Tabooo.id: Deep – Film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” hadir dengan energi yang sulit ditolak. Ia membawa cerita tentang perlawanan, tentang tanah, dan tentang Papua yang terus bergulat dengan pembangunan.
Sekilas, semuanya terasa jelas. Bahkan terlalu jelas.
Kita langsung menangkap pola yang familiar. Ada pihak yang melawan, sementara di sisi lain ada kekuatan yang dilawan. Sebagian tampak tertindas, sementara yang lain terlihat berkuasa.
Namun, realitas jarang bekerja sesederhana itu.
Ketika Pembangunan Jadi Wajah Kolonialisme
Di satu sisi, film ini secara tegas membingkai pembangunan sebagai alat kontrol. Bahkan lebih jauh, ia menempatkannya sebagai bentuk kolonialisme modern.
Argumen tersebut memang relevan. Tapi, apakah itu cukup?
Masalahnya, setiap narasi yang terlihat terlalu rapi biasanya menyisakan potongan yang tidak ikut masuk ke dalam cerita. Akibatnya, sudut pandang yang dipilih terasa kuat, tetapi juga berisiko menyederhanakan kenyataan.
Yang Hilang: Cara Papua Memaknai Hidupnya Sendiri
Di balik narasi besar itu, ada satu lapisan yang terasa kosong: cara masyarakat Papua memahami hidup mereka sendiri.
Sebagai contoh, dalam budaya Marind, babi bukan sekadar hewan. Ia hadir sebagai bagian dari relasi hidup.
Lebih dari itu, terdapat nilai spiritual, filosofi, bahkan identitas yang melekat di dalamnya. Namun, film ini tidak memberi ruang yang cukup untuk makna tersebut.
Akhirnya, yang muncul hanya simbol perlawanan.
Padahal, bagi masyarakatnya, ini bukan sekadar soal menolak proyek. Sebaliknya, mereka sedang menjaga keseimbangan hidup yang jauh lebih kompleks dari sekadar konflik.
Ketika Narasi Menggantikan Realitas
Seiring berjalan, film ini tidak hanya menyampaikan cerita. Ia juga membentuk cara pandang penonton.
Perlahan, muncul kesan bahwa masyarakat adat identik dengan penolakan terhadap pembangunan.
Padahal, konteksnya tidak sesederhana itu. Bisa jadi yang mereka tolak bukan pembangunan itu sendiri, melainkan cara pembangunan tersebut hadir tanpa dialog dan tanpa pengakuan.
Perbedaan ini memang tipis. Namun, dampaknya besar.
Ketika publik hanya melihat satu sisi, empati mudah berubah menjadi simplifikasi. Pada akhirnya, simplifikasi tersebut membuka ruang bagi kesalahpahaman yang lebih luas.
Advokasi yang Berisiko Mengambil Alih Cerita
Tidak bisa dipungkiri, film ini membawa semangat advokasi yang kuat. Isu lingkungan, hak asasi manusia, hingga kritik terhadap kekuasaan menjadi fondasi utamanya.
Namun demikian, kedekatan dengan agenda juga membawa risiko.
Ketika sebuah karya terlalu fokus pada pesan yang ingin disampaikan, realitas bisa berubah fungsi. Ia tidak lagi berdiri sebagai suara, melainkan sebagai alat untuk memperkuat narasi.
Akibatnya, cerita perlahan bergeser. Ia tidak lagi sepenuhnya milik mereka yang hidup di dalamnya, tetapi milik mereka yang membingkainya.
Papua Tidak Pernah Tunggal
Selain itu, kompleksitas semakin terlihat ketika perspektif komunitas lain seperti Muyu dimasukkan ke dalam satu narasi yang sama.
Di permukaan, langkah ini tampak memperkaya cerita. Namun tanpa kedalaman yang memadai, justru muncul kebingungan.
Setiap komunitas memiliki konteks, filosofi, dan pengalaman yang berbeda. Karena itu, menyatukannya tanpa penjelasan yang utuh berisiko mereduksi makna.
Alih-alih memperluas perspektif, pendekatan ini justru membuka ruang tafsir yang bias.
Antara Penting dan Perlu Dikritisi
Meski begitu, bukan berarti film ini keliru.
Sebaliknya, kehadirannya tetap penting. Film ini membuka percakapan yang selama ini jarang muncul ke permukaan. Ia juga berani membawa isu Papua ke ruang publik yang lebih luas.
Namun, justru karena pengaruhnya besar, kita perlu membacanya dengan lebih kritis.
Saat ini, masalah terbesar bukan lagi kekurangan informasi. Yang sering terjadi justru sebaliknya: kita terlalu cepat mempercayai satu versi cerita.
Kita Sedang Mencari Apa?
Pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang memilih siapa yang benar.
Sebaliknya, ini tentang kesediaan untuk melihat lebih dari satu sisi.
Memahami Papua tidak cukup dengan satu narasi. Ia membutuhkan kesabaran untuk mendengar dan keberanian untuk tidak buru-buru menyimpulkan.
Jadi, pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang harus dipercaya.
Melainkan, apakah kita benar-benar ingin memahami?
Atau jangan-jangan, kita hanya mencari cerita yang paling nyaman untuk kita benarkan? @jeje




