Tabooo.id: Deep – Di sebuah ruang tamu sederhana, seorang ibu menghitung ulang tabungannya. Bukan untuk liburan. Bukan untuk rumah. Tapi untuk “masa depan pasti” kata orang yang ia percaya.
Puluhan juta rupiah berpindah tangan. Janji? Satu jadi ASN.
Tapi seperti banyak cerita lain di negeri ini, yang datang bukan SK pengangkatan melainkan kesadaran pahit ia membeli mimpi yang tidak pernah ada.
Fakta yang Berulang: Gresik Hanya Salah Satu Cerita
Kasus dugaan penipuan penerimaan PNS di Kabupaten Gresik kembali membuka luka lama.
Sekretaris Daerah Gresik, Achmad Washil, mengungkap adanya indikasi keterlibatan satu ASN aktif dan satu mantan ASN dalam praktik ini.
“Ada indikasi kuat keterlibatan satu ASN aktif dan satu mantan ASN dalam kasus ini,” ujar Washil, Minggu, 12/04/2026.
Lebih ironis lagi, salah satu terduga pelaku bukan pemain baru. Ia pernah terseret kasus serupa memasukkan tenaga honorer secara ilegal dan bahkan sudah dipecat.
Namun, pola itu tidak berhenti. Ia justru berulang.
Pemkab Gresik melalui BKPSDM resmi melapor ke kepolisian pada Jumat, 10/04/2026.
Jumlah korban terus bertambah. Modusnya klasik memanfaatkan celah formasi PPPK yang kosong, lalu menawarkan “jalur cepat” dengan harga puluhan juta rupiah.
Kenapa Kasus Ini Selalu Terjadi?
Pertanyaannya bukan lagi apa yang terjadi. Tapi kenapa ini terus terjadi?
1. ASN Masih Jadi “Tiket Aman”
Di tengah ketidakpastian ekonomi, status ASN masih dianggap sebagai “zona nyaman seumur hidup”.
Dosen kebijakan publik Universitas Airlangga, Dr. Rudi Hartono, menjelaskan:
“Selama ASN masih dipersepsikan sebagai pekerjaan paling stabil di Indonesia, akan selalu ada pasar untuk praktik ilegal seperti ini.”
(12 April 2026)
Artinya sederhana selama permintaan tinggi, “penjual mimpi” akan selalu ada.
2. Celah Sistem Rekrutmen
Skema PPPK dan honorer yang kompleks sering jadi celah. Transparansi memang meningkat. Tapi di lapangan, informasi setengah matang justru jadi bahan manipulasi.
Pengamat birokrasi, Lina Setyawati, menilai:
“Ketika sistem tidak sepenuhnya dipahami publik, ruang abu-abu muncul. Di situlah calo bermain.”
(11/04/2026)
3. Orang Dalam: Kunci yang Membuka Semua Pintu
Kasus Gresik memperlihatkan pola paling berbahaya pelaku bukan orang luar, tapi bagian dari sistem itu sendiri.
Kombinasi ini mematikan:
- Akses internal
- Pengetahuan prosedur
- Kepercayaan korban
Polisi pun mengonfirmasi bahwa penyelidikan mengarah ke jaringan yang lebih luas.
Perwakilan kepolisian setempat menyatakan “Kami tidak menutup kemungkinan adanya aktor lain. Kasus seperti ini biasanya tidak berdiri sendiri.”
(13/04/2026)
Cerita Korban: Antara Harapan dan Rasa Malu
Tidak semua korban berani bicara. Bukan karena tidak ingin tapi karena malu.
Seorang korban (inisial S), 34 tahun, mengaku “Saya tahu ini salah. Tapi saya pikir ini satu-satunya jalan. Sekarang uang hilang, pekerjaan juga tidak ada.”
(11/04/2026)
Di titik ini, korban bukan hanya kehilangan uang. Mereka kehilangan kepercayaan pada sistem, pada orang lain, bahkan pada diri sendiri.
Masalah yang Lebih Dalam: Sistem atau Mentalitas?
Di permukaan, ini kasus penipuan. Tapi di bawahnya, ada sesuatu yang lebih besar budaya jalan pintas.
Kita hidup di sistem yang sering kali lambat dan tidak pasti. Lalu muncul godaan “Kalau bisa cepat, kenapa harus benar?”
Ironisnya, praktik ini tidak hanya merusak individu. Ia merusak kualitas birokrasi itu sendiri.
Karena ketika kursi ASN bisa “dibeli”, yang duduk bukan lagi yang kompeten tapi yang mampu bayar.
Refleksi Tabooo: Siapa yang Sebenarnya Bersalah?
Apakah ini murni kesalahan pelaku? Atau sistem yang membiarkan celah?
Atau masyarakat yang masih percaya pada jalan pintas?
Mungkin jawabannya tidak tunggal. Karena dalam kasus seperti ini, semua saling terhubung.
Yang jelas, satu hal pasti selama mimpi bisa diperjualbelikan, akan selalu ada yang mencoba menjualnya.
Closing: Mimpi Itu Mahal, Tapi Harusnya Tidak Dijual
Menjadi ASN seharusnya soal pengabdian, bukan transaksi. Soal kompetensi, bukan koneksi.
Tapi realitas hari ini berkata lain. Dan pertanyaannya sekarang bukan lagi “Apakah ini akan terjadi lagi?” Melainkan “Kapan kita benar-benar menghentikannya?”. @teguh







