Selama sebulan, Seoul berubah total. Bukan cuma dipenuhi fans BTS, tapi juga dibanjiri turis asing dan perputaran uang besar. Lewat program BTS The City: Arirang Seoul, kota ini seperti menemukan cara baru menarik dunia yang bukan lewat tempatnya, tapi lewat siapa yang mereka tampilkan.
Seoul Jadi Magnet Global karena BTS
Grup K-pop BTS menggelar proyek kota bertajuk BTS The City: Arirang Seoul dari 20 Maret hingga 19 April 2026. Mereka merancang program ini untuk merayakan perilisan album kelima, Arirang.
Label Big Hit Music mencatat lonjakan besar pengunjung internasional selama acara berlangsung. Di instalasi media facade di Sungnyemun, sekitar 73 persen pengunjung berasal dari luar negeri. Sementara itu, di Army Madang yang berlokasi di Dongdaemun Design Plaza, angka tersebut bahkan tembus lebih dari 86 persen.
Bukan Sekadar Event, Ini Ekosistem Pengalaman
Army Madang tidak sekadar jadi tempat kumpul fans. Area ini berubah jadi ruang interaktif.
Pengunjung bisa membuat merchandise sendiri. Mereka juga ikut instalasi logo berbasis bola bertuliskan lirik lagu BTS.
Dengan kata lain, fans tidak hanya menonton mereka ikut “membangun” pengalaman.
Efek Domino: Pariwisata Ikut Terdongkrak
Dampak acara ini tidak berhenti di venue. Kota Seoul ikut merasakan efek ekonominya.
Jumlah penumpang Seoul City Tour Tiger Bus naik sekitar 20 persen selama periode event.
Operator bahkan menambahkan rute khusus bertema BTS yang menghubungkan titik-titik penting kota seperti:
Gwanghwamun, Namdaemun Market, kantor pusat HYBE di Yongsan, hingga Gyeongbokgung.
Kota Jadi Panggung
Selain instalasi fisik, proyek ini juga menghidupkan kota lewat berbagai atraksi.
Mulai dari papan reklame digital, pertunjukan cahaya, hingga drone show bertema musik yang menyatu dengan identitas BTS.
Seoul tidak lagi sekadar kota wisata. Ia berubah jadi panggung hidup.
Belum Selesai, Ini Baru Awal
Program BTS The City tidak berhenti di Seoul. Event berikutnya dijadwalkan berlangsung di Las Vegas pada 20–31 Mei, lalu berlanjut ke Busan pada 5–21 Juni.
Ini bukan sekadar konser atau promosi album. Ini adalah cara baru menjual kota lewat fandom.
Kalau tren ini terus terjadi, kota-kota lain akan mulai “berebut artis”, bukan cuma turis. Dan kamu? Kemungkinan besar akan liburan bukan karena tempatnya tapi karena siapa yang tampil di sana.
Pertanyaannya sekarang sederhana: Apakah ini masa depan pariwisata atau awal dari kota yang kehilangan identitasnya demi popularitas? @naysa





