Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Prabowo Berubah, atau Sistem yang Mengubahnya?

by Naysa
Oktober 8, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Ada ironi dalam perjalanan Prabowo Subianto: orang yang dulu berdiri di luar pagar kekuasaan kini memegang kunci gerbangnya. Kritik terhadap kebocoran, ketergantungan asing, dan lemahnya negara perlahan berubah menjadi kebijakan, institusi, dan keputusan yang harus ia pertanggungjawabkan sendiri.

Tabooo.id – Dulu Prabowo Subianto berdiri di luar sistem dan menyerangnya dari podium. Kini ia berada di pusat sistem itu sendiri.

Perubahan tersebut bukan sekadar perpindahan kursi dari oposisi ke istana. Ada perubahan cara berpikir, gaya berpolitik, cara mengelola negara, sampai cara Indonesia memosisikan diri di tengah persaingan kekuatan global.

Pertanyaannya sederhana, apa yang sebenarnya berubah dari Prabowo?

Dari Seragam Militer ke Panggung Politik

Prabowo membangun sebagian besar identitas publiknya dari dunia militer.

Ia lulus dari Akademi Militer pada 1974 dan kemudian meniti karier di Kopassus. Ia menjabat Komandan Jenderal Kopassus pada 1995–1998 dan Pangkostrad pada 1998. Pengalaman tersebut ikut membentuk cara pandangnya tentang negara, kedaulatan, dan keamanan.

Ini Belum Selesai

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Namun, Reformasi 1998 mengubah jalurnya. Karier militernya berakhir. Prabowo kemudian menjalani fase di luar negeri sebelum kembali ke Indonesia dan membangun jaringan bisnis. Ia juga mulai memperluas pengaruh melalui organisasi masyarakat seperti HKTI dan IPSI.

Lalu pada 2008, ia mendirikan Partai Gerindra. Di titik inilah seragam militer mulai berganti dengan identitas politik.

Prabowo yang Dulu: Negara Sedang Bocor

Dalam kontestasi politik 2009, 2014, dan 2019, Prabowo membangun citra sebagai pengkritik keras sistem ekonomi-politik Indonesia.

Narasinya tegas, kekayaan negara bocor, sumber daya alam terlalu banyak mengalir keluar, petani dan sektor domestik tertinggal, sementara ketergantungan terhadap modal asing terlalu besar.

Ia membawa gagasan Ekonomi Kerakyatan sekaligus kritik terhadap apa yang dianggapnya sebagai eksploitasi ekonomi dan kelemahan negara.

Gaya komunikasinya juga berbeda dari Prabowo hari ini.

Dulu, bahasa politiknya lebih konfrontatif. Ia berbicara tentang krisis, kebocoran kekayaan nasional, ancaman kepentingan asing, dan kegagalan elite.

Prabowo berada di luar sistem. Karena itu, ia bebas menunjuk siapa yang dianggap bermasalah.

Lalu Prabowo Masuk ke Dalam Sistem

Perubahan besar mulai terlihat ketika Prabowo menjadi Menteri Pertahanan pada 2019–2024.

Posisi tersebut memaksanya berhadapan langsung dengan birokrasi, anggaran negara, diplomasi pertahanan, dan kompleksitas pengambilan keputusan pemerintah.

Anggaran Kementerian Pertahanan mencapai Rp127,35 triliun pada 2020 dan Rp129,3 triliun pada 2021. Pengalaman tersebut memberi Prabowo kesempatan untuk bergerak dari posisi pengkritik menjadi bagian dari mesin negara.

Ini penting. Sebab mengkritik sistem dan menjalankan sistem adalah dua pekerjaan yang berbeda.

Ketika berada di luar pemerintahan, masalah terlihat seperti daftar kegagalan.

Ketika berada di dalam pemerintahan, setiap solusi memiliki harga, birokrasi, kepentingan, dan konsekuensi.

Di sinilah metamorfosis Prabowo mulai terlihat.

Dari Retorika ke Infrastruktur Kekuasaan

Setelah memenangkan Pilpres 2024 dan memimpin Kabinet Merah Putih, Prabowo tidak lagi hanya menawarkan kritik.

