Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kingdom Come II: RPG Abad Pertengahan Bikin Betah 110 Jam

by dimas
Mei 8, 2026
in Culture, Game
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Game – Kalau kamu pikir RPG modern cuma soal aksi cepat dan dunia instan, Kingdom Come: Deliverance II (KCD2) membuktikan sebaliknya. Game ini mengajak pemain masuk ke abad ke-15 di Bohemia, penuh intrik politik, pertempuran brutal, dan desa-desa yang tampak hidup. Sebagai penggemar seri pertama, saya langsung pre-order sekuelnya begitu rilis Februari 2025. KCD2 bukan sekadar melanjutkan kisah Henry of Skalitz, tapi menghadirkan pengalaman RPG yang benar-benar menenggelamkan pemain di dunia medieval.

Dunia Abad Pertengahan yang Hidup

Begitu memasuki dunia KCD2, mata langsung dimanjakan. Hutan rimbun, kota megah, dan desa sederhana semuanya terasa nyata. Warhorse Studios memperluas dunia game kali ini hingga dua kali lipat dibanding seri pertama, sehingga menjelajahinya memerlukan waktu dan kesabaran. Tekstur jalan batu, bayangan yang menari di bawah cahaya, hingga percakapan NPC di pasar membuat dunia ini terasa hidup.

Perbedaan antar wilayah juga jelas terasa. Trosky menawarkan ketenangan pedesaan, sedangkan Kuttenberg menghadirkan hiruk-pikuk kota besar. Bahkan setelah 110 jam bermain, saya masih menemukan spot yang belum dijelajahi, menegaskan seberapa detail dan imersif dunia yang disuguhkan.

Cerita dan Karakter: Kompleks dan Bermoral

KCD2 berlatar tahun 1403, saat Bohemia dilanda perang saudara dan ancaman invasi. Henry berinteraksi dengan rakyat biasa, bangsawan, dan pemuka agama yang terjebak dalam intrik politik. Setiap keputusan pemain langsung memengaruhi alur cerita. Sistem narasi bercabang membuat pilihan dialog dan aksi terasa penting, sehingga permainan tidak berjalan linear dan membosankan.

Henry tumbuh dari remaja impulsif menjadi sosok lebih dewasa. Ia menghadapi dilema moral, kesetiaan, dan kekuasaan. Hubungannya dengan Hans, Katherine, dan Dry Devil terasa alami, memberi nuansa manusiawi yang jarang ditemui di RPG modern. Karakter pendukung pun kaya motivasi, ambisi, dan konflik, sehingga dunia terasa dinamis, bukan sekadar latar.

Ini Belum Selesai

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

Film Jangan Buang Ibu: Kesepian di Balik Pengorbanan

Kebebasan Bermain dan Mekanisme Realistis

Kekuatan terbesar KCD2 adalah kebebasan bermain. Pemain dapat menyelesaikan quest melalui diplomasi, strategi, atau kekerasan. Dunia terbuka memberi ruang untuk menjelajah, berdagang, atau sekadar menikmati kehidupan sehari-hari abad pertengahan. Mekanisme pertarungan menuntut strategi, timing, dan konteks, bukan sekadar menekan tombol asal menang.

DLC Legacy of the Forge menambahkan dimensi baru membangun bengkel, crafting, dan aktivitas tambahan. Ekspansi ini memperkaya pengalaman bermain setelah cerita utama, menambah replayability, dan memberi alasan kuat untuk kembali menjelajahi Bohemia.

Tantangan yang Perlu Diwaspadai

Meski memikat, KCD2 tidak cocok untuk semua orang. Realisme tinggi bisa terasa berat bagi pemain yang terbiasa RPG cepat. Dunia besar dan banyak pilihan kadang membingungkan, dan keputusan salah dapat merusak reputasi karakter. Jadi, jika kamu mencari aksi nonstop tanpa berpikir, game ini mungkin menantang. Namun bagi yang menikmati kedalaman narasi dan kebebasan eksplorasi, KCD2 merupakan surga RPG.

Kesimpulan: RPG yang Bukan Sekadar Game

Kingdom Come: Deliverance II membuktikan bahwa RPG berbasis dunia terbuka dan narasi kompleks masih punya ruang di industri game modern. Dengan grafis memukau, karakter hidup, cerita mendalam, dan kebebasan bermain luas, KCD2 bukan sekadar permainan ia menghadirkan pengalaman hidup di abad pertengahan. Bagi yang ingin merasakan dunia penuh konflik, moralitas, dan pilihan nyata, KCD2 menjadi kandidat RPG terbaik saat ini. Namun, game ini menuntut kesabaran, dan setiap jam yang dihabiskan pasti terasa sepadan. @dimas

Tags: Game

Kamu Melewatkan Ini

GTA 6 Habiskan Rp 26 Triliun, Ini Game atau Negara Kecil?

GTA 6 Habiskan Rp 26 Triliun, Ini Game atau Negara Kecil?

by eko
Mei 12, 2026

GTA 6 akhirnya semakin dekat. Tapi yang datang bukan cuma game baru melainkan proyek raksasa yang mulai mengubah wajah industri...

Vivo T5 Series: Gaya Hidup  atau Tekanan Digital yang Makin Halus?

Vivo T5 Series: Gaya Hidup atau Tekanan Digital yang Makin Halus?

by teguh
Mei 8, 2026

Kalau dulu smartphone cuma alat komunikasi, sekarang ceritanya berbeda. Pada 29/04/2026, vivo Indonesia resmi merilis Vivo T5 Series. Namun, lebih...

Saat Smartwatch Tak Lagi Buat Lari, Tapi Buat Push Rank

Saat Smartwatch Tak Lagi Buat Lari, Tapi Buat Push Rank

by teguh
Mei 8, 2026

Dulu orang memakai smartwatch untuk menghitung langkah, membakar kalori, atau membaca notifikasi rapat. Kini perannya bergeser. Infinix membawa jam pintar...

Next Post
Chris Evans Kembali, Steve Rogers Siap Hadapi Chaos di Avengers

Chris Evans Kembali, Steve Rogers Siap Hadapi Chaos di Avengers

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id