• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Kamis, April 2, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Deep

Film Pesta Babi: Kita Sedang Diedukasi, atau Sedang Digiring?

Maret 31, 2026
in Deep
A A
Film Pesta Babi: Kita Sedang Diedukasi, atau Sedang Digiring?

Pesta Babi Poster (istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” hadir dengan energi yang sulit ditolak. Ia membawa cerita tentang perlawanan, tentang tanah, dan tentang Papua yang terus bergulat dengan pembangunan. 

Sekilas, semuanya terasa jelas. Bahkan terlalu jelas.

Kita langsung menangkap pola yang familiar. Ada pihak yang melawan, sementara di sisi lain ada kekuatan yang dilawan. Sebagian tampak tertindas, sementara yang lain terlihat berkuasa.

Namun, realitas jarang bekerja sesederhana itu.

Ketika Pembangunan Jadi Wajah Kolonialisme

Di satu sisi, film ini secara tegas membingkai pembangunan sebagai alat kontrol. Bahkan lebih jauh, ia menempatkannya sebagai bentuk kolonialisme modern. 

Argumen tersebut memang relevan. Tapi, apakah itu cukup?

Masalahnya, setiap narasi yang terlihat terlalu rapi biasanya menyisakan potongan yang tidak ikut masuk ke dalam cerita. Akibatnya, sudut pandang yang dipilih terasa kuat, tetapi juga berisiko menyederhanakan kenyataan.

Yang Hilang: Cara Papua Memaknai Hidupnya Sendiri

Di balik narasi besar itu, ada satu lapisan yang terasa kosong: cara masyarakat Papua memahami hidup mereka sendiri.

Sebagai contoh, dalam budaya Marind, babi bukan sekadar hewan. Ia hadir sebagai bagian dari relasi hidup.

RelatedPosts

Tato Bukan Sekadar Seni Tubuh, Tapi Sejarah yang Pernah Dibungkam

Membedah Penyaliban: Mekanisme Kematian Paling Kompleks

Lebih dari itu, terdapat nilai spiritual, filosofi, bahkan identitas yang melekat di dalamnya. Namun, film ini tidak memberi ruang yang cukup untuk makna tersebut. 

Akhirnya, yang muncul hanya simbol perlawanan.

Padahal, bagi masyarakatnya, ini bukan sekadar soal menolak proyek. Sebaliknya, mereka sedang menjaga keseimbangan hidup yang jauh lebih kompleks dari sekadar konflik.

Ketika Narasi Menggantikan Realitas

Seiring berjalan, film ini tidak hanya menyampaikan cerita. Ia juga membentuk cara pandang penonton.

Perlahan, muncul kesan bahwa masyarakat adat identik dengan penolakan terhadap pembangunan.

Padahal, konteksnya tidak sesederhana itu. Bisa jadi yang mereka tolak bukan pembangunan itu sendiri, melainkan cara pembangunan tersebut hadir tanpa dialog dan tanpa pengakuan.

Perbedaan ini memang tipis. Namun, dampaknya besar.

Ketika publik hanya melihat satu sisi, empati mudah berubah menjadi simplifikasi. Pada akhirnya, simplifikasi tersebut membuka ruang bagi kesalahpahaman yang lebih luas.

Advokasi yang Berisiko Mengambil Alih Cerita

Tidak bisa dipungkiri, film ini membawa semangat advokasi yang kuat. Isu lingkungan, hak asasi manusia, hingga kritik terhadap kekuasaan menjadi fondasi utamanya.

Namun demikian, kedekatan dengan agenda juga membawa risiko.

Ketika sebuah karya terlalu fokus pada pesan yang ingin disampaikan, realitas bisa berubah fungsi. Ia tidak lagi berdiri sebagai suara, melainkan sebagai alat untuk memperkuat narasi.

Akibatnya, cerita perlahan bergeