Tabooo.id: News – Seorang turis asal China berinisial RF mengalami mimpi buruk saat berlibur di Bali. Ia awalnya hanya ingin pulang ke penginapan setelah keluar dari kelab malam. Namun, perjalanan itu justru berubah menjadi kasus kekerasan seksual.
Peristiwa ini terjadi di kawasan Uluwatu, Desa Pecatu, Kuta Selatan, Badung, pada Senin (23/3). Saat itu, korban berada dalam pengaruh alkohol, sehingga kondisinya tidak sepenuhnya sadar.
Modus: Dari Tawaran Bantuan ke Kejahatan
Pelaku berinisial SAM (23) mendekati korban dan menawarkan tumpangan. Ia mengaku akan mengantar korban ke penginapan.
Namun, alih-alih menuju lokasi tujuan, pelaku justru mengarahkan motor ke jalanan sepi. Korban sebenarnya hendak menuju Wingsu Guest House di Jalan Raya Pantai Berawa. Akan tetapi, pelaku membawa korban menjauh dari rute tersebut.
Di titik inilah situasi mulai berubah.
Dipaksa dan Diancam di Tempat Sepi
Pelaku kemudian memanfaatkan kondisi korban yang lemah. Ia memaksa korban melakukan hubungan badan di area semak-semak.
Selain itu, pelaku juga mengancam korban. Ia mengatakan akan meninggalkan korban di lokasi jika tidak menyerahkan ponselnya. Akibatnya, korban berada dalam posisi yang sepenuhnya tidak berdaya.
Kasus ini menunjukkan pola yang sering terjadi: pelaku menciptakan situasi terisolasi, lalu menekan korban secara fisik dan psikologis.
Polisi Bergerak dan Pelaku Ditangkap
Setelah kejadian, polisi langsung bergerak cepat. Tim Ditreskrimum Polda Bali memeriksa saksi dan menelusuri rekaman CCTV di sekitar penginapan korban.
Dari hasil penyelidikan, polisi mengidentifikasi ciri-ciri pelaku. Ia mengenakan pakaian gelap, topi putih, dan mengendarai sepeda motor Honda Beat hitam.
Akhirnya, polisi berhasil menangkap pelaku di kawasan Jalan Raya Berawa, Badung.
Rasa Aman yang Masih Dipertanyakan
Kasus ini bukan sekadar tindak kriminal biasa. Sebaliknya, kejadian ini menyoroti kerentanan di ruang publik, bahkan di destinasi wisata internasional seperti Bali.
Terlebih lagi, perempuan dalam kondisi rentan masih menjadi target empuk kejahatan.
Lalu pertanyaannya, jika bantuan bisa berubah menjadi ancaman, seberapa aman sebenarnya ruang publik bagi semua orang? @jeje



