Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Palestina: Trump Kecam Israel Rencana Aneksasi Tepi Barat

by Anisa
Februari 11, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global

Tabooo.id: Global – Washington memanas, Tel Aviv tetap ngotot. Gedung Putih secara terbuka menolak rencana Israel untuk memperluas kendali sekaligus menganeksasi wilayah Tepi Barat, Palestina. Penolakan ini muncul setelah pemerintah Israel merilis kebijakan baru yang membuka jalan bagi ekspansi permukiman Yahudi di wilayah pendudukan.

Langkah Israel itu langsung memicu reaksi dari Washington. Seorang pejabat Gedung Putih menegaskan bahwa Presiden AS Donald Trump menentang rencana aneksasi tersebut. Menurutnya, stabilitas Tepi Barat justru lebih menguntungkan bagi keamanan Israel dan sejalan dengan agenda perdamaian AS di Timur Tengah.

“Stabilitas Tepi Barat menjaga keamanan Israel dan mendukung tujuan perdamaian kawasan,” ujar pejabat itu, dikutip dari The Guardian.


Israel Tancap Gas, AS Tarik Rem

Namun demikian, sikap AS berbanding terbalik dengan manuver Israel di lapangan. Pada Minggu (8/2/2026), kabinet keamanan Israel menyetujui aturan yang mengizinkan warga Yahudi Israel membeli tanah di Tepi Barat secara langsung. Selain itu, Israel juga berencana memperluas kontrol atas wilayah yang selama ini berada di bawah Otoritas Palestina.

Tak hanya itu, pemerintah Israel akan mencabut aturan warisan yurisdiksi Yordania sebelum 1967. Akibatnya, data registrasi tanah kini terbuka untuk publik. Dengan aturan baru ini, warga Yahudi makin mudah membeli tanah, sementara warga Palestina semakin tersisih.

Ini Belum Selesai

Ketika Polisi Dilarang Nge-Vape, Siapa yang Mengawasi Pengawas?

Banjir Lahar Dingin Semeru Jebol Tanggul, Akses Jalan Lumajang Terputus


Tujuan Terang-terangan: Kubur Negara Palestina

Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich berbicara tanpa basa-basi. Bersama Menteri Pertahanan Israel Katz, ia menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan memperkuat keberadaan Israel di seluruh wilayah yang mereka klaim sebagai Tanah Israel.

Menurut Smotrich, langkah tersebut juga dimaksudkan untuk “mengubur ide negara Palestina”. Pernyataan ini sekaligus menegaskan arah politik Israel yang semakin menjauh dari solusi dua negara.

Di sisi lain, reformasi ini menyasar sektor sensitif. Israel mengambil alih kewenangan izin bangunan di Hebron dari Otoritas Palestina. Israel juga meningkatkan kontrol atas dua situs religius utama di selatan Tepi Barat, yakni Makam Rahel dekat Bethlehem dan Gua Makpela di Hebron.


Siapa Diuntungkan, Siapa Dikorbankan?

Keuntungan terbesar jatuh ke tangan sekitar 500.000 pemukim Israel di Tepi Barat. Mereka kini mendapat kepastian hukum, ruang ekspansi, dan perlindungan negara.

Sebaliknya, hampir tiga juta warga Palestina harus menanggung dampaknya. Ruang hidup mereka menyempit, baik secara politik, ekonomi, maupun teritorial. Kepresidenan Palestina di Ramallah menilai kebijakan ini sebagai langkah nyata untuk memperdalam aneksasi wilayah pendudukan.


Dunia Bereaksi Keras

Gelombang kecaman pun mengalir dari berbagai penjuru dunia. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinan mendalam. Ia menilai langkah Israel bersifat destabilisasi dan merusak peluang solusi dua negara.

Guterres juga mengingatkan bahwa Mahkamah Internasional telah menyatakan pendudukan Israel atas wilayah Palestina sebagai tindakan ilegal. Inggris turut bersuara. London menegaskan bahwa perubahan sepihak atas susunan geografis dan demografis Palestina bertentangan dengan hukum internasional.

Selain itu, blok negara Arab dan mayoritas Muslim termasuk Arab Saudi, UEA, Yordania, Qatar, Indonesia, Pakistan, Mesir, dan Turkiye secara kompak mengutuk langkah Israel.


Di tengah tekanan global ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Donald Trump di AS pada Rabu (11/2/2026).

Kini pertanyaannya tak lagi rumit. Saat Gedung Putih saja sudah berkata “cukup”, akankah Israel berhenti atau justru semakin keras menancapkan kuku? @esp

Tags: Donald TrumpGazaGedung PutihIsraelPalestinapresiden

Kamu Melewatkan Ini

Ribuan Massa Suarakan Penolakan di Tengah Konser Andrea Bocelli

Ribuan Massa Suarakan Penolakan di Tengah Konser Andrea Bocelli

by dimas
Oktober 31, 2026

Ribuan massa menggelar aksi penolakan konser Andrea Bocelli di Candi Borobudur, Magelang, terkait polemik rekam jejak dan isu Palestina. Tabooo.id...

Di Tengah Penolakan, Konser Andrea Bocelli Tetap Berlangsung di Borobudur

Di Tengah Penolakan, Konser Andrea Bocelli Tetap Berlangsung di Borobudur

by dimas
Oktober 31, 2026

Konser Andrea Bocelli di Candi Borobudur tetap digelar di tengah penolakan terkait isu Palestina. Polda Jawa Tengah menyiagakan pengamanan selama...

Pilot WNI Ditolak Israel, Pesawat Kembali: Siapa Harus Menjelaskan?

Pilot WNI Ditolak Israel, Pesawat Kembali: Siapa Harus Menjelaskan?

by teguh
Oktober 14, 2026

Sebuah pesawat sudah mengudara. Tujuannya jelas, rute penerbangan sudah berjalan, dan misi pengiriman kargo seharusnya tinggal mengikuti prosedur. Namun, perjalanan...

Next Post
Konsep Otomatis

Iran Pasang Spanduk Ancaman Rudal ke Israel Jelang Netanyahu Temui Trump

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id