Tabooo.id: Regional – Kasus pembobolan dana internal kembali mengguncang dunia perbankan daerah. Seorang oknum karyawan PT Bank Kalteng berinisial R didakwa membobol dana perusahaan hingga Rp16,4 miliar.
Aksi ini bukan kejadian sesaat. Pelaku menjalankan ratusan transaksi ilegal dalam kurun waktu berbulan-bulan.
Yang bikin miris, uang miliaran itu justru habis untuk judi online.
Modus Rapi: Manipulasi Sistem dan Curi Akses Atasan
Terdakwa yang bekerja sebagai asisten card center memanfaatkan celah sistem IT bank. Ia menjalankan aksinya dari Kantor Pusat Bank Kalteng di Palangka Raya.
Ia tidak bekerja sembarangan. Ia memanfaatkan fitur reset password untuk mengambil alih akses.
Setelah itu, ia mencatut User ID milik atasannya. Dengan cara ini, ia bisa menyetujui transaksi sendiri tanpa terdeteksi.
Ia menyamarkan transaksi tersebut sebagai pembayaran gaji pihak ketiga. Sistem internal pun tidak langsung mencurigai aliran dana tersebut.
Totalnya, ia menjalankan 205 transaksi ilegal sejak November 2023 hingga Agustus 2024.
Uang Habis untuk Judi, Aset Ikut Dibeli
Di persidangan, terdakwa mengakui semua perbuatannya.
“Terdakwa mengaku menyesal,” ujar Yohana dari tim kuasa hukum.
Namun, pengakuan itu tidak mengubah fakta. Ia menghabiskan uang hasil kejahatan untuk judi online jenis slot.
Nilai depositnya bahkan mencapai Rp300 juta per hari.
Selain itu, ia juga membeli sejumlah aset. Mulai dari tanah kost, mobil Innova Reborn, laptop mahal, hingga perhiasan emas untuk keluarga.
Bank Kalteng: Ini Ulah Oknum, Sistem Tetap Aman
Direktur Utama Bank Kalteng, Maslipansyah, langsung merespons kasus ini. Ia menegaskan perusahaan tidak akan mentoleransi pelanggaran apa pun.
“Setiap pelanggaran akan kami tindak tegas sesuai ketentuan yang berlaku,” tegasnya.
Ia juga memastikan dana nasabah tetap aman dan tidak terdampak.
Manajemen sudah melakukan investigasi internal dan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum.
“Kami menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam proses penanganan,” tambahnya.
Celah Sistem Jadi Catatan Serius
Saksi ahli dalam persidangan menyoroti kelemahan serius dalam sistem internal bank.
Masalah utama terletak pada manajemen hak akses. Sistem tidak membatasi akses sesuai level jabatan secara ketat.
Akibatnya, staf biasa bisa mengakses fitur penting yang seharusnya hanya dimiliki pejabat tertentu.
Temuan ini jadi alarm keras bagi industri perbankan, terutama soal keamanan digital.
Penutup: Ketika Orang Dalam Jadi Ancaman
Kasus ini menunjukkan satu hal penting ancaman terbesar tidak selalu datang dari luar.
Justru orang dalam bisa jadi celah paling berbahaya jika sistem pengawasan lemah.
Bank Kalteng kini berjanji memperketat kontrol dan memperbaiki sistem.
Tapi pertanyaannya, berapa banyak kasus serupa yang belum terungkap? @dimas



