Tabooo.id: Global – Teheran tak menunggu meja perundingan. Sebaliknya, menjelang pertemuan Presiden Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Iran memilih berbicara lewat spanduk raksasa. Pada Senin (9/2/2026), sebuah baliho besar muncul di Palestine Square, pusat Kota Teheran. Spanduk itu menampilkan peta Israel yang dibidik sejumlah rudal.
Pesannya singkat, nadanya keras: “You start, we finish it!”
Tak lama kemudian, media Israel langsung menangkap maksudnya. Dengan kata lain, Iran ingin menegaskan bahwa kota-kota Israel akan menjadi target serangan rudal jika konflik terbuka benar-benar pecah.
Pesan Keras dari Tengah Kota
Spanduk itu jelas bukan sekadar pajangan. Justru, Iran memasangnya saat perhatian dunia tertuju ke Washington, tempat Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump. Karena itu, momentum ini membuat pesan Teheran sulit diabaikan.
Bagi Israel, spanduk tersebut berfungsi sebagai peringatan terbuka. Sementara itu, bagi Amerika Serikat, pesan ini menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap Iran berpotensi memicu eskalasi, bukan kompromi.
Iran Peringatkan “Pengaruh Destruktif” Israel
Tak berhenti di situ, Iran kembali bersuara sehari kemudian. Pada Selasa (10/2/2026), juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, secara terbuka memperingatkan dampak “destruktif” menjelang kunjungan Netanyahu ke AS.
Menurut Baqaei, Iran hanya bernegosiasi dengan Washington, bukan dengan Tel Aviv. Selain itu, ia menuding Israel terus menyabotase setiap upaya diplomatik di kawasan.
“Rezim Zionis berulang kali menunjukkan penentangan terhadap proses diplomatik yang mengarah pada perdamaian,” tegas Baqaei, dikutip dari AFP.
Lebih lanjut, Baqaei menegaskan fokus Iran tetap satu: isu nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi. Pengalaman konflik Juni lalu, katanya, menjadi pelajaran pahit yang membuat Teheran kini jauh lebih waspada.
Israel Dorong Syarat Tambahan
Di sisi lain, kantor Netanyahu mengirim sinyal yang berlawanan. Israel menilai setiap negosiasi dengan Iran harus mencakup pembatasan rudal balistik. Tak hanya itu, Tel Aviv juga menuntut penghentian dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok sekutunya di kawasan.
Artinya, Israel ingin memperluas isi perundingan. Sebaliknya, Iran justru berusaha mempersempit fokusnya.
Di tengah tarik-menarik ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan AS Steve Witkoff sempat bertemu di Oman pada Jumat (6/2/2026). Keduanya sepakat melanjutkan negosiasi. Namun demikian, Araghchi mengakui tingkat ketidakpercayaan masih sangat tinggi.
Trump sendiri terus mendorong larangan total pengayaan uranium. Akan tetapi, Iran menolak tuntutan itu mentah-mentah. Teheran mengklaim hak atas program nuklir sipil sesuai Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir. Akibatnya, diplomasi kini berjalan di atas tali tipis, sementara spanduk di Teheran sudah lebih dulu berbicara lantang.
Di Timur Tengah, pada akhirnya, kata-kata di dinding sering kali terdengar lebih nyaring daripada janji di meja perundingan. @esp




