Tabooo.id: Figures – Kita sering menyebut nama Tan Malaka sebagai “Bapak Republik”. Tapi jujur saja, seberapa dalam kamu mengenalnya?
Ironisnya, dia bukan sekadar tokoh sejarah. Dia adalah ide yang terlalu berbahaya untuk diceritakan secara sederhana.
1890-an: Lahir dari Tanah yang Membentuk Cara Berpikirnya
Tan Malaka lahir sebagai Ibrahim di Nagari Pandam Gadang, Sumatera Barat. Lingkungannya membentuk dua hal penting, yakni agama dan logika sosial Minangkabau.
Ia tumbuh dalam tradisi “duduk sama rendah, tegak sama tinggi”. Namun, ia juga hidup dalam sistem kolonial yang justru bertolak belakang.
Di sinilah konflik pertama muncul. Ia belajar kesetaraan dari budaya, tapi melihat ketimpangan dari realita. Sejak kecil, benih perlawanan itu sudah mulai tumbuh.
1908–1913: Sekolah, Kecerdasan, dan Jalan Keluar dari Kampung
Tan Malaka masuk Kweekschool di Fort de Kock. Di sana, ia menunjukkan kecerdasan yang tidak biasa.
Guru Belandanya melihat potensi besar dalam dirinya. Akhirnya, ia dikirim ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan.
Namun, ini bukan sekadar perjalanan akademik. Ini adalah awal dari perubahan cara berpikir yang radikal.
Tan Malaka tidak lagi hanya melihat dunia sebagai kampung dan penjajah. Ia mulai melihat sistem.
1913–1919: Belanda, Tempatnya “Berubah”
Di Belanda, Tan Malaka tidak hanya belajar menjadi guru, tetapi juga belajar membaca dunia.
Ia mengalami sakit, kesepian, dan keterasingan. Namun justru di situ, pikirannya berkembang.
Ia membaca revolusi Prancis, mengenal Marxisme. Dan terutama melihat bahwa ketidakadilan bukan kebetulan, tapi sistem.
Di titik ini, ia tidak lagi sekadar murid. Tan Malaka mulai menjadi pemikir.
1919–1921: Deli, Saat Realita Menghantam Idealisme
Tan Malaka kembali ke Hindia Belanda dan bekerja di Deli. Di sana, ia melihat langsung penderitaan buruh perkebunan.
Sementara itu, orang Eropa hidup mewah. Kontras ini terlalu nyata untuk diabaikan.
Ia menulis kritik tajam tentang kondisi tersebut. Namun, ia sadar satu hal, pendidikan saja tidak cukup.
Tan Malaka keluar dari Deli, dan mulai masuk ke dunia pergerakan.
1921–1922: Semarang, Pendidikan Jadi Senjata
Di Semarang, Tan Malaka mendirikan sekolah untuk rakyat kecil. Ia tidak sekadar mengajar membaca dan berhitung.
Ia mengajarkan berpikir.
Ia ingin anak-anak pribumi tidak hanya jadi pegawai, melainkan jadi manusia merdeka.
Namun, pemerintah kolonial melihat ini sebagai ancaman. Akhirnya, ia ditangkap dan diasingkan. Sejak itu, hidupnya tidak pernah stabil lagi.
1922–1927: Dunia Internasional
Tan Malaka pergi ke Belanda, lalu ke Moskow. Ia berbicara di forum Komintern.
Ia membawa ide yang tidak biasa, yakni menggabungkan komunisme dan Islam untuk melawan kolonialisme.
Namun, tidak semua orang setuju. Ia mulai berseberangan, bahkan dengan sekutunya sendiri.
Di titik ini, ia bukan lagi bagian dari sistem manapun. Tan Malaka berdiri sendiri.
1927–1942: Dua Dekade Pelarian
Tan Malaka hidup dengan puluhan nama samaran. Ia berpindah dari satu negara ke negara lain. Filipina, Tiongkok, Singapura. Ia menjadi buronan internasional.
