Rabu, September 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Rokok Ilegal Dibakar di Hilir, Siapa yang Menikmati Uangnya di Hulu?

by teguh
September 15, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Bea Cukai mencatat sekitar 59,8 juta batang rokok ilegal ditindak sepanjang 2026, dengan estimasi potensi kerugian negara mencapai Rp46,79 miliar.

Tabooo.id – Angka tersebut menunjukkan besarnya peredaran rokok tanpa cukai. Namun, jumlah barang yang ditemukan belum menjawab persoalan utama siapa yang berada di balik rantai bisnisnya?.

Jutaan batang rokok tidak bergerak sendiri. Produksi membutuhkan modal, distribusi membutuhkan jaringan, sedangkan penjualan membutuhkan pasar.

Di titik inilah persoalan rokok ilegal menjadi lebih besar daripada sekadar pelanggaran cukai. Barangnya terlihat di hilir. Keuntungannya bisa saja mengalir ke hulu.

Kasus Rokok Ilegal: Yang Ditangkap Belum Tentu Paling Untung

Anggota Komisi III DPR RI Abdullah meminta aparat memperluas penindakan hingga produsen dan pemodal.

Dalam keterangannya pada 11/09/2026, Abdullah menilai pemberantasan tidak boleh berhenti pada pengecer atau distributor.

Ini Belum Selesai

Hari Kesembilan, Tim SAR Persempit Pencarian Jurnalis Hilang

Dari Teguran ke Tiga Pukulan: Kronologi Kematian Serda Ahmad

“Penindakan tidak boleh hanya berhenti pada pengecer atau distributor, tetapi harus ditelusuri hingga produsen dan pemodalnya.”

Abdullah juga mendorong penelusuran aliran uang dari bisnis rokok ilegal. Langkah tersebut penting untuk melihat kemungkinan penggunaan keuntungan bagi kegiatan ilegal lainnya.

Pengecer memang menjadi pihak yang paling mudah terlihat karena berhadapan langsung dengan konsumen. Posisi tersebut tidak otomatis membuat mereka menerima keuntungan terbesar.

Tabooo Twist-nya sederhana tangan yang menjual belum tentu tangan yang mengendalikan.

59,8 Juta Batang Membuka Pertanyaan Baru

Salah satu penindakan besar berlangsung pada 31 Agustus hingga 01/09/2026. Bea Cukai Jakarta dan Bea Cukai Marunda menindak lebih dari 10 juta batang rokok ilegal. Barang bukti dari Polres Metro Jakarta Barat kemudian menambah jumlah tersebut hingga 10.783.800 batang.

Estimasi potensi kerugian negara dari rangkaian penindakan itu mencapai sekitar Rp8,045 miliar. Temuan tersebut memperlihatkan panjangnya rantai distribusi. Produsen menghasilkan barang, gudang menyimpan persediaan, kendaraan mengangkutnya, distributor menyalurkan produk, lalu pengecer menjualnya.

Setiap titik memiliki fungsi ekonomi. Karena itu, penyitaan seharusnya menjadi pintu masuk untuk membongkar jaringan, bukan sekadar angka dalam laporan operasi.

Dari mana modal produksinya?, Siapa yang mengatur pergerakannya?, Pihak mana yang menerima keuntungan terbesar? dan ke mana uang hasil penjualan mengalir?

Jawaban atas pertanyaan tersebut menentukan apakah negara hanya mengambil barang ilegal dari pasar atau benar-benar memukul jaringan yang menopangnya.

Bea Cukai Mengaku Mengejar Sampai Ujung

Kepala Kanwil Bea Cukai Jakarta Hendri Darnadi menyatakan pihaknya berkomitmen mengejar jaringan hingga penerima manfaat akhir.

“Komitmen kami adalah akan kejar sampai ujungnya untuk memberikan efek jera. Kami kejar sampai penerima manfaat akhir.”

Pernyataan itu memperlihatkan arah penindakan yang lebih luas. Aparat tidak hanya mengambil barang dari pasar, tetapi juga berupaya menemukan pihak yang memperoleh manfaat dari peredaran tersebut.

Gudang dapat berpindah. Kendaraan bisa berganti. Pemain di tingkat pengecer pun mudah berubah. Aliran uang menawarkan petunjuk yang berbeda.

Jejak transaksi dapat membantu penyidik memetakan hubungan antara produsen, distributor, pemodal, dan penerima manfaat akhir sesuai kewenangan hukum.

Jika pendekatan itu berjalan konsisten, penindakan tidak lagi berhenti pada barang bukti. Aparat mulai membidik struktur bisnis di balik rokok ilegal.

Rokok Ilegal: Murah dan Daya Beli

Ekonom Yusuf Rendy Manilet dari Center of Reform on Economics menjelaskan pada 29/06/2026 mengenai fenomena downtrading yang berlangsung selama beberapa tahun.

Kenaikan cukai dan perbedaan harga antarkelompok rokok dapat mendorong konsumen memilih produk dengan harga lebih rendah.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budi Utama pada tanggal yang sama menyebut downtrading dan rokok ilegal sebagai tantangan bagi penerimaan negara.

Situasi tersebut menciptakan persoalan ekonomi yang tidak sederhana. Konsumen mencari harga terjangkau, sementara jaringan ilegal melihat peluang untuk mempertahankan permintaan.

Harga murah membuka pintu. Permintaan membuat bisnis tetap hidup. Karena itu, pemberantasan membutuhkan kombinasi antara penegakan hukum, pengawasan pasar, serta kebijakan yang mampu membaca perilaku konsumen.

