Jangan maklum dengan pikun. Kenali tanda awal demensia, faktor risikonya dan pentingnya menjaga kesehatan otak serta kemandirian sejak dini.
Tabooo.id – Ada lupa yang masih bisa dianggap biasa. Namun, ada pula lupa yang perlahan mengubah cara seseorang menjalani hidup.
Ketika seseorang mulai kesulitan mengurus tagihan, mencari kata, mengingat prosedur sederhana, atau memilih untuk menjauh dari orang lain, persoalannya mungkin bukan sekadar usia.
Di titik itu, tubuh dan pikiran bisa sedang memberi tanda.
Indonesia kini memasuki fase masyarakat yang semakin menua. Kondisi tersebut membawa satu pertanyaan penting: apakah orang lanjut usia masih bisa hidup mandiri ketika fungsi tubuh dan kognitif mulai menurun?
Pertanyaan itu menjadi semakin serius ketika risiko demensia terus mendapat perhatian.
Pikun Tidak Selalu Berarti Normal
Anggapan bahwa orang tua pasti pikun sering membuat keluarga terlambat membaca gejala.
Padahal, perubahan kemampuan mengingat dapat muncul bersama tanda lain. Seseorang mungkin mulai kesulitan berbicara, mengatur keuangan, beraktivitas, atau berinteraksi.
Prof. Dante Saksono Harbuwono mengingatkan persoalan tersebut dalam kegiatan di Unika Atma Jaya Jakarta, Rabu, 30 September 2026.
Menurut Dante, jumlah orang dengan demensia di Indonesia dapat mencapai 3-4 juta orang pada 2050 jika masyarakat tidak mengubah pola hidup dan cara pandang terhadap kesehatan otak.
Ia juga menyebut sekitar 45 persen kasus demensia dapat dicegah.
Angka itu menunjukkan satu hal penting. Risiko demensia tidak hanya muncul ketika seseorang sudah lanjut usia.
Sejumlah faktor kesehatan sejak jauh lebih muda ikut menentukan kondisi otak pada masa tua.
Demensia Tidak Hanya Soal Ingatan
Masyarakat sering menghubungkan demensia dengan satu gejala: lupa.
Padahal, perubahan kognitif dapat memengaruhi banyak bagian kehidupan.
Seseorang bisa kehilangan kemampuan mengatur pekerjaan sehari-hari. Ia juga bisa kesulitan mengambil keputusan atau mengikuti proses yang sebelumnya terasa sederhana.
Kisah Eka Budianta memberi gambaran tentang perubahan tersebut.
Jurnalis dan penyair itu mulai mengalami kesulitan menemukan kata. Dalam pemeriksaan kognitif di memory clinic, dokter meminta Eka menyebut nama hewan yang berawalan huruf “S”.
Ia masih mampu menyebut “sapi”. Setelah itu, jawabannya berhenti.
Bagi orang lain, kejadian tersebut mungkin terlihat kecil. Namun, bagi seseorang yang mengalaminya, kesulitan menemukan kata dapat menjadi pengalaman yang mengganggu.
Perubahan juga muncul dalam kehidupan sosial.
Eka semakin sering menghindari interaksi dengan orang lain. Ia menyebut dirinya malas.
Melani Budianta melihat perubahan itu sebagai salah satu tanda yang perlu mendapat perhatian.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih luas.
Demensia tidak hanya menyentuh ingatan. Kondisi itu juga dapat memengaruhi hubungan sosial, kemampuan mengambil keputusan, dan kemandirian seseorang.
Saat Tagihan Rumah Mulai Berantakan
Salah satu perubahan paling nyata muncul dalam urusan keuangan.
Eka mulai kesulitan mengikuti proses pembayaran melalui perbankan dan kartu. Akibatnya, beberapa tagihan rumah tidak terbayar.
Listrik dan air kemudian sempat terputus.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa gangguan kognitif dapat masuk ke ruang yang sangat sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Bayangkan seseorang yang selama puluhan tahun mampu mengurus rumah sendiri. Ia membayar tagihan, mengatur uang, bekerja, dan berinteraksi dengan lingkungan.
Kemudian, satu per satu kemampuan itu mulai goyah.
Keluarga sering melihat perubahan tersebut sebagai bentuk kemalasan.
Padahal, perubahan perilaku bisa memiliki alasan yang lebih kompleks.
Karena itu, keluarga perlu melihat pola, bukan hanya satu kejadian.
