Tabooo.id: Life – Di Padukuhan Kalangan, Gunungkidul, pemandangan itu terasa seperti adegan yang sengaja menampar stereotip. Sejumlah pria bertato, berbaju hitam, dengan aura jalanan yang keras, berjalan menuju sawah di bawah matahari pagi. Banyak orang mungkin mengira mereka hendak nongkrong atau bikin keributan. Nyatanya, mereka sedang bekerja menanam pangan.
Mereka dikenal sebagai Petani Punk Gunungkidul. Dan ironisnya, di saat banyak anak muda malu jadi petani, justru mereka yang datang menyelamatkan ladang.
Selasa, 14/04/2026, SiBagz salah satu penggerak komunitas itu bercerita kepada Kompas.com tentang perjalanan hidup yang tak biasa. Dari anak jalanan, perantau Jabodetabek, sampai akhirnya kembali ke tanah kelahiran dan memilih lumpur sawah sebagai ruang perlawanan.
“Dulu kami menertawakan petani tua yang masih kerja di sawah. Tapi pas pulang, saya sadar: kalau petani tidak ada regenerasi, nanti siapa yang bertani?” kata SiBagz.
Kalimat itu sederhana. Tapi bunyinya seperti alarm nasional.
Krisis yang Jarang Dibahas: Petani Menua, Anak Muda Menjauh
Indonesia sering ribut soal impor beras, harga cabai, atau pupuk mahal. Namun, kita jarang bicara soal masalah paling sunyi petani makin tua, sementara anak muda makin jauh dari sawah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Sensus Pertanian 2023 menunjukkan mayoritas petani Indonesia kini berusia di atas 45 tahun. Sementara proporsi petani muda terus mengecil. Artinya, lahan masih ada, tetapi penerusnya makin sedikit.
Pengamat pertanian dari IPB University, Dwi Andreas Santosa, pernah mengingatkan bahwa ancaman sektor pangan Indonesia bukan hanya soal produksi, tetapi soal regenerasi tenaga tani. Menurutnya, jika anak muda enggan masuk sektor pertanian, Indonesia akan menghadapi masalah serius dalam jangka panjang.
Masalahnya bukan karena anak muda malas. Masalahnya karena bertani sering dipersepsikan sebagai pekerjaan berat, berpenghasilan kecil, dan minim gengsi. Kota menjanjikan lampu terang. Sawah dianggap ruang sepi. Padahal, tanpa sawah, kota hanya akan makan janji.
Dari Sertifikat Orang Tua ke Ladang Harapan
SiBagz paham risiko itu. Karena itulah, pada 2018, ia mengambil keputusan nekat meminjam sertifikat tanah orang tuanya senilai Rp25 juta untuk modal bertani.
Ia belum punya pengalaman. Ia hanya punya tekad.
Bersama sekitar 15 anak jalanan dari berbagai daerah, ia menanam bawang merah di lahan 1.500 meter persegi. Mereka belajar sambil jatuh. Salah memakai alat, salah hitung musim, salah membaca tanah. Tetapi mereka terus jalan.
“Kalau gagal bayar angsuran, orang tua saya ikut jadi punk. Jadi gembel, tidak punya rumah,” ujarnya sambil tertawa.
Tawa itu terdengar ringan. Padahal isinya ketakutan kelas pekerja gagal sekali, habis segalanya.
Namun panen pertama datang. Utang lunas. Dan sejak itu, mereka tahu satu hal penting stigma bisa kalah oleh hasil kerja.
Investor Datang, Warga Jadi Penonton?
Kegelisahan SiBagz tidak berhenti di panen. Ia melihat banyak pemuda kampung tak lagi tertarik bertani, meski lahir dari keluarga petani. Mereka lebih tertarik merantau, kerja serabutan, atau menunggu peluang yang tak pasti.
Karena itu, sejak 2022 ia mulai mengajak ratusan anak muda belajar menanam. Mereka memakai lahan kosong dekat makam, menyiapkan 1.500 polybag, lalu menanam cabai. Hasilnya panen. Kini sekitar 120 pemuda masuk binaannya.
“Goal saya ada anak muda yang mengerti bertani. Jangan sampai investor datang, lalu warga lokal cuma jadi satpam atau pegawai,” kata SiBagz.
Kalimat ini menusuk. Sebab di banyak daerah, cerita itu nyata: tanah diwariskan leluhur, tapi nilai ekonominya dinikmati pemodal. Anak kampung hanya kebagian seragam kerja.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Sunyoto Usman, dalam berbagai kajian ketimpangan pedesaan menilai bahwa desa kerap kehilangan posisi tawar ketika generasi mudanya tak punya akses keterampilan dan kepemilikan aset produktif.
Artinya, regenerasi petani bukan sekadar urusan bercocok tanam. Ini soal siapa yang akan menguasai desa di masa depan.
Bertani Organik: Melawan Ketergantungan
Komunitas ini juga memilih jalur yang tidak populer menolak pupuk kimia. Mereka meracik pupuk dan pestisida alami dari urin kambing, air leri, hingga empon-empon.
“Kita memanfaatkan potensi yang ada,” ujar SiBagz.
Di tengah harga pupuk yang sering melonjak dan distribusi yang kerap bermasalah, langkah ini terasa masuk akal. Mereka tak ingin nasib tanam bergantung pada toko.
Peneliti BRIN bidang pertanian berkelanjutan, Badan Riset dan Inovasi Nasional, dalam sejumlah publikasi menilai praktik pertanian organik dan input lokal dapat memperkuat kemandirian petani kecil serta menjaga kesehatan tanah dalam jangka panjang.
Singkatnya, mereka bukan cuma menanam sayur. Mereka sedang menanam kedaulatan.
Anak Punk Menjaga Pangan, Kita Masih Sibuk Menghakimi
Masyarakat sering menilai orang dari pakaian, rambut, tato, atau masa lalu. Namun di Gunungkidul, sekelompok anak punk justru sedang mengerjakan hal yang makin jarang dikerjakan banyak orang memastikan pangan tetap tumbuh.
Mereka tidak datang membawa seminar motivasi. Mereka datang membawa cangkul.
Dan mungkin pertanyaan paling penting hari ini bukan kenapa anak punk bertani. Pertanyaannya justru ini: kenapa begitu sedikit anak muda lain yang mau?
Kalau generasi muda terus meninggalkan sawah, suatu hari kita akan sadar terlambat bahwa makanan tidak tumbuh dari aplikasi, tetapi dari tanah yang diolah tangan manusia. @teguh