Ia mulai membangun instrumen untuk menjalankan gagasannya.

Pemerintah mendorong Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional atau DTSEN untuk memperbaiki ketepatan sasaran program sosial. Pemerintah juga menjalankan Program Makan Bergizi Gratis dalam skala besar.

Pada 20 Oktober 2025, pemerintah disebut telah membangun 12.508 SPPG di 38 provinsi. Fasilitas tersebut mendistribusikan lebih dari 36,7 juta porsi makanan setiap hari, dengan target 32.000 SPPG pada akhir 2025.

Di sisi ekonomi, pemerintah membentuk Badan Pengelola Investasi Danantara untuk mengonsolidasikan aset negara.

Di sinilah gagasan nasionalisme Prabowo mendapatkan bentuk baru.

Dulu, nasionalisme itu banyak muncul sebagai kritik terhadap sistem.

Sekarang, nasionalisme diterjemahkan menjadi institusi, anggaran, data, investasi, dan program pemerintah.

Nasionalisme yang Berubah Bentuk

Perubahan itu juga terlihat dari cara Prabowo memandang ekonomi.

Pada masa oposisi, pendekatannya cenderung proteksionis. Ia menekankan perlindungan ekonomi domestik dan kewaspadaan terhadap eksploitasi asing.

Saat menjadi presiden, pendekatannya bergerak menuju kombinasi antara kesejahteraan sosial, investasi, dan kapitalisme negara yang lebih terintegrasi. Danantara menjadi salah satu instrumen penting dalam konstruksi tersebut.

Jadi, apakah Prabowo meninggalkan gagasan lamanya?

Tidak sepenuhnya. Yang berubah adalah cara gagasan itu dijalankan.

Prabowo tidak lagi hanya mengatakan negara harus kuat.

Ia sekarang harus membuktikan bagaimana negara yang kuat bekerja.

Dari Politik Konfrontatif ke Politik Big Tent

Perubahan lain terlihat dalam gaya pemerintahannya.

Prabowo sekarang mengelola koalisi besar. Ia tidak lagi berdiri sebagai penantang sistem, tetapi sebagai pusat konsolidasi berbagai kekuatan politik.

Pendekatan tersebut berbeda dari gaya oposisi yang lebih konfrontatif.

Dulu, kekuatan politik dibangun dengan membedakan “kita” dan “mereka”.

Sekarang, kekuatan politik justru dibangun dengan memasukkan lebih banyak kelompok ke dalam satu tenda besar.

Ini membuat politik Prabowo semakin pragmatis. Bukan berarti konflik hilang.

Konflik hanya berpindah tempat, dari panggung oposisi ke meja pengambilan keputusan.

Politik Luar Negeri: Indonesia Tak Lagi Sekadar Cari Investasi

Metamorfosis Prabowo juga terlihat di luar negeri.

Era sebelumnya banyak dikenal dengan diplomasi yang berorientasi pada kepentingan ekonomi, investasi, dan pembangunan.

Di era Prabowo, pertahanan dan keamanan semakin masuk ke dalam kalkulasi diplomasi Indonesia. Pendekatan tersebut mengarah pada apa yang disebut sebagai strategic assertiveness.

Indonesia tetap menjalankan prinsip Bebas dan Aktif.

Namun, cara mengartikulasikannya menjadi lebih aktif dalam menghadapi kompetisi geopolitik.

Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak akan bergabung dengan blok militer tertentu. Pada saat yang sama, pemerintah memperluas hubungan dengan berbagai kekuatan dan forum internasional.

Indonesia berusaha tidak memilih satu kubu. Indonesia memilih memperbesar ruang geraknya sendiri.

Bebas Aktif, Tapi dengan Otot yang Lebih Besar

Prinsip Bebas Aktif bukan barang baru. Yang berubah adalah konteksnya.

Dalam dunia yang semakin multipolar, netralitas tanpa kapasitas bisa menjadi sekadar posisi moral. Karena itu, pendekatan Prabowo menggabungkan diplomasi dengan modernisasi pertahanan dan peningkatan daya tawar negara.

