Benny Haryanto merakit mesin pirolisis sederhana untuk mengolah sampah plastik menjadi cairan menyerupai BBM. Inovasinya menguji dukungan bagi penemu lokal.
Tabooo.id – Di tangan Benny Haryanto, 49 tahun, barang bekas bukan sekadar tumpukan benda yang menunggu tempat pembuangan. Warga Kudus, Jawa Tengah, itu merakit mesin pirolisis sederhana untuk mengolah sampah plastik menjadi cairan menyerupai bahan bakar.
Benny merakit alat tersebut dari barang-barang yang mudah ditemukan. Ia memanfaatkan kaleng biskuit, kaleng obat nyamuk, stoples, galon, dan minyak bekas untuk membangun perangkat percobaannya.
Gagasannya tumbuh dari hal sederhana. Setelah melihat video tentang pengolahan plastik, Benny mencoba merakit alat sendiri. Ia menghabiskan waktu sekitar dua minggu untuk mewujudkan rancangan tersebut.
Pada Minggu, 11 Oktober 2026, Benny mengaku masih menguji alat itu. Ia belum menyelesaikan seluruh tahapan pengembangan, tetapi percobaannya sudah menghasilkan cairan dari sampah plastik.
Dari Sampah Menjadi Cairan
Benny menjalankan Bank Sampah Karya Lestari. Aktivitas tersebut mempertemukannya dengan persoalan sampah sehari-hari, termasuk plastik yang sulit terurai secara alami.
Dalam percobaannya, Benny memasukkan sekitar 0,3 kilogram plastik ke dalam alat. Proses pemanasan berlangsung sekitar satu setengah jam dan menghasilkan kurang lebih 40 mililiter cairan.
Uap dari proses pemanasan kemudian melewati kaleng obat nyamuk yang ia dinginkan menggunakan es. Pendinginan membantu mengubah uap menjadi cairan. Setelah itu, Benny melakukan penyulingan lanjutan selama sekitar 30 menit.
Ia menguji cairan tersebut menggunakan korek api untuk melihat apakah cairan bisa menyala. Namun, kemampuan menyala saja belum membuktikan bahwa cairan itu memiliki mutu dan karakteristik bensin yang layak untuk kendaraan.
Benny berencana menguji hasil percobaannya pada sepeda motor. Rencana itu masih memerlukan pengujian teknis sebelum siapa pun dapat menyimpulkan bahwa cairan tersebut aman dan cocok sebagai bahan bakar mesin.
Kreativitas yang Belum Menjawab Semua Pertanyaan
Pirolisis merupakan proses penguraian material melalui pemanasan dengan oksigen yang sangat terbatas. Teknologi ini dapat membantu mengolah jenis limbah tertentu, tetapi hasil akhirnya bergantung pada bahan baku, suhu, rancangan alat, dan kondisi proses.
Karena itu, hasil percobaan Benny perlu melewati pengujian laboratorium. Pengujian tersebut perlu memeriksa komposisi kimia, nilai kalor, karakter pembakaran, kandungan zat pencemar, serta dampaknya terhadap mesin dan lingkungan.
Ada pula persoalan keselamatan. Pemanasan plastik dapat menghasilkan uap berbahaya, sementara proses kondensasi dan penyulingan memerlukan kendali suhu serta peralatan yang memadai. Kebocoran, api, dan paparan zat berbahaya bisa menimbulkan risiko jika seseorang mengabaikan prosedur keselamatan.
Artinya, inovasi Benny layak mendapat perhatian, tetapi masyarakat tidak perlu buru-buru menganggapnya sebagai solusi siap pakai. Hasil awal menunjukkan potensi yang perlu diuji, bukan bukti bahwa persoalan sampah plastik dan kebutuhan bahan bakar sudah menemukan jawaban.
Mengapa Inovasi Warga Perlu Dukungan?
Percobaan Benny memperlihatkan bahwa gagasan teknologi bisa tumbuh dari pengalaman warga menghadapi masalah sehari-hari. Ia tidak memulai dari laboratorium besar, melainkan dari rasa ingin tahu dan barang-barang yang tersedia di sekitarnya.
Namun, keberanian mencoba belum cukup untuk membawa sebuah temuan menuju tahap berikutnya. Penemu lokal membutuhkan akses pengujian, pendampingan teknis, pembiayaan, serta kerja sama dengan lembaga penelitian atau perguruan tinggi.
Di sinilah dukungan publik dan pemerintah memiliki peran penting. Mereka dapat membantu warga menguji kelayakan gagasan, memperbaiki rancangan, dan menilai risiko sebelum sebuah inovasi digunakan lebih luas.
Dukungan itu tidak harus langsung berupa proyek besar. Fasilitas uji sederhana, pelatihan keselamatan, akses laboratorium, dan program pendampingan bisa menjadi langkah awal yang berarti.
Sebaliknya, masyarakat perlu berhati-hati ketika menghubungkan kesulitan penemu lokal dengan dugaan bahwa inovasi mereka mengancam perusahaan bahan bakar besar. Tanpa bukti, dugaan tersebut tidak bisa dianggap sebagai fakta. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah apakah sistem inovasi di Indonesia sudah memberi kesempatan yang memadai kepada warga untuk mengembangkan gagasan mereka.
Mengolah Sampah Bukan Sekadar Menghasilkan Bahan Bakar
Harapan Benny tidak berhenti pada cairan hasil percobaan. Ia ingin masyarakat mulai memilah sampah organik dan anorganik agar pengelolaan sampah menjadi lebih tertata.
Pesan itu penting karena pengolahan plastik menjadi bahan bakar bukan satu-satunya jalan untuk mengatasi persoalan sampah. Pengurangan plastik sekali pakai, penggunaan kembali, pemilahan, dan daur ulang tetap memegang peran penting.
Teknologi pirolisis pun tidak otomatis menghilangkan seluruh dampak lingkungan. Prosesnya dapat menghasilkan residu dan emisi yang membutuhkan pengelolaan sesuai standar. Karena itu, setiap pengembangan perlu menghitung manfaat sekaligus biaya lingkungan dan keselamatannya.
Kisah Benny pada akhirnya bukan semata-mata tentang mengubah plastik menjadi cairan yang bisa menyala. Kisah ini juga berbicara tentang jarak antara keberanian warga untuk berinovasi dan dukungan yang mereka perlukan agar sebuah gagasan berkembang secara aman.
Indonesia tidak kekurangan orang yang mau mencoba. Tantangannya terletak pada kemampuan membangun jalan dari eksperimen menuju pengujian, dari rasa ingin tahu menuju teknologi yang terukur, serta dari gagasan individu menuju manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pertanyaannya bukan hanya apakah sampah plastik bisa menghasilkan bahan bakar. Pertanyaan yang lebih besar ialah apakah kita bersedia mendampingi para penemu lokal, menguji gagasan mereka secara terbuka, dan memastikan bahwa inovasi benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat. @dimas








