Tabooo.id: Deep – Yogyakarta mencatat skor 4,42 dalam Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025. Selisihnya hanya 0,01 poin dari Surakarta yang berada di posisi pertama.
Secara angka, ini hampir identik. Namun, secara sistem, hasilnya tetap berbeda.
Selisih Kecil yang Menyimpan Makna Besar
Dalam laporan Indeks Daya Saing Daerah 2025 oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional, skor disusun dalam skala 0 hingga 5 berdasarkan puluhan indikator pembangunan daerah.
Perbedaan 0,01 poin terlihat kecil, tetapi dalam indeks komposit, selisih ini menunjukkan adanya ketimpangan performa antar pilar.
Data ini juga dikonfirmasi dalam publikasi hasil rilis IDSD 2025 oleh BRIN yang menunjukkan posisi Yogyakarta tepat di bawah Surakarta dengan selisih tipis.
Kekuatan Struktural yang Tidak Terbantahkan
Yogyakarta unggul kuat pada pilar sumber daya manusia. Kota ini dikenal sebagai pusat pendidikan nasional dengan konsentrasi universitas dan mahasiswa dari seluruh Indonesia.
Kekuatan Yogyakarta terletak pada kualitas pendidikan, keterampilan tenaga kerja, serta kapabilitas inovasi yang tinggi. Selain itu, ekosistem ekonomi kreatif berkembang pesat karena didukung komunitas akademik dan budaya yang hidup.
Namun, keunggulan ini tidak otomatis menjadikannya nomor satu.
Ketika SDM Kuat, Tapi Pasar Terbatas
IDSD tidak hanya mengukur kualitas manusia. Indeks ini juga menilai ukuran pasar, sistem keuangan, dan dinamika bisnis. Di titik ini, Yogyakarta mulai tertinggal.
Skala ekonominya relatif kecil dibanding kota lain. Aktivitas industri besar tidak dominan, sehingga kontribusi terhadap pilar pasar dan ekonomi tidak maksimal.
Fenomena ini juga terlihat dalam analisis data daya saing daerah Indonesia 2025 yang menunjukkan bahwa kota dengan integrasi ekonomi kuat cenderung unggul dalam peringkat akhir. Artinya, kekuatan intelektual tanpa dukungan struktur ekonomi besar menjadi keterbatasan tersendiri.
Fenomena Brain Drain yang Nyata
Yogyakarta menghasilkan talenta dalam jumlah besar. Namun, banyak dari mereka tidak bertahan. Mahasiswa datang untuk belajar, tetapi setelah lulus, mereka pindah ke kota lain dengan peluang ekonomi lebih besar. Fenomena ini memperkuat pola bahwa Yogyakarta unggul dalam produksi SDM, tetapi lemah dalam retensi.
Data nasional juga menunjukkan bahwa kota dengan peluang ekonomi lebih luas cenderung menjadi tujuan migrasi tenaga kerja produktif. Hal ini memperkuat posisi kota lain dalam pilar ekonomi dibanding Yogyakarta.
Paradoks yang Terlihat Jelas
Yogyakarta sangat kuat di sisi input, yaitu pendidikan, ide, dan kreativitas. Namun, output ekonominya tidak selalu sebanding. Ini menciptakan paradoks yang terlihat jelas dalam sistem penilaian. Kota ini menghasilkan kualitas manusia tinggi, tetapi tidak selalu menghasilkan nilai ekonomi yang setara.
Dalam sistem IDSD, ketidakseimbangan ini berpengaruh langsung terhadap skor akhir.
Perbedaan Tipis dengan Surakarta
Surakarta unggul pada pilar institusi, infrastruktur, dan dukungan terhadap UMKM. Kota ini menunjukkan stabilitas dalam implementasi kebijakan dan integrasi ekonomi lokal. Hal ini diperkuat oleh laporan kota paling maju di Indonesia versi IDSD 2025 yang menempatkan Surakarta di posisi pertama dengan kekuatan pada sistem ekonomi dan tata kelola.
Yogyakarta unggul dalam potensi. Surakarta unggul dalam eksekusi. Dalam sistem indeks, eksekusi sering menentukan hasil akhir.
Ini Bukan Kekalahan
Yogyakarta tidak gagal. Kota ini memainkan peran berbeda dalam ekosistem nasional. Ia berfungsi sebagai pusat pembentukan manusia, bukan pusat akumulasi ekonomi besar.
Namun, sistem IDSD tetap memberi bobot besar pada output ekonomi. Akibatnya, kota seperti Yogyakarta sering berhenti di posisi “hampir”.
Jika kamu tinggal di Yogyakarta, kamu akan merasakan dinamika ini. Kota ini hidup secara intelektual dan budaya. Namun, ketika berbicara tentang peluang ekonomi jangka panjang, ruangnya terasa terbatas.
Banyak orang tumbuh di kota ini, tetapi berkembang di tempat lain.
Yogyakarta Terlihat “Hampir Kalah”
Data tidak pernah sepenuhnya netral. Data selalu membawa perspektif tertentu. Yogyakarta terlihat “hampir kalah” dalam angka. Namun, dalam fungsi, kota ini justru memainkan peran penting dalam membentuk kualitas manusia Indonesia.
Sederhananya, Yogyakarta mencetak masa depan, tapi masa depan itu sering tidak tinggal.
Jadi sekarang pertanyaannya bukan lagi kenapa Yogyakarta tidak nomor satu. Pertanyaannya adalah, apakah menjadi nomor satu memang tujuan utama? Atau justru Yogyakarta sudah berada di jalur yang berbeda sejak awal?
Sumber Rujukan
- Kota paling maju di Indonesia versi IDSD 2025 – https://infogarut.id/surakarta-nomor-1-ini-dia-daftar-10-kota-termaju-di-indonesia-di-mana-saja
- Hasil rilis IDSD 2025 oleh BRIN – https://kumparan.com/kumparannews/brin-rilis-indeks-daya-saing-daerah-2025-skor-tertinggi-ada-di-jawa-dan-bali-26tl2yU4qgx
- Data daya saing daerah Indonesia 2025 – https://www.medcom.id/pendidikan/riset-penelitian/9K5yRq3K-idsd-2025-ini-20-provinsi-dengan-daya-saing-tertinggi-dan-terendah







