Tabooo.id: Life – Hujan sore menetes perlahan di Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Di pondok bambu beratap seng, Wihelmina Nenu (78) duduk terpaku di lantai sambil menatap tanah basah. Angin membawa aroma cengkih dari kebun depan rumah, tempat cucunya, YBS (10), meninggal beberapa minggu lalu. Sunyi sekelilingnya terasa lebih berat daripada hujan yang membasahi atap. Kehilangan menekan dada Wihelmina, sementara kesulitan hidup menumpuk seperti daun kering di halaman.
Setiap hari, Wihelmina menggantungkan hidup pada hasil kebun dan sedikit jualan sayuran di pasar lokal. Ia menanam, merawat, dan berharap panen cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Kini, ladang itu menjadi saksi sunyi tragedi yang menghancurkan dunia kecil mereka.
Ketimpangan Bantuan Sosial
Kepala Desa Naruwolo, Dionisius Roa, menyatakan bahwa Wihelmina tercatat sebagai penerima bantuan sosial (bansos).
“Sejak saya menjadi kepala desa, kami tidak memberikan bantuan tambahan karena dia sudah terdaftar. Saya takut masuk penjara kalau memberi bantuan ganda,” ujarnya.
Namun, Wihelmina jarang menerima manfaat bansos yang seharusnya melindungi keluarga rentan seperti dirinya. Selain itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ngada, Ermelinda Inam Mugi, menambahkan bahwa Wihelmina masuk desil 6 dalam Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Kategori ini menempatkan rumah tangganya sebagai masyarakat menengah-rentan dengan estimasi pendapatan Rp 3,5-4,8 juta per bulan.
“Kalau desil 6, program PKH memang tidak mengintervensi,” tambahnya.
Meski statistik itu terdengar masuk akal di meja rapat, bagi Wihelmina, angka itu tidak mencerminkan kenyataan hidupnya sehari-hari. Akibatnya, ia tetap menghadapi kesulitan makan, membayar sekolah cucu, dan menutupi kebutuhan dasar.
Sistem Rapi, Tapi Jauh dari Nyata
BPS Kabupaten Ngada menjelaskan bahwa mereka menentukan desil melalui survei, pengumpulan data, dan verifikasi berlapis menggunakan aplikasi SIKS-NG.
“Data ini bersifat dinamis dan bisa diperbarui melalui usulan pemerintah daerah atau masyarakat,” jelas Ivadia Elmina Patola, Kepala BPS Ngada.
Namun, sistem yang rapi di layar komputer tidak selalu efektif di lapangan. Dalam kasus Wihelmina, sistem itu menciptakan jarak antara statistik dan kenyataan hidup jarak yang terlalu panjang bagi mereka yang setiap hari berjuang menutupi perut kosong dan biaya sekolah cucu. Akibatnya, intervensi sosial yang seharusnya hadir tidak sampai ke tangan mereka yang paling membutuhkan.
Paradoks Kehidupan dan Regulasi
Tragedi YBS menyingkap paradoks memilukan pemerintah dan lembaga fokus pada regulasi dan kategori statistik, sementara penderitaan individual sering tersisih. Wihelmina menghadapi kondisi yang tidak tercatat sebagai warga yang memerlukan bantuan darurat, padahal setiap hari ia menatap cangkul dan sayuran dengan harapan sederhana cukup untuk makan dan bertahan hidup.
Konflik ini menekankan absurditas sistem yang menilai kesejahteraan manusia hanya melalui angka. Warga yang “secara teknis cukup” tetap bisa kelaparan, terasing, dan menghadapi trauma tanpa intervensi nyata.
Humanisme di Tengah Regulasi
Kisah Wihelmina menuntut refleksi apakah sistem administrasi yang kaku bisa memahami kehilangan seorang nenek atau trauma seorang anak? Apakah angka bisa mengukur rasa sakit yang membeku di mata mereka yang tertinggal?
Oleh karena itu, Tabooo menekankan bahwa empati tidak bisa digantikan regulasi. Kita perlu mendengar, melihat, dan menghadirkan intervensi berbasis manusia, bukan sekadar kategori desil atau data statistik. Selain itu, pendidikan dan kebijakan sosial seharusnya merangkul manusia, bukan mengabaikannya.
Bagi Wihelmina, intervensi itu bisa sesederhana bantuan pangan, obat-obatan, atau kunjungan yang menunjukkan kepedulian masyarakat dan pemerintah.
Penutup Reflektif
Di pondok bambu yang ringkih, Wihelmina menatap langit senja dan membayangkan cucunya tersenyum di waktu yang lebih adil. Kisah ini meninggalkan pertanyaan bagaimana sistem bisa menyeimbangkan keadilan administratif dan kemanusiaan nyata? Apakah kita cukup berani menembus angka dan regulasi untuk hadir di sisi mereka yang rapuh?
Tragedi Wihelmina dan YBS mengingatkan bahwa di balik data selalu ada manusia yang menunggu untuk didengar, dipahami, dan diperjuangkan. Di sanalah letak kemanusiaan yang sering terlupakan. @dimas





