Tabooo.id: Talk – Film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” terasa kuat sejak awal. Ia membawa cerita tentang perlawanan, tentang tanah, dan tentang Papua yang terus bergulat dengan pembangunan.
Sekilas, semuanya langsung terasa jelas. Bahkan, mungkin terlalu jelas.
Sebagian dari kita cepat menangkap pola yang familiar. Ada yang melawan, ada yang dilawan. Di satu sisi terlihat tertindas, sementara di sisi lain tampak berkuasa.
Namun demikian, realitas jarang sesederhana itu.
Ketika Pembangunan Disebut Kolonialisme
Di satu sisi, film ini membingkai pembangunan sebagai alat kontrol. Bahkan, ia mendorong kita melihatnya sebagai bentuk kolonialisme modern.
Argumen ini tentu terasa relevan. Namun, apakah itu sudah cukup menjelaskan semuanya?
Masalahnya, ketika sebuah narasi terlihat terlalu rapi, biasanya ada bagian yang tidak ikut masuk. Akibatnya, kita menerima cerita utuh, tapi tanpa sadar kehilangan konteks.
Jadi, pertanyaannya: apa yang tidak kita lihat?
Kita Mendengar Papua, atau Versi Tentang Papua?
Di balik narasi besar itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar.
Apakah kita benar-benar mendengar Papua?
Atau hanya mendengar versi tentang Papua?
Sebagai contoh, dalam budaya Marind, babi bukan sekadar hewan. Ia adalah bagian dari relasi hidup.
Namun, di dalam film, makna ini hampir tidak terasa. Sebaliknya, yang muncul justru simbol perlawanan.
Lalu, ini sebenarnya cerita tentang konflik?
Atau tentang cara hidup yang belum kita pahami?
Ketika Narasi Mulai Mengarahkan Kita
Seiring film berjalan, arah ceritanya mulai terasa membentuk cara pandang.
Perlahan, muncul kesan bahwa masyarakat adat identik dengan penolakan terhadap pembangunan.
Padahal, konteksnya bisa berbeda. Bisa jadi yang ditolak bukan pembangunan itu sendiri, melainkan cara pembangunan itu hadir.
Perbedaan ini memang tipis. Namun, dampaknya besar.
Ketika kita hanya melihat satu sisi, empati bisa berubah menjadi asumsi. Pada akhirnya, asumsi itu berkembang menjadi kesimpulan yang prematur.
Advokasi atau Representasi?
Tidak bisa dipungkiri, film ini membawa semangat advokasi. Isu lingkungan, HAM, dan kritik terhadap kekuasaan terasa kuat di dalamnya.
Namun, di titik ini, muncul dilema.
Ketika sebuah karya terlalu fokus pada pesan, realitas berisiko ikut diarahkan.
Dengan kata lain, cerita bisa bergeser. Ia tidak lagi sepenuhnya milik mereka yang hidup di dalamnya, tetapi milik mereka yang menyusunnya.
Papua Itu Banyak, Bukan Satu
Selain itu, ketika perspektif komunitas lain seperti Muyu ikut dimasukkan, cerita terlihat semakin luas.
Namun, apakah luas berarti dalam?
Di satu sisi, ini tampak memperkaya. Di sisi lain, tanpa konteks yang cukup, justru bisa membingungkan.
Setiap komunitas memiliki cara sendiri dalam memahami hidup. Karena itu, menyatukan semuanya dalam satu narasi tanpa kedalaman berisiko mereduksi makna.
Jadi, Kita Harus Gimana?
Sampai di sini, penting untuk ditekankan: ini bukan soal benar atau salah.
Sebaliknya, ini soal cara kita membaca.
Film ini tetap penting. Ia membuka diskusi dan mengangkat isu yang selama ini jarang dibicarakan.
Namun, justru karena itu, kita perlu menjaga jarak.
Saat ini, masalahnya bukan kita tidak tahu. Masalahnya, kita terlalu cepat merasa sudah tahu.
Pertanyaan yang Harus Kita Jawab Sendiri
Pada akhirnya, ini bukan soal memilih sisi.
Melainkan soal kesiapan untuk melihat lebih dari satu sisi.
Apakah kita benar-benar ingin memahami Papua?
Atau kita hanya ingin merasa sudah memahami?
Karena, jujur saja, sering kali yang kita cari bukan kebenaran.
Melainkan cerita yang paling nyaman untuk kita percaya. @jeje