Bisnis Ilegal Juga Menghitung Risiko

Pakar hukum pidana dan kriminologi Dr. Ririn Nur Fatirani menggunakan konsep rational choice crime ketika menjelaskan perilaku pelaku kejahatan ekonomi.

Dalam wawancara dengan RRI pada 17/07/2026, ia menjelaskan bahwa pelaku mempertimbangkan keuntungan dan risiko hukum sebelum menjalankan aktivitas ilegal.

Perspektif tersebut membantu membaca mengapa jaringan dapat mencari cara baru setelah aparat melakukan penindakan.

Sebuah gudang mungkin tutup, tetapi jalur distribusi lain dapat muncul. Pemain lapangan juga dapat berganti tanpa menghilangkan sumber modal.

Selama keuntungan masih menarik dan risiko hukum dianggap dapat ditanggung, insentif ekonomi tetap tersedia.

Efek jera akhirnya harus menyentuh pusat keuntungan, bukan sekadar ujung rantai.

Celah Pengawasan Bisa Menjadi Jalan Masuk

Pengamat kebijakan publik Ronny Bako pada 21/04/2026 menyoroti tata kelola cukai, termasuk hubungan antara produksi rokok dan distribusi pita cukai.

Ia memberikan ilustrasi mengenai produksi satu juta batang dan kebutuhan pita cukai yang seharusnya mengikuti jumlah produksi.

“Kalau diproduksi satu juta batang, maka pita cukai yang keluar juga harus satu juta. Tapi di lapangan sering kali tidak seperti itu. Di situ muncul celah.”

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa operasi lapangan bukan satu-satunya pekerjaan rumah.

Pengawasan produksi perlu berjalan bersama pemantauan distribusi. Pertukaran data antarlembaga juga penting agar aparat dapat membaca pola pergerakan barang.

Jaringan mencari celah. Negara harus mempersempit ruang geraknya.

Industri Legal Ikut Membayar Harganya

Pelaku usaha legal menghadapi kewajiban cukai dan berbagai aturan produksi. Produk ilegal tidak menanggung beban yang sama.

Perbedaan tersebut dapat menghasilkan harga yang lebih rendah dan menciptakan persaingan tidak seimbang.

Anggota Komisi III DPR RI Syarifuddin Sudding menyoroti persoalan itu pada 11/09/2026. Ia menyebut rokok ilegal tidak hanya berkaitan dengan penerimaan negara, tetapi juga kesehatan masyarakat dan persaingan usaha.

“Produsennya yang menerima manfaat dari rokok-rokok ilegal ini harus dimintai pertanggungjawaban hukum.”

Pesannya tegas penindakan harus mengikuti struktur manfaat, bukan hanya struktur penjualan.

Jangan Berhenti Menghitung Batang

Penindakan 59,8 juta batang menunjukkan skala kerja aparat. Namun, angka tersebut belum membuktikan bahwa jaringan rokok ilegal sudah lumpuh.

Ukuran keberhasilan harus bergerak lebih jauh. Berapa produsen yang berhasil dibongkar?, Siapa saja pemodal yang teridentifikasi?, Jaringan distribusi mana yang benar-benar terputus?, Seberapa jauh aliran uang berhasil ditelusuri?.

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena pengecer dapat berganti, jalur distribusi bisa berubah, dan produksi mampu mencari ruang baru.

Selama keuntungan masih tersedia, bisnis akan memiliki alasan untuk bertahan. Kejar barangnya. Bongkar jaringannya. Ikuti uangnya. Putus keuntungannya.

Membakar rokok ilegal hanya menghancurkan barang yang sudah ditemukan. Membongkar pihak yang memproduksi, membiayai, mengendalikan, dan menikmati uangnya adalah pertarungan yang sebenarnya. @teguh

Tags: Bea CukaiCukaiEkonomiIndustri TembakauKomisi III DPRPenegakan HukumPenerimaan NegaraPolres Metro Jakarta BaratRokok Ilegal 2026

Kamu Melewatkan Ini

59,8 Juta Batang Rokok Ilegal Ditindak, DPR Minta Jangan Berhenti di Pengecer

Sekitar 59,8 Juta Batang Rokok Ilegal Ditindak, DPR: Jangan Berhenti di Pengecer

by teguh
September 12, 2026

Bea Cukai Jakarta mencatat penindakan terhadap sekitar 59,8 juta batang rokok ilegal sepanjang 2026. Nilai potensi kerugian negara dari peredaran...

Karhutla Kalimantan: Saat Api, Adat dan Hukum Beradu

Karhutla Kalimantan: Saat Api, Adat dan Hukum Beradu

by dimas
September 7, 2026

Karhutla Kalimantan mempertemukan persoalan kebakaran, tradisi masyarakat adat, penegakan hukum, dan konflik penguasaan lahan dalam satu dilema. Tabooo.id - Kabut...

Jejak John Field: Tujuh Setoran Rp525 Juta ke Bea Cukai

Jejak John Field: Tujuh Setoran Rp525 Juta ke Bea Cukai

by dimas
September 3, 2026

Jejak John Field terungkap dalam tujuh setoran senilai Rp525 juta ke Bea Cukai, termasuk aliran uang dan kode “BY” yang...

Next Post
Pendakian Gunung Lawu Ditutup Total, Titik Api Jadi Ancaman

Pendakian Gunung Lawu Ditutup Total, Titik Api Jadi Ancaman

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id