mengusir penghuni dan merobohkan bangunan secara paksa. Polisi kemudian menetapkan keempatnya sebagai tersangka kasus kekerasan dan menahan mereka di Polda Jawa Timur.

Setelah kasus berjalan, Samuel mengubah pendekatan. Ia mengajukan restorative justice. Ia menawarkan membangun ulang rumah yang telah dirobohkan. Ia juga berjanji mengembalikan nama kepemilikan tanah di dokumen Letter C menjadi milik keluarga Nenek Elina.

Secara hukum, tawaran itu membuka peluang damai. Secara manusiawi, tawaran itu terdengar seperti penebusan. Namun, bagi korban, luka yang ditinggalkan tidak sesederhana tembok yang bisa dibangun ulang.

Ini Belum Selesai

Danantara Libatkan KPK Sebelum Hilirisasi Dimulai, Tata Kelola Jadi Sorotan

Beras Sulit Laku, Mentan Bicara Produksi Melimpah, Pedagang Soroti Daya Beli

Barang Hilang, Kepercayaan Ikut Runtuh

Kuasa hukum Nenek Elina, Wellem Mintarja, menyampaikan penolakan tegas di hadapan penyidik Polda Jatim.

Ia menjelaskan bahwa kliennya keberatan karena bukan hanya rumah yang hilang. Barang-barang milik penghuni rumah ikut lenyap. Tidak ada jaminan semua kerugian akan kembali.

“Kami sudah jelaskan kepada nenek dan penghuni rumah. Pada prinsipnya, kami keberatan dan menolak,” ujar Wellem, Kamis (19/2/2026).

Penolakan itu menunjukkan bahwa restorative justice tidak selalu menjadi jawaban. Ketika korban merasa kerugian melampaui materi, jalur hukum menjadi satu-satunya cara mencari keadilan.

Dugaan Pemalsuan yang Mengubah Nama Tanah

Masalah yang lebih besar justru terletak pada dokumen kepemilikan tanah.

Nenek Elina melaporkan dugaan pemalsuan setelah Samuel mengklaim telah membeli tanah tersebut. Ia bahkan mengubah Letter C menjadi atas namanya.

Menurut Wellem, perubahan itu memicu kejanggalan serius.

Sejak 2014, Samuel mengklaim memiliki dokumen. Namun, Letter C tanah tersebut seharusnya tetap atas nama Elisa Irawati, kakak Nenek Elina, yang meninggal pada 2017.

Perubahan baru muncul pada 2025. Nama dalam Letter C tiba-tiba dicoret dan diganti.

Perubahan itu bersandar pada akta jual beli. Namun, pihak keluarga mempertanyakan keabsahannya karena tidak pernah memberikan persetujuan.

Di sinilah konflik berubah dari sengketa menjadi dugaan tindak pidana.

Lansia Berhadapan dengan Sistem

Kini, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jatim terus menyelidiki kasus tersebut. Penyidik telah memeriksa sedikitnya 15 saksi. Proses hukum masih berjalan.

Pihak Nenek Elina menolak kompromi. Mereka memilih jalur hukum demi mendapatkan kepastian.

“Kami memilih melanjutkan supaya ada kepastian hukum,” tegas Wellem.

Pilihan itu tidak mudah. Proses hukum panjang dan melelahkan, terlebih bagi seorang perempuan berusia 80 tahun.

Namun, keputusan itu mencerminkan ketakutan yang lebih luas di masyarakat.

Jika dokumen tanah bisa berubah tanpa persetujuan pemilik, maka tidak ada yang benar-benar aman.

Tanah Jadi Arena Perebutan yang Sunyi

Kasus Nenek Elina menggambarkan wajah lain konflik agraria di Indonesia. Sengketa tanah sering menyeret warga kecil ke pusaran hukum yang rumit. Mereka tidak hanya melawan individu, tetapi juga sistem administrasi yang rentan dimanipulasi.

Bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, tanah bukan sekadar aset. Tanah adalah rumah, sejarah, dan satu-satunya jaminan hidup.

Ketika tanah itu diperebutkan, yang runtuh bukan hanya bangunan. Yang runtuh adalah rasa kepastian.

Kini, Nenek Elina menunggu keadilan bekerja.

Di usia senja, ia tidak meminta banyak. Ia hanya ingin negara memastikan satu hal sederhana bahwa rumah seseorang tidak bisa hilang hanya karena selembar kertas berubah nama. @dimas

Tags: DokumenKasusKeadilanKonflik DuniaKriminal & HukumNenek ElinaPerjuanganPolda JatimRestorative JusticeSengketaTanah

Kamu Melewatkan Ini

Di Tengah Budaya Hujatan, Seorang Ayah Masih Menulis “Pangapunten”

Di Tengah Budaya Hujatan, Seorang Ayah Masih Menulis “Pangapunten”

by teguh
Juni 18, 2026

Media sosial sering mengabadikan kesalahan lebih lama daripada kebaikan. Satu unggahan bisa berubah menjadi ruang sidang publik dalam hitungan menit....

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

by teguh
Juni 16, 2026

Lampu toko kelontong itu tetap menyala seperti biasa. Aktivitas warga berjalan normal. Namun di balik malam yang tampak tenang, seorang...

Rp352 Ribu, Ujian Anak, dan Seorang Ayah yang Terpaksa Mencuri

Rp352 Ribu, Ujian Anak, dan Seorang Ayah yang Terpaksa Mencuri

by teguh
Juni 15, 2026

Seorang ayah Langkahnya pelan ketika memasuki halaman rumah pemilik toko. Di sampingnya berdiri dua anak laki-laki yang terus menunduk. Tak...

Next Post
RUU Perampasan Aset: Jalan Panjang Negara Mengejar Uang Rakyat

RUU Perampasan Aset: Jalan Panjang Negara Mengejar Uang Rakyat

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id