Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

5 Bulan Langsung Jadi Polisi, Publik Pertanyakan Kualitasnya

by dimas
April 3, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Rapat Komisi III DPR bersama Plt Kalemdiklat Polri Irjen Andi Rian Djajadi kembali menghidupkan perdebatan lama tentang kualitas pendidikan calon anggota Polri. Di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, pada Kamis (2/4/2025), para legislator yang sebagian besar memiliki latar belakang kepolisian melontarkan kritik dari berbagai sisi mulai dari durasi pendidikan, sistem rekrutmen, hingga kesejahteraan tenaga pengajar.

Di ruang rapat itu, perdebatan tidak berlangsung satu arah. Kritik, evaluasi, dan pembelaan mengalir bergantian, menandai bahwa persoalan pendidikan Polri tidak lagi berdiri sebagai isu teknis, melainkan sudah menyentuh arah reformasi institusi.

Bintara 5 Bulan Disorot: “Apa yang Bisa Dihasilkan?”

Sorotan paling keras datang dari mantan Wakapolri sekaligus anggota Komisi III DPR, Adang Daradjatun. Ia mempertanyakan efektivitas pendidikan Bintara yang hanya berlangsung lima bulan.

Adang menilai durasi tersebut tidak seimbang dengan tanggung jawab besar yang akan diemban para lulusan di lapangan. Ia kemudian mempertanyakan langsung kualitas output pendidikan tersebut.

“Kita fair saja di ruangan ini ya. Dengan 5 bulan, apa yang diharapkan? Terbuka saja kepada kita. Karena terus terang saja, kalau masih pendidikan Polri Bintara 5 bulan, sekarang berat sekali. Karena kita tahu bahwa basis kepolisian itu ada di bintara-bintara Polri,” ujar Adang.

Ini Belum Selesai

Pemerintah Tarik 25 Merek Beras Fortifikasi, Ada Apa?

Bakar Sampah Berujung Kebakaran Kabel PT Sangsaka di Bantul

Ia menegaskan bahwa pendidikan singkat berisiko melahirkan aparat dengan kemampuan terbatas. Dalam pandangannya, hal itu tidak cukup untuk menghadapi kompleksitas tugas kepolisian modern.

“Kalau seorang polisi dididik cuma 5 bulan, dia cuma bisa hormat, baris, lari, betul enggak?” tegasnya.

Lebih jauh, Adang mendorong perpanjangan masa pendidikan Bintara dan peningkatan dukungan anggaran. Ia juga mengaitkan lemahnya pendidikan lanjutan dengan berbagai persoalan di lapangan, terutama dalam fungsi penyidikan.

“Kalau tidak diteruskan oleh sekolah lanjutan yang spesifik, ya terjadilah kasus-kasus yang sekarang Komisi III temukan, ya. Para pemeriksa, penyidik di lapangan yang hanya keluar dari pendidikan, mungkin masuk menjadi pemeriksa, dia tidak tahu bagaimana proses penyidikan,” tambahnya.

Akpol dan Isu Rekrutmen: Dugaan “Titipan” Kembali Mengemuka

Perdebatan kemudian bergeser ke Akademi Kepolisian (Akpol). Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Safaruddin, menyoroti dugaan praktik “titipan” dalam proses rekrutmen taruna.

Ia mengaitkan dugaan tersebut dengan sejumlah persoalan yang masih muncul di lingkungan pendidikan kepolisian, termasuk aspek kedisiplinan dan kesehatan peserta didik.

“Rekrutmennya yang salah. Rekrutmennya yang salah. Bayar atau titipan? Bayar atau titipan? Sehingga Lemdiklat ini memproses itu tidak memenuhi standar kesehatan,” ujar Safaruddin.

Ia juga menyinggung adanya kasus taruna yang mengalami gangguan kesehatan serius, yang menurutnya perlu menjadi perhatian dalam evaluasi sistem seleksi. Pernyataan itu kembali menyoroti transparansi dan integritas proses rekrutmen di lembaga pendidikan elite Polri.

Honor Pengajar Dipersoalkan: Ancaman Kualitas SDM Polri

Isu berikutnya muncul dari aspek yang jarang mendapat sorotan publik kesejahteraan tenaga pengajar. Anggota Komisi III DPR, Irjen (Purn) Rikwanto, menilai honor pengajar yang hanya sekitar Rp100.000 per jam tidak sebanding dengan tanggung jawab mencetak calon pemimpin Polri.

Ia menilai rendahnya kompensasi berpotensi menurunkan kualitas pengajar dan pada akhirnya berdampak pada kualitas lulusan.

