Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Scroll Ada Batasnya, Pemerintah Batasi Medsos Anak di Bawah 16 Tahun

by dimas
Maret 8, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Edge – Bayangkan begini. Seorang anak pulang sekolah, melempar tas ke sofa, lalu membuka ponsel. Ia langsung mencari hiburan favoritnya scroll TikTok seperti biasa.

Namun tiba-tiba layar memberi pesan sederhana “Maaf, kamu masih di bawah umur. Silakan kembali ke dunia nyata.”

Plot twist: ini bukan sketsa komedi internet. Pemerintah benar-benar menyiapkan skenario itu.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengumumkan aturan baru yang membatasi akses anak di ruang digital. Ia menuangkannya dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026. Aturan ini mengikuti kerangka Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 atau yang dikenal sebagai PP Tunas.

Menurut Meutya, Indonesia bahkan menjadi negara non-Barat pertama yang menunda akses digital anak berdasarkan usia.

Ini Belum Selesai

Api Dipadamkan, Masalahnya Jangan Ikut Dibiarkan

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

“Ini artinya Indonesia menjadi negara non-Barat pertama dalam penundaan akses anak di ruang digital sesuai usia,” ujar Meutya dalam keterangan resmi, Jumat (6/3/2026).

Jika diterjemahkan ke bahasa internet pemerintah mencoba membuat “jam malam digital” bagi anak-anak.

Scroll Tanpa Batas Kini Punya Batas Usia

Pemerintah akan mulai menjalankan aturan ini pada 28 Maret 2026. Anak di bawah usia 16 tahun tidak lagi bisa mengakses akun media sosial tertentu, terutama pada platform yang berpotensi memengaruhi perkembangan psikologis mereka.

Daftar platformnya bukan aplikasi kecil yang jarang terdengar. Justru sebaliknya, semuanya raksasa internet yang akrab di ponsel anak-anak:
YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, serta Roblox.

Pemerintah meminta delapan perusahaan teknologi itu menyesuaikan sistem mereka dengan regulasi baru di Indonesia. Proses penyesuaian akan berjalan bertahap sampai semua platform mengikuti aturan tersebut.

Dengan kata lain, algoritma yang biasanya menggoda anak-anak dengan video tanpa akhir kini harus belajar satu kata baru batasan.

Algoritma Hampir Mengasuh Anak

Pemerintah punya alasan kuat di balik kebijakan ini. Dalam beberapa tahun terakhir, ruang digital berubah menjadi taman bermain yang kadang terlalu bebas.

Anak-anak menemukan banyak risiko di sana: konten pornografi, perundungan siber, penipuan online, hingga kecanduan digital. Di dunia yang digerakkan algoritma, satu video bisa berubah menjadi ratusan video sebelum orang tua sempat berkata, “Sudah ya, cukup.”

Meutya menilai aturan ini bisa membantu orang tua menghadapi realitas baru tersebut. Pemerintah ingin memastikan teknologi tidak sepenuhnya mengambil alih peran pengasuhan.

Sebab jika algoritma membesarkan anak, kemungkinan besar mereka akan menguasai tiga keterampilan utama scroll super cepat, swipe refleks, dan lupa waktu.

Negara vs Infinite Scroll

Aturan ini memperlihatkan sesuatu yang cukup menarik. Negara akhirnya mencoba menantang salah satu kekuatan paling kuat di internet infinite scroll.

Selama ini, hampir semua platform merancang aplikasinya agar pengguna terus bertahan di layar. Konten terus muncul, video terus berjalan, dan notifikasi terus memanggil.

Kini pemerintah mencoba menyisipkan satu tombol baru di tengah arus itu pause.

Tentu saja, internet punya sejarah panjang dalam mengakali aturan. Jika sebuah aplikasi meminta umur, biasanya muncul trik klasik yang sudah diwariskan lintas generasi pengguna internet:

“Tanggal lahir: 1 Januari 1990.”

Jadi pertanyaan besarnya bukan hanya soal regulasi. Pertanyaannya jauh lebih sederhana.

Apakah anak-anak benar-benar akan berhenti bermain media sosial, atau mereka justru akan belajar berbohong soal umur sedikit lebih cepat? @dimas

Tags: AnakAturanDigitalGenerasiinternetKeamanan NegaraKomdigiLiterasiMedsosMeutya HafidNasionalPerlindunganRegulasi

Kamu Melewatkan Ini

Kuota Hangus Belum Tuntas: Kepatuhan Operator Baru 50–70 Persen

Kuota Hangus Belum Tuntas: Kepatuhan Operator Baru 50–70 Persen

by teguh
Oktober 14, 2026

Perlindungan kuota internet belum sepenuhnya merata. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut tingkat kepatuhan operator seluler baru mencapai 50–70...

JABFest 2026: Seni Melawan Pendangkalan, Buku Menjaga Ingatan

JABFest 2026: Seni Melawan Pendangkalan, Buku Menjaga Ingatan

by dimas
Oktober 13, 2026

JABFest 2026 di Yogyakarta menghadirkan seni, buku, film, dan diskusi untuk melawan pendangkalan berpikir serta menjaga ingatan kolektif. Tabooo.id: Yogyakarta...

Tinggal Kelas Bukan Obat Ajaib: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Mutu Pendidikan?

Tinggal Kelas Bukan Obat Ajaib: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Mutu Pendidikan?

by teguh
Oktober 13, 2026

Wacana tinggal kelas kembali membuka perdebatan tentang mutu pendidikan Indonesia. Sebelum meminta siswa mengulang pelajaran, pemerintah perlu memastikan sekolah mampu...

Next Post
Depot Minyak Teheran Terbakar Usai Serangan Israel, Konflik Makin Panas

Depot Minyak Teheran Terbakar Usai Serangan Israel, Konflik Makin Panas

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id