Tabooo.id: Global – Pemerintah Suriah akhirnya menekan tombol “pause” dalam konflik panjang di wilayah timur. Damaskus mengumumkan gencatan senjata baru dengan Syrian Democratic Forces (SDF), pasukan pimpinan Kurdi yang selama bertahun-tahun menguasai wilayah kaya minyak di timur dan timur laut Suriah. Kesepakatan ini muncul setelah dua hari bentrokan sengit. Dampaknya langsung terlihat: tentara Suriah bergerak cepat dan mengambil alih ladang minyak, gas, serta sejumlah kota strategis.
Bagi warga Suriah, kabar ini bukan sekadar laporan militer. Ini menyangkut siapa yang menguasai sumber daya, siapa yang menentukan keamanan, dan siapa yang terus menanggung harga perang.
Wilayah Direbut, Peta Kekuasaan Bergeser
Sepanjang akhir pekan, militer Suriah melancarkan operasi cepat. Mereka merebut beberapa lokasi penting yang sebelumnya berada di bawah kendali SDF. Pada Minggu (18/1), Damaskus mengumumkan perebutan kota Tabqa, sekitar 55 kilometer di barat Raqqa. Langkah ini langsung mengubah peta konflik di wilayah tersebut.
Melalui kesepakatan gencatan senjata, pemerintah pusat kini membuka kembali akses ke provinsi-provinsi timur dan timur laut. Selain itu, SDF menyetujui rencana integrasi ke dalam struktur negara. Pasukan Kurdi itu akan masuk ke Kementerian Pertahanan dan Kementerian Dalam Negeri Suriah. Dengan skema ini, senjata yang dulu saling berhadapan diarahkan berada di bawah satu komando.
Damaskus Menang, SDF Menahan Napas
Damaskus jelas memetik keuntungan besar. Akses ke ladang minyak dan gas memberi napas ekonomi baru bagi negara yang lama tercekik perang dan sanksi. Pemerintah juga memperkuat narasi “persatuan nasional,” seperti yang berulang kali ditekankan Presiden Interim Ahmed al-Sharaa dikutip dari Deutsche welle.
Sebaliknya, posisi SDF kian rapuh. Mereka menarik pasukan dari Deir el-Zour dan Raqqa menuju Hasakeh. Pemimpin SDF, Mazloum Abdi, menyebut langkah ini sebagai upaya mencegah perang saudara. Namun, di kalangan komunitas Kurdi, muncul pertanyaan tajam: apakah integrasi ini bentuk perlindungan, atau justru tanda penyerahan?
AS Mendukung, Tantangan Tetap Panjang
Amerika Serikat menyambut gencatan senjata ini dan menyebutnya sebagai “titik balik.” Washington melihat peluang stabilitas sekaligus kelanjutan perang melawan ISIS. Meski begitu, AS juga mengakui tantangan besar di depan. Integrasi pasukan Kurdi ke dalam struktur negara Suriah bukan pekerjaan mudah, mengingat luka konflik belum sepenuhnya sembuh.
Di tengah situasi itu, Presiden al-Sharaa menunda rencana kunjungan ke Berlin. Krisis di dalam negeri tampak lebih mendesak daripada agenda diplomasi luar negeri.
Damai di Atas Kertas, Luka di Lapangan
Gencatan senjata ini membuka peluang baru. Ia bisa mempercepat rekonstruksi dan menghentikan siklus kekerasan di wilayah yang lelah berperang. Namun, damai yang lahir dari tekanan senjata sering kali rapuh.
Suriah mungkin kembali utuh di peta. Tetapi bagi warganya, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah ini awal perdamaian sejati, atau hanya jeda singkat sebelum konflik berganti wajah? Di negeri yang lama berdarah, kata “damai” hampir selalu datang bersama tanda tanya. (red)






