Tabooo.id: Tabooo Book Club – Setiap hari kita melihat Garuda Pancasila. Simbol itu hadir di sekolah, kantor, sampai dokumen resmi negara. Namun, tidak banyak yang benar-benar mengenal sosok di balik desainnya.
Namanya Sultan Hamid II.
Ia memimpin sebagai Sultan Pontianak ke-7 sekaligus merancang lambang negara Indonesia. Sebuah simbol yang hari ini terasa sakral, tetapi lahir dari proses politik yang tidak sederhana.
Masalahnya, cerita tentang dirinya tidak berhenti di sana.
Antara Nasionalisme dan Bayang-Bayang Kolonial
Di masa penuh tarik-menarik kekuasaan, Sultan Hamid II mengambil posisi yang tidak biasa. Ia bergabung sebagai perwira KNIL dan mendukung konsep negara federal.
Sementara itu, banyak tokoh lain mendorong negara kesatuan. Namun, ia justru melihat federalisme sebagai jalan untuk menghindari dominasi satu kekuatan.
Di titik ini, sejarah mulai terasa tidak hitam-putih.
Apakah ini strategi politik yang rasional? Atau justru bentuk keberpihakan yang problematik?
Garuda Pancasila: Karya Besar dari Proses Panjang
Di tengah kontroversi politiknya, Soekarno tetap memberi kepercayaan kepada Sultan Hamid II untuk merancang lambang negara.
Prosesnya tidak instan. Ia menyusun desain, lalu mendiskusikannya bersama tokoh lain. Setelah itu, mereka merevisi beberapa bagian berdasarkan kritik yang muncul.
Salah satu perubahan penting muncul pada pita yang dicengkeram Garuda. Mereka menggantinya dan menambahkan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.
Akhirnya, negara menetapkan desain tersebut sebagai lambang resmi yang kita kenal hari ini.
Di sini letak ironi yang sulit diabaikan. Sosok dengan posisi politik kontroversial justru melahirkan simbol pemersatu bangsa.
Kontroversi yang Tak Pernah Selesai
Namun, perjalanan Sultan Hamid II tidak berhenti di ranah simbol.
Ia terseret dalam peristiwa yang melibatkan Raymond Westerling. Rencana kudeta itu gagal, tetapi dampaknya besar. Negara kemudian menangkapnya pada 1950.
Sejak saat itu, persepsi publik terbelah.
Sebagian melihatnya sebagai tokoh berjasa. Sebagian lain menilainya sebagai ancaman bagi republik.
Dan sejak itu pula, narasi tentang dirinya tidak pernah benar-benar selesai.
Pahlawan atau Catatan Kritis Sejarah?
Perdebatan soal statusnya terus berlanjut hingga hari ini.
Di satu sisi, jasanya sebagai perancang lambang negara tidak terbantahkan. Namun di sisi lain, rekam jejak politiknya memicu penolakan.
Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar siapa yang benar.
Sebaliknya, pertanyaannya berubah: apakah kita siap menerima sejarah yang tidak rapi?
Sebab pada akhirnya, identitas bangsa memang terbentuk dari tarik-menarik kepentingan, bukan dari cerita yang seragam.
Penutup
Kita sering mengagungkan simbol, tetapi jarang membedah manusia di baliknya.
Sultan Hamid II menunjukkan bahwa sejarah selalu menyimpan lapisan yang kompleks.
Maka, sebelum memilih berpihak, mungkin kita perlu satu langkah tambahan: memahami dengan jernih. @jeje



