Tabooo.id: Edge – Gunung Slamet tidak meledak. Dia tidak bikin suara keras, tidak bikin visual dramatis, tidak juga kasih efek “breaking news” yang bikin orang panik. Dia cuma pelan-pelan memanas. Konsisten. Diam. Tapi pasti. Di situ letak masalahnya, karena manusia modern tidak dilatih untuk peka terhadap sesuatu yang “pelan”.
Kita terbiasa dengan sesuatu yang instan, cepat, dan viral. Kalau tidak heboh, tidak dianggap penting.
Masalahnya bukan kita tidak tahu, tapi kita hanya mau tahu kalau sudah terlambat.
Fakta Jelas, Tapi Diabaikan
Suhu kawah naik sampai 463°C. Bukan naik tipis-tipis, tapi lonjakan yang jelas menunjukkan ada sesuatu yang berubah di dalam sistem gunung.
Radius aman pun diperluas jadi 3 km. Itu bukan angka hasil tebak-tebakan, tapi hasil analisis serius dari aktivitas di dalam bumi.
Pola panas tidak lagi diam di pusat kawah. Dia menyebar, membentuk lingkaran, seolah-olah ada tekanan yang mulai mencari jalan keluar.
Kalau ini manusia, kita akan bilang: “ini tanda-tanda stres berat.” Tapi karena ini gunung, kita bilang: “Ah, masih biasa.”
Belum Viral Berarti Belum Realita
Kita hidup di era di mana realita harus lolos seleksi algoritma dulu sebelum dianggap nyata. Gunung memanas? Tidak trending. Artinya, tidak urgent. Tapi begitu ada video letusan, suara gemuruh, atau footage dramatis, baru semua orang bergerak… share, panik, dan jadi “ahli dadakan”.
Di masa ini, kita tidak bereaksi terhadap fakta, melainkan terhadap perhatian. Dan perhatian hari ini bukan ditentukan oleh penting atau tidaknya sesuatu, tapi oleh seberapa menarik itu di layar.
Otak Penuh Informasi, Tapi Lumpuh Eksekusi
Kita tidak hidup di zaman kekurangan informasi, namun sebaliknya, di zaman yang kelebihan informasi. Sayangnya, itu justru menjadi masalah.
Setiap hari kita lihat berita, notifikasi, update, dan konten tanpa henti. Akhirnya otak kita kebal.
Ketika ada informasi penting, kita tidak lagi merasa “ini serius”. Karena semuanya terasa sama, hanya konten.
Di antara ancaman nyata dan video hiburan, kita pilih yang tidak membuat kita berpikir. Karena berpikir itu berat, sedangkan scroll itu ringan.
Kita Selalu Jago Dalam Penyesalan
Kalau kita jujur, ini bukan pertama kali. Dan sayangnya, bukan terakhir kali juga. Setiap bencana selalu dimulai dengan tanda kecil yang seringkali diabaikan.
Sampai akhirnya sesuatu terjadi, dan kita panik. Lalu kita bilang: “kok bisa ya?”
Padahal jawabannya sederhana:
karena kita tidak pernah benar-benar belajar dari sebelumnya.
Padahal, bukannya kita tidak tahu. Kita hanya tidak mau peduli sebelum dipaksa.
Gunungnya Panas, Otak Kita Malah Beku
Gunung Slamet sudah memanas. Tapi respon kita? Tetap dingin. Dingin dalam arti tidak bergerak, tidak berubah, tidak merasa perlu bertindak.
Kita tidak takut, toh kita pun belum melihat dampaknya secara langsung. Tapi, di situlah letak bahaya sebenarnya, kita menganggap “belum terjadi” sebagai “tidak akan terjadi”. Padahal sejarah selalu membuktikan sebaliknya.
Bencana Itu Soal Kesiapan
Kalau kamu tinggal di sekitar Gunung Slamet, ini bukan bahan diskusi santai, tetapi realita yang bisa berubah dalam hitungan waktu.
Radius 3 km itu bukan garis imajiner. Itu batas aman yang kalau dilanggar, risikonya nyata.
Gas vulkanik tidak bisa kamu “mute”. Hujan abu tidak bisa kamu “skip”. Dan kalau kamu merasa jauh dari lokasi? Jangan terlalu percaya diri, karena dampak alam tidak selalu patuh pada jarak.
Kita sering lupa, bahwa bencana bukan cuma soal lokasi, tapi soal kesiapan.
Masalahnya Bukan di Alam
Gunung tidak pernah pura-pura, tidak menunda, tidak dramatis, dan tidak butuh validasi. Dia memberi tanda sesuai prosesnya.
Manusia yang justru membingungkan. Makhluk yang punya data, punya teknologi, tapi tetap memilih menunda sadar. Kita tahu apa yang terjadi dan apa risikonya. Tapi kita tetap berkata, “nanti saja kalau sudah jelas.”
Dan sering kali, saat sudah jelas, semuanya sudah terlambat.
Gunung Slamet sudah memberi warning. Bukan sekali, dua kali, tapi terus-menerus lewat data dan tanda.
Tidak ada yang disembunyikan ataupun tiba-tiba. Tapi kita? Masih sibuk scroll, sibuk cari distraksi, sibuk menunda perhatian.
Jadi mungkin pertanyaannya bukan lagi tentang gunung. Tapi tentang kita, Seberapa lama kita mau terus berpura-pura tidak melihat sesuatu yang jelas-jelas ada di depan mata? @tabooo



