Tabooo.id – Sidoarjo: Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, berubah jadi lautan duka. Hingga Minggu (5/10/2025) pagi, Basarnas mencatat 37 santri meninggal dunia dari total 167 korban.
Proses evakuasi masih terus berjalan tanpa henti. Detik demi detik berpacu melawan waktu dan harapan keluarga yang menunggu di luar puing.
Data Terbaru dan Upaya Penyelamatan
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dari total 167 korban, 104 orang selamat, 36 meninggal dunia, dan satu bagian tubuh telah dievakuasi untuk identifikasi oleh tim DVI Polri. Namun angka ini belum final.
“Masih ada korban yang belum ditemukan, pencarian dilakukan 24 jam penuh,” ujar Direktur Operasi Basarnas, Yudhi Bramantyo, Minggu dini hari.
Tim SAR gabungan bekerja di bawah tekanan waktu dan kondisi bangunan yang rapuh. Pada Sabtu malam, 12 korban baru berhasil dievakuasi dari reruntuhan. Korban ke-31 ditemukan di sektor A1 pukul 21.15 WIB, disusul tiga jenazah lain di sektor A3 sekitar pukul 22.00 WIB.
Pencarian berlanjut hingga tengah malam, jenazah ke-34 ditemukan pukul 22.46 WIB, ke-35 pukul 22.57 WIB, ke-36 pukul 22.59 WIB, dan ke-37 pukul 23.01 WIB. Dua jenazah tambahan ditemukan pada pukul 23.26 dan 23.29 WIB di lokasi yang sama.
Perjuangan Tim di Tengah Puing dan Air Mata
Operasi pencarian ini melibatkan ratusan personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, hingga relawan setempat. Mereka menggali puing dengan tangan kosong, menembus debu dan gelap, demi satu kemungkinan, menemukan santri yang masih hidup.
Sebagian besar jenazah belum bisa diidentifikasi karena kondisi tubuh rusak berat akibat tertimpa struktur utama bangunan yang ambruk mendadak.
Bagi masyarakat, tragedi ini bukan sekadar angka di laporan BNPB. Ini tentang anak-anak muda yang datang untuk menuntut ilmu, tapi justru pulang dalam keheningan. Tentang keamanan bangunan pendidikan, tentang nyawa yang seharusnya dilindungi, bukan dikorbankan oleh kelalaian struktur.
Negeri ini berdiri di atas tanah rawan bencana, kita tak bisa terus pura-pura aman. Berapa banyak nyawa lagi yang harus jadi korban sebelum kita benar-benar belajar? @tabooo