“Honornya itu masih standar masa lalu. Bagaimana kita mau dapat hasil maksimal yang bibit unggul yang akan memimpin Polri ke depan, dengan konsep honor yang minimalis sekali. Takutnya dia habis mengajar, pulang mengojek, atau jualan di pasar,” ujarnya.

Rikwanto juga menekankan pentingnya rekrutmen berbasis kualitas. Ia menilai Polri perlu memastikan hanya kandidat terbaik yang masuk sistem pendidikan kepolisian.

“Rekrutmen ini harus dari bibit unggul. Karena kenapa? Ada istilah ‘kalau masuk sampah, keluar sampah’. Memang tidak enak disebutkan. Tapi demikian,” tegasnya.

Respons Polri: Usulan Kenaikan Honor hingga Reformasi Pola Pendidikan

Menanggapi kritik tersebut, Plt Kalemdiklat Polri Irjen Andi Rian Djajadi merespons dengan usulan kenaikan honor pengajar dari Rp100.000 menjadi Rp200.000 per jam. Ia juga menyebut kebutuhan tambahan anggaran mencapai Rp69,2 miliar untuk menopang kualitas pendidikan.

“Struktur honor gadik (tenaga pendidikan), kami memohon penyesuaian dari yang sebelumnya flat di angka Rp 100.000 menjadi rata-rata Rp 200.000 per jam pelajaran. Terdapat kebutuhan tambahan Rp 69,2 miliar agar kami bisa menjaga motivasi dan ketersediaan pengajar kompeten,” kata Andi.

Selain soal anggaran, ia juga mendorong reformasi metode pendidikan dengan menghapus pendekatan yang terlalu militeristik, termasuk tradisi pembebanan fisik berlebihan dalam pendidikan dasar.

Akpol Akui Tekanan Berat: Jadwal 20 Jam Mulai Dievaluasi

Dari internal Akpol, Gubernur Akpol Irjen Daniel Tahi Monang Silitonga mengakui sistem pendidikan yang berjalan saat ini masih terlalu padat dan belum sepenuhnya manusiawi.

Ia menjelaskan bahwa taruna sebelumnya menjalani aktivitas dari pukul 04.00 hingga 22.00 tanpa jeda istirahat yang memadai.

“Memang kalau kita perhatikan, kalau kita pikirkan memang sementara ini pendidikan kita kurang manusiawi. Karena mereka bangun misalnya jam 4 pagi, salat, ibadah, mulai dari jam 4 pagi sampai jam 10 malam tanpa ada istirahat mereka melaksanakan kegiatan,” jelasnya.

Menanggapi kondisi itu, Akpol mulai melakukan penyesuaian dengan memberikan waktu istirahat siang selama 1 jam 15 menit agar taruna memiliki waktu pemulihan sebelum melanjutkan kegiatan belajar.

Di tengah seluruh kritik, usulan, dan pengakuan tersebut, satu fakta mengemuka dengan jelas pendidikan Polri kini berada di titik evaluasi paling terbuka. Dan dari ruang Senayan, publik kembali menyaksikan pertanyaan lama yang belum benar-benar selesai apakah reformasi benar-benar berjalan dari dalam, atau hanya bergerak ketika tekanan sudah terlalu keras untuk diabaikan. @dimas

Tags: DPR RIKomisi IIINasionalPolriReformasiSkandal

Kamu Melewatkan Ini

Empat Bulan Berdialog, Buruh Kecewa Draf RUU Ketenagakerjaan

Empat Bulan Berdialog, Buruh Kecewa Draf RUU Ketenagakerjaan

by dimas
September 17, 2026

Empat bulan berdialog, buruh kecewa dengan draf RUU Ketenagakerjaan. Mereka mendesak DPR merespons usulan soal PKWT, outsourcing, upah, dan pekerja...

Polisi Bakal Razia Kendaraan ke Rumah? Ini Faktanya

Polisi Bakal Razia Kendaraan ke Rumah? Ini Faktanya

by eko
September 15, 2026

Klaim polisi bakal razia kendaraan ke rumah mulai akhir September 2026 beredar di Facebook. Faktanya, klaim itu hoaks. Tabooo.id: -...

Benarkah DPR Masukkan RUU Larangan Membeli Rokok di Indonesia?

Benarkah DPR Masukkan RUU Larangan Membeli Rokok di Indonesia?

by eko
September 7, 2026

Benarkah DPR buat RUU larangan membeli rokok? Cek fakta klaim viral dan aturan rokok yang sebenarnya berlaku di Indonesia. Tabooo.id...

Next Post
Salib, Politik, dan Ketakutan yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

Salib, Politik, dan Ketakutan yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id