Sabtu, September 26, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

“Make Munir Live Again” di Tugu Jogja, Mengapa Kasusnya Belum Tuntas?

by dimas
September 24, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality Regional
Share on Facebook
Share on Twitter
Aksi Kamisan di Tugu Jogja mengusung “Make Munir Live Again” untuk menghidupkan ingatan publik dan menagih kejelasan kasus Munir yang belum tuntas.

Tabooo.id: Yogyakarta – Sore belum benar-benar turun ketika Tugu Yogyakarta kembali menjadi ruang untuk mengingat luka lama. Kamis, 24 September 2026, massa Aksi Kamisan berkumpul membawa satu nama: Munir Said Thalib.

Tema kali ini bukan sekadar mengenang. “Make Munir Live Again” menjadi seruan untuk menghidupkan kembali ingatan publik terhadap kasus pembunuhan aktivis HAM tersebut.

Social Movement Institute menggelar aksi mulai pukul 15.30 WIB hingga selesai bersama sejumlah elemen masyarakat. Okky Madasari, Al Araf, KEPAL SPI, Angklung Mafia Bambu, serta peserta aksi mengisi rangkaian acara dengan orasi, musik, dan pembacaan puisi.

“Make Munir Live Again” di Tugu Jogja, Mengapa Kasusnya Belum Tuntas?
Poster Munir terpajang di Malioboro, Yogyakarta, dalam rangkaian “Ada Munir”.

Bagi mereka, Munir bukan sekadar nama dalam buku sejarah.

Munir meninggal pada 7 September 2004 dalam penerbangan Garuda menuju Amsterdam. Pemeriksaan forensik menemukan arsenik sebagai penyebab kematiannya. Namun, lebih dari dua dekade kemudian, publik masih mempertanyakan aktor di balik pembunuhan tersebut.

Ini Belum Selesai

FIFA ASEAN Cup 2026: Indonesia 2-0 Singapura, 90 Menit Mengubah Cerita di GBK

Bapenda Solo Gratiskan Soto bagi Warga yang Bayar Pajak

Menghidupkan Ingatan yang Belum Selesai

Oca dari Social Movement Institute mengatakan Aksi Kamisan kali ini membuka rangkaian pameran “Ada Munir” di kawasan Malioboro.

Menurut Oca, kegiatan tersebut membawa tiga tujuan. Pertama, membangun ingatan terhadap masa lalu yang belum selesai. Kedua, mendorong penegakan HAM di ruang publik. Ketiga, membawa kembali kasus Munir ke dalam percakapan masyarakat.

“Sebagai anak muda yang mengingat kasus ini akan membawa kasus ini ke yang luas,” kata Oca.

Ia menilai proses hukum selama ini belum menjawab seluruh pertanyaan publik. Menurut dia, proses tersebut baru menyentuh pelaku lapangan, sementara aktor lain yang diduga berada di balik kasus belum memperoleh kejelasan hukum.

“Selama ini yang ditangkap pelaku lapangannya, bukan aktor-aktornya,” ujar Oca.

Jejak hukum kasus Munir memang panjang. Pollycarpus Budihari Priyanto pernah menjalani hukuman dalam perkara tersebut. Sementara itu, Muchdi Purwoprandjono pernah menjadi terdakwa, tetapi Pengadilan Negeri Jakarta Selatan membebaskannya pada 2008 karena jaksa tidak berhasil membuktikan dakwaan.

Karena itu, kelompok yang memperingati Munir tidak hanya bertanya tentang siapa yang sudah menjalani hukuman.

Pertanyaan mereka bergerak lebih jauh sejauh mana negara mampu membuka seluruh rantai pertanggungjawaban dalam kasus tersebut?

Kamisan dan Ingatan yang Menolak Hilang

Okky Madasari melihat Aksi Kamisan sebagai gerakan yang telah tumbuh jauh melampaui satu peristiwa.

Ia menyebut Aksi Kamisan tahun ini memasuki tahun ke-19. Menurut Okky, gerakan itu bukan aksi spontan. Keluarga korban dan kelompok masyarakat terus membawa isu pelanggaran HAM ke ruang publik selama bertahun-tahun.

“Ini bukan sebuah aksi yang tiba-tiba kita lakukan, tapi sudah rutin dilakukan selama 19 tahun,” kata Okky.

Sore itu, Okky juga membawa suara untuk korban lain. Ia menyebut korban penculikan, korban pelanggaran HAM, hingga korban pembantaian 1965.

Bagi Okky, mengingat Munir berarti menolak membiarkan kasus kekerasan masa lalu hilang dari percakapan publik.

