Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Polri Melawan Putusan MK: Salah Tafsir atau Sengaja Membangkang?

by sigit
Desember 13, 2025
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Mari jujur sebentar. Ketika Mahkamah Konstitusi sudah bilang “tidak boleh”, tetapi institusi negara justru menjawab, “ya boleh dong, asal diatur ulang”, itu sebenarnya apa namanya? Salah paham? Tafsir kreatif? Atau jujur saja pembangkangan yang dibungkus rapi dengan bahasa regulasi?

Pertanyaan inilah yang membuat dahi publik berkerut saat Kapolri menerbitkan Peraturan Polri Nomor 10 Tahun 2025, tepat sebulan setelah MK secara tegas melarang anggota Polri aktif menduduki jabatan sipil. Ibarat dokter sudah melarang kopi, tetapi pasien malah mengganti gelasnya dengan ukuran jumbo. Sulit mencari logikanya.

Di obrolan kafe pinggir jalan, isu ini mungkin terdengar receh. “Ah, paling juga urusan elit,” kata sebagian orang. Namun, tunggu dulu. Ini bukan semata soal polisi duduk di kursi kementerian. Ini soal satu hal mendasar: apakah hukum masih berperan sebagai wasit, atau justru berubah menjadi penonton yang hanya bisa berteriak dari tribun?


Putusan MK Itu Final, Bukan Rekomendasi

Argumen utamanya sebenarnya sederhana, tetapi dampaknya panjang. Putusan MK bersifat final dan mengikat. Ia bukan saran kebijakan, bukan opini akademik, apalagi polling media sosial. Melalui putusan itu, MK mencabut celah hukum yang selama ini dipakai: polisi aktif harus mundur atau pensiun jika ingin menduduki jabatan sipil.

Tujuannya pun terang-benderang. MK ingin menjaga netralitas Polri, mencegah konflik kepentingan, dan memastikan polisi fokus sebagai penegak hukum bukan pemain politik.

Ini Belum Selesai

Mahasiswa, Nabi Jalanan yang Kelak Menjadi Bagian dari Sistem?

Seruan Reformasi Jilid 2: Aspirasi Publik atau Nostalgia Politik?

Namun, Perpol 10/2025 justru membawa polisi aktif kembali “diparkir” di 17 kementerian dan lembaga, mulai dari Kemenkumham hingga KPK. Langkah ini bukan hanya kontradiktif. Ia seolah menyampaikan pesan santai kepada publik: tenang saja, putusan MK masih bisa dinegosiasikan.

Masalahnya, ketika penegak hukum mulai mengakali hukum, publik wajar bertanya: kita masih bisa berharap apa? Tilang yang jujur? Penyidikan yang independen? Atau reformasi Polri yang selama ini lebih sering terdengar sebagai jargon seminar ketimbang praktik nyata?

Di titik ini, kepercayaan publik tidak sekadar retak. Ia terkikis pelan-pelan. Konflik kepentingan bukan isu imajiner. Polisi yang duduk di lembaga sipil berdiri di dua dunia sekaligus: satu kaki di penegakan hukum, kaki lain di kebijakan politik. Sejarah berkali-kali menunjukkan, posisi setengah-setengah seperti ini sering berakhir abu-abu atau hitam sekalian.


Argumen Pembelaan: Masuk Akal, Tapi Rapuh

Tentu saja, tidak semua pihak sepakat dengan kritik ini. Ada yang berargumen, “Putusan MK tidak berlaku surut.” Artinya, pejabat yang sudah menjabat boleh melanjutkan tugasnya. Jika ditarik mendadak, negara bisa mengalami kekacauan administratif.

Sekilas, argumen ini terdengar rasional, terutama bagi mereka yang khawatir pada perubahan mendadak. Bahkan, sebagian kalangan masyarakat sipil dan ormas besar melihatnya sebagai jalan tengah yang lebih aman.

Namun, secara konstitusional, argumen ini rapuh. Putusan MK tidak mengatur teknis administrasi semata, melainkan prinsip dasar negara hukum. Dalam konteks seperti ini, putusan berlaku serta-merta. Jika tafsir “tidak berlaku surut” digunakan seenaknya, maka besok setiap lembaga bisa membuat versi hukumnya sendiri. MK pun berisiko berubah menjadi sekadar pajangan demokrasi.

Pertanyaannya jadi sangat sederhana: kalau putusan MK bisa diabaikan, lalu untuk apa MK ada?


Sikap Tabooo: Kritis, Tapi Tidak Sinis

Jujur saja, Perpol 10/2025 terasa seperti gejala lama yang kambuh. Reformasi Polri yang sering dibanggakan justru terdengar makin nostalgik indah di forum diskusi, pahit di lapangan praktik.

Kritik ini bukan serangan personal terhadap Kapolri. Ini kritik terhadap sistem yang terlalu nyaman dengan kekuasaan. Polisi seharusnya mengayomi, bukan menguasai. Ia seharusnya netral, bukan lentur mengikuti kebutuhan politik.

Di sinilah peran Presiden menjadi krusial. Presiden bukan sekadar kepala pemerintahan, melainkan penjaga disiplin konstitusi. Menghentikan Perpol 10/2025, menarik polisi aktif dari jabatan sipil, dan menyiapkan transisi ke ASN sipil bukan tanda kelemahan. Justru itulah tanda negara yang dewasa dan taat hukum.

Kalau bukan sekarang, lalu kapan lagi?


Penutup: Negara Hukum Butuh Keberanian

Indonesia bukan negara polisi. Indonesia adalah negara hukum setidaknya begitu yang tertulis di konstitusi. Namun, hukum hanya bermakna jika semua pihak mematuhinya, terutama mereka yang diberi wewenang untuk menegakkannya.

Kini, bola ada di tangan pemerintah. Bola itu juga ada di tangan kita sebagai publik. Kita bisa memilih diam sambil menghela napas, atau terus bertanya, mengawasi, dan bersuara.

Sebab, pada akhirnya, ini bukan sekadar soal Perpol atau MK. Ini soal arah negara yang ingin kita jaga bersama.

Lalu, kamu di kubu mana? (red)

Tags: MKPolripresidenputusanReformasi Polri

Kamu Melewatkan Ini

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

by Tabooo
Juni 10, 2026

UU Polri baru tidak hanya mengubah batas usia pensiun. Aturan ini juga membuka pertanyaan besar soal regenerasi, kewenangan digital, ruang...

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

by Tabooo
Juni 10, 2026

DPR RI resmi sahkan RUU Polri menjadi undang-undang dalam rapat paripurna. DPR menyebut aturan baru ini memperkuat transformasi, pengawasan, netralitas,...

Ledakan dari Masa Lalu: Bom Sisa Perang Dunia II Paksa Warga Biak Tinggalkan Rumah

Ledakan dari Masa Lalu: Bom Sisa Perang Dunia II Paksa Warga Biak Tinggalkan Rumah

by teguh
Juni 3, 2026

Suara ledakan bom sisa perang dunia II itu mengakhiri ketenangan siang di pesisir Biak. Dalam hitungan detik, rumah-rumah berguncang, puing...

Next Post
ARC Raiders, Bukti Bahwa Game Tak Harus Berisik untuk Menang

ARC Raiders, Bukti Bahwa Game Tak Harus Berisik untuk Menang

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id