Namun, ia tetap menulis, berpikir, dan tetap melawan, meski tanpa panggung.
Bayangkan, seorang tokoh besar, tapi hidup seperti bayangan.
1942–1945: Jepang Datang, Tan Malaka Menghilang
Saat Jepang masuk Indonesia, ia kembali secara diam-diam. Ia menyamar sebagai orang biasa.
Ia bekerja sebagai juru tulis di Banten. Disana, Tan Malaka melihat penderitaan romusha.
Namun, ia tetap tidak tampil ke publik untuk menunggu momentum. Ketika proklamasi mendekat, ia pun mulai bergerak lagi.
1945–1946: Setelah Merdeka, Ia Justru Jadi Masalah
Indonesia merdeka. Namun, Tan Malaka tidak langsung sejalan dengan pemerintah. Ia menolak diplomasi dengan Belanda. Ia ingin kemerdekaan 100 persen.
Lalu, Tan Malaka membentuk Persatuan Perjuangan. Gerakannya besar dan berpengaruh. Sayangnya, pemerintah melihatnya sebagai ancaman. Akhirnya, ia ditangkap oleh republiknya sendiri.
Ironis? Sangat.
1948–1949: Dari Gerilya ke Eksekusi
Setelah keluar dari penjara pada 1948, Tan Malaka tidak kembali ke politik meja. Ia memilih jalan yang lebih berbahaya, gerilya.
Saat Belanda melancarkan Agresi Militer II, ia bergerak ke Jawa Timur. Ia tidak lagi sekadar pemikir, tapi turun langsung ke medan. Namun situasi di lapangan tidak sesederhana “lawan penjajah”.
Di dalam republik sendiri, konflik ideologi masih panas. Dan di sinilah tragedi mulai terbentuk.
Februari 1949: Penangkapan di Tanah yang Ia Bela
Pada 21 Februari 1949, pasukan TNI dari Batalyon Sikatan menangkap Tan Malaka di daerah Kediri. Ia tidak melawan, bahkan tidak kabur.
Namun, ia juga tidak diberi ruang untuk menjelaskan. Tidak ada pengadilan, proses hukum, ataupun klarifikasi publik untuk Tan Malaka.
Ia langsung diposisikan sebagai ancaman. Padahal, ia sedang melawan musuh yang sama.
Detik-Detik Terakhir: Tanpa Pengadilan dan Pembelaan
Setelah penangkapan, pasukan membawa Tan Malaka ke wilayah Selopanggung. Situasi tegang. Komando berjalan cepat.
Tidak ada ruang diskusi ataupun waktu berpikir ulang. Keputusan sudah dibuat. Tan Malaka berdiri di hadapan regu tembak.
Di titik itu, seorang tokoh besar tidak mati karena penjajah, ia mati karena keputusan internal republiknya sendiri.
Penghapusan yang Lebih Sunyi
Eksekusi Tan Malaka selesai. Namun cerita tidak berhenti di situ.
Jenazahnya dimakamkan secara diam-diam. Namanya perlahan menghilang dari narasi resmi.
Selama bertahun-tahun, publik bahkan tidak tahu di mana ia dimakamkan. Seolah-olah, kematiannya bukan hanya akhir hidup, tapi juga awal penghapusan.
Bukan Sekadar Eksekusi
Eksekusi Tan Malaka bukan sekadar penembakan di masa perang, tapi sebuah pola bagaimana kekuasaan menangani perbedaan yang terlalu tajam.
Tan Malaka tidak dieksekusi karena ia lemah. Ia dieksekusi karena ia tidak bisa dikendalikan.
Kalau kamu hidup di sistem yang takut pada kritik, nasib Tan Malaka bukan sejarah, itu kemungkinan.
Hari ini kamu boleh berbeda. Besok, kamu bisa dianggap ancaman.
Peluru yang menembus tubuh Tan Malaka mungkin sudah lama berhenti. Tapi cara berpikir yang membunuhnya… apakah benar-benar sudah hilang? @tabooo