Keterlibatan Indonesia dalam forum seperti D-8, ketertarikan terhadap BRICS, serta perluasan hubungan ekonomi ke Afrika, Amerika Latin, dan Asia Tengah menunjukkan upaya diversifikasi hubungan internasional.

Indonesia tidak ingin hanya menjadi pasar. Indonesia ingin menjadi pemain.

Pertanyaannya kemudian adalah seberapa besar kemampuan negara untuk mempertahankan posisi tersebut?

Di Sinilah Ujian Prabowo Sebenarnya

Perubahan Prabowo dari pengkritik sistem menjadi pengendali sistem memang terlihat jelas.

Namun, metamorfosis politik tidak otomatis berarti keberhasilan. Justru sekarang ukurannya menjadi lebih berat.

Ketika masih menjadi oposisi, Prabowo bisa mengatakan negara mengalami kebocoran.

Sebagai presiden, ia harus membuktikan bahwa sistem yang ia kendalikan tidak mengulangi masalah yang dahulu ia kritik.

Ketika pemerintah mengalokasikan sumber daya besar untuk program sosial, pertanyaannya bukan lagi apakah program tersebut populer.

Pertanyaannya adalah apakah program itu efektif, tepat sasaran, berkelanjutan, dan mampu menjaga kesehatan fiskal?

Ketika negara membangun kekuatan pertahanan, pertanyaannya bukan sekadar seberapa besar anggarannya.

Pertanyaannya adalah apakah kekuatan tersebut benar-benar meningkatkan posisi tawar Indonesia?

Ini Bukan Sekadar Perubahan Prabowo

Perjalanan Prabowo menunjukkan sesuatu yang lebih besar daripada perubahan seorang politisi.

Ia memperlihatkan bagaimana seorang tokoh dapat berubah ketika berpindah dari mengkritik negara menjadi menjalankan negara.

Prabowo pra-presidensi identik dengan oposisi, nasionalisme proteksionis, kritik terhadap kebocoran kekayaan, dan kewaspadaan terhadap kekuatan asing.

Prabowo sebagai presiden bergerak ke arah konsolidasi institusi, program kesejahteraan berskala besar, kapitalisme negara, modernisasi pertahanan, dan diplomasi yang lebih strategis.

Namun, inti nasionalismenya masih terlihat. Bedanya, dulu nasionalisme itu berbentuk pidato. Sekarang nasionalisme harus berubah menjadi kebijakan yang bekerja.

Dan di situlah ujian terbesar Prabowo dimulai. Sebab menjadi pengkritik sistem hanya membutuhkan keberanian untuk menunjuk masalah.

Menjadi pengendali sistem membutuhkan keberanian yang jauh lebih mahal yaitu kesediaan bertanggung jawab ketika masalah itu sekarang menjadi milik sendiri. @naysa

Tags: Ekonomi KerakyatanGeopolitikKabinet Merah PutihkepemimpinanPemerintahan PrabowoPrabowo Subianto

Kamu Melewatkan Ini

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

by teguh
Oktober 19, 2026

Diplomasi sering dimulai dari sebuah jabat tangan. Dua tokoh bertemu yaitu, Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang kamera merekam, lalu pernyataan...

Prabowo dan Guterres Bertemu di Hambalang, Apa Agenda Indonesia di Panggung Dunia?

Prabowo dan Guterres Bertemu di Hambalang, Apa Agenda Indonesia di Panggung Dunia?

by teguh
Oktober 19, 2026

Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, di kediaman pribadinya di Hambalang, Jawa Barat, Minggu...

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

by eko
Oktober 18, 2026

Survei SMRC mencatat kepuasan publik terhadap Prabowo turun menjadi 44,5 persen. Harga sembako, ekonomi, penegakan hukum, dan program pemerintah menjadi...

Next Post
Bullying di Sekolah: Mengapa Korban Memilih Diam?

Bullying di Sekolah: Mengapa Korban Memilih Diam?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id