Jika seseorang berulang kali lupa membayar tagihan, kesulitan mengikuti prosedur, kehilangan kata saat berbicara, dan mulai menarik diri, keluarga perlu memberi perhatian lebih.
Dehidrasi Juga Perlu Diwaspadai
Selain faktor usia, kondisi tubuh juga ikut memengaruhi kesehatan otak.
Dante menyoroti pentingnya menjaga kadar cairan tubuh. Orang lanjut usia sering mengalami penurunan rasa haus.
Akibatnya, mereka bisa minum lebih sedikit tanpa merasa benar-benar haus.
Kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko dehidrasi.
Dalam materi yang disampaikan, Dante mengaitkan kurangnya cairan dengan risiko gangguan kognitif. Dehidrasi dapat memengaruhi kondisi tubuh dan aliran darah yang dibutuhkan jaringan saraf.
Karena itu, kebutuhan cairan tidak boleh dianggap sepele.
Namun, air bukan satu-satunya faktor.
Dante juga menyoroti gula darah, tekanan darah, aktivitas fisik, dan pola makan sebagai bagian dari faktor yang perlu mendapat perhatian.
Artinya, menjaga kesehatan otak membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.
Seseorang tidak cukup hanya mengandalkan latihan mengingat.
Ia juga perlu menjaga kondisi tubuh.
Ketika Tubuh Mulai Memberi Alarm
Pengalaman Melani Budianta memperlihatkan bagaimana tubuh dapat memberikan tanda yang tidak boleh diabaikan.
Melani pernah mengalami dehidrasi akut hingga pingsan.
Dokter kemudian meminta pemeriksaan MRI. Hasil pemeriksaan mengarah pada persoalan vaskular yang menurut keterangan dalam sumber dapat berkembang menuju demensia.
Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya pemeriksaan ketika tubuh mengalami perubahan yang tidak biasa.
Jangan menunggu sampai seseorang kehilangan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari.
Semakin awal keluarga mengenali perubahan, semakin besar peluang mereka untuk mencari bantuan dan melakukan langkah yang diperlukan.
Di sinilah kesadaran menjadi penting.
Keluarga tidak harus langsung menyimpulkan bahwa seseorang mengalami demensia.
Namun, keluarga perlu berani bertanya ketika melihat perubahan yang berulang.
Indonesia Tidak Bisa Sekadar Menua
Indonesia akan menghadapi jumlah penduduk lanjut usia yang semakin besar.
Kondisi itu membawa tantangan baru bagi kesehatan masyarakat.
Persoalannya bukan hanya berapa banyak orang yang mencapai usia tua.
Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana mereka menjalani masa tua.
Kualitas hidup pada masa tua bergantung pada kemampuan seseorang menjaga kemandirian, mengambil keputusan, dan tetap terhubung dengan lingkungan.
Pertanyaan tersebut membawa kita pada isu yang lebih besar: kemandirian.
Sebab, usia panjang tidak otomatis berarti kualitas hidup yang baik.
Seseorang bisa hidup lebih lama, tetapi kehilangan kemampuan untuk menentukan hidupnya sendiri.
Karena itu, pencegahan dan deteksi dini memiliki posisi penting.
Masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap pikun.
Jangan Lagi Menganggap Pikun sebagai Hal Biasa
Kalimat “namanya juga sudah tua” terdengar sederhana.
Namun, kalimat itu bisa membuat keluarga melewatkan tanda penting.
Lupa sesekali tentu tidak otomatis menunjukkan demensia. Tetapi perubahan yang terus muncul dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari membutuhkan perhatian.
Perubahan kemampuan berbicara, mengatur keuangan, bersosialisasi, atau menjalankan aktivitas rutin perlu dilihat sebagai satu rangkaian.
Bukan satu kejadian.
Bukan pula sekadar masalah usia.
Dante mengingatkan agar masyarakat meninggalkan anggapan lama bahwa pikun merupakan sesuatu yang wajar dan harus diterima begitu saja.
Pesannya sederhana jangan maklum dengan pikun.
Sebab, ketika keluarga mulai menganggap semua lupa sebagai hal biasa, kesempatan untuk mengenali masalah lebih awal bisa ikut hilang.
Ini bukan sekadar soal lupa. Ini soal kemandirian.
Dan ketika sebuah masyarakat mulai menua, kemampuan untuk menjaga kemandirian warganya bukan lagi urusan keluarga semata.
Itu menjadi ujian kesehatan publik. @dimas








