Tabooo.id: Nasional – Harga minyak sawit mentah (CPO) dunia lagi panas dan bukan cuma karena pasar, tapi karena konflik global. Di tengah naiknya kebutuhan biodiesel, harga CPO diprediksi terus meroket dalam beberapa bulan ke depan. Pertanyaannya ini kabar baik atau justru alarm buat ekonomi kita?
Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) memproyeksikan harga CPO global bakal naik dari 1.165 dolar AS per ton pada Maret jadi sekitar 1.440 dolar AS di April 2026. Bahkan, tren ini belum berhenti. Mei diprediksi tembus 1.701 dolar AS, dan Juni bisa mencapai 1.783 dolar AS per ton.
Perang Naik, Harga Ikut Meledak
Masalahnya bukan sekadar pasar. IPOSS menyoroti eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel sebagai pemicu utama. Ketika harga energi global naik, efek domino langsung terasa ke komoditas seperti CPO.
Logikanya sederhana saat minyak mentah mahal, biodiesel jadi alternatif yang lebih menarik. Nah, di sinilah sawit naik kelas bukan cuma bahan pangan, tapi juga “bahan bakar masa depan”. Tapi ada harga yang harus dibayar.
Biodiesel Naik Daun, Tapi Biaya Ikut Membengkak
Kenaikan harga energi bikin biaya logistik, distribusi, hingga premi risiko global ikut naik. Artinya, bukan cuma industri yang terdampak kamu juga.
Karena ketika biaya produksi naik, efeknya bisa merembet ke harga barang sehari-hari. Dari minyak goreng sampai produk turunan lainnya, semua berpotensi ikut terdorong naik.
Pasar Domestik Ikut Panas
Di dalam negeri, harga CPO juga diprediksi ikut menguat. Dari Rp 15.065 per kilogram pada Maret, angka ini bisa naik ke Rp 18.776 per kilogram di April.
Namun, harga domestik nggak sepenuhnya mengikuti pasar global. Ada faktor lain seperti kebijakan pemerintah mulai dari Harga Referensi, Bea Keluar, hingga Pungutan Ekspor.
Masalahnya, kebijakan ini sering jadi “rem” sekaligus “gas”. Kadang menahan harga, kadang justru mempercepat lonjakan.
Stok Menipis, Tekanan Makin Kencang
Ironisnya, kenaikan harga ini terjadi saat produksi justru menurun. Hingga akhir Q2 2026, produksi CPO dan CPKO diperkirakan hanya mencapai 23,7 juta ton turun dari 24 juta ton di periode yang sama tahun lalu.
Ekspor juga ikut menyusut, dari 7,22 juta ton menjadi 6,70 juta ton. Artinya, pasokan makin ketat, sementara permintaan global justru naik.
Hasilnya? Harga makin sensitif terhadap gejolak dunia.
CPO: Dari Dapur ke Geopolitik
Dulu, CPO identik dengan dapur dan industri makanan. Sekarang? Ia sudah jadi bagian dari strategi energi global.
Di tengah ancaman krisis energi, sawit berubah fungsi dari sekadar komoditas jadi alat tawar dalam peta geopolitik.
Dan di titik ini, pertanyaannya bukan lagi “harga akan naik atau tidak”, tapi Siapa yang siap menghadapi dampaknya? Kamu, industri, atau justru pemerintah?. @teguh