Ia juga menyoroti peran perempuan dalam sejarah gerakan tersebut.

Menurut Okky, Sumarsih menjadi salah satu figur penting dalam simbol perjuangan Aksi Kamisan. Sementara Suciwati, istri Munir, terus menyuarakan tuntutan atas kasus pembunuhan suaminya.

“Teman-teman yang mau memulai melawan sebagai perempuan jangan takut,” ujar Okky. “Justru memang DNA perempuan itu adalah perlawanan.”

Kalimat itu mengubah Tugu Jogja sore itu menjadi lebih dari sekadar titik kumpul.

Tempat itu menjadi ruang bagi masyarakat untuk membaca ulang sejarah melalui pengalaman orang-orang yang merasa belum memperoleh jawaban.

September Hitam dan Tuntutan yang Lebih Lebar

Aksi tersebut juga mempertemukan isu Munir dengan agenda September Hitam dan Hari Tani Nasional.

Forum BEM DIY bersama generasi muda Kepulauan Rempah menyampaikan sejumlah tuntutan. Mereka meminta penyelesaian berbagai persoalan HAM serta menyoroti konflik lingkungan, perampasan ruang hidup, program strategis nasional, MBG, KDMP, hingga aktivitas pertambangan.

Menurut perwakilan Forum BEM DIY, berbagai persoalan tersebut memperlihatkan masalah yang belum selesai antara kebijakan negara dan pengalaman masyarakat.

Mereka berharap tuntutan massa tidak berhenti sebagai suara di jalan.

“Harapan kami adalah bagaimana tuntutan itu harus diindahkan oleh pemerintah dan kekuasaan kita hari ini,” kata perwakilan Forum BEM DIY.

Pada titik ini, Aksi Kamisan tidak lagi hanya berbicara tentang satu nama.

Munir menjadi pintu masuk untuk membicarakan pertanyaan yang lebih besar: bagaimana negara memperlakukan ingatan, korban, dan tuntutan keadilan?

Ketika Negara Belum Memberi Jawaban, Ingatan Mengambil Alih Jalanan

Ada sesuatu yang menarik dari aksi tersebut.

Munir telah meninggal lebih dari dua dekade lalu. Namun, namanya masih muncul di jalan, kampus, ruang seni, diskusi publik, dan Aksi Kamisan.

Kondisi itu menunjukkan satu hal: kematian seseorang tidak otomatis mengakhiri persoalan yang ia tinggalkan.

Ketika sebuah kasus menyisakan pertanyaan, ingatan publik dapat menjadi bentuk tekanan tersendiri.

Ini bukan sekadar aksi mengenang Munir. Ini adalah perebutan kembali ruang ingatan.

Ketika proses hukum belum memberikan seluruh jawaban yang diharapkan keluarga dan kelompok masyarakat sipil, jalanan menjadi salah satu ruang untuk menjaga pertanyaan itu tetap hidup.

Sore itu, Tugu Jogja menjadi salah satu ruang tersebut.

Bukan untuk menghidupkan tubuh Munir.

Tetapi untuk menghidupkan kembali pertanyaan yang selama ini belum benar-benar mati siapa yang bertanggung jawab, dan kapan seluruh kebenaran akan dibuka? @anisa

Tags: Aksi KamisanMake Munir Live AgainMunir Said ThalibPenegakan HAMTugu Jogja

Kamu Melewatkan Ini

Munir, Andrie Yunus dan Bayang-Bayang Impunitas

Munir, Andrie Yunus dan Bayang-Bayang Impunitas

by dimas
September 23, 2026

Munir, Andrie Yunus dan bayang-bayang impunitas kembali membuka pertanyaan tentang kekerasan terhadap pembela HAM dan ruang sipil. Tabooo.id - Malam...

Kasus Munir dan 17 Peristiwa HAM: Mengapa Impunitas Terus Berulang?

Kasus Munir dan 17 Peristiwa HAM: Mengapa Impunitas Terus Berulang?

by dimas
September 8, 2026

Kasus Munir dan 17 peristiwa HAM berat memperlihatkan panjangnya jalan menuju keadilan serta pola impunitas yang terus menjadi persoalan di...

22 Tahun Kasus Munir: Pembunuh Dihukum, Siapa Dalangnya?

22 Tahun Kasus Munir: Pembunuh Dihukum, Siapa Dalangnya?

by dimas
September 8, 2026

22 tahun kasus Munir berlalu. Pembunuhnya dihukum, tetapi siapa aktor intelektual di balik pembunuhan aktivis HAM ini masih menjadi pertanyaan....

Next Post
Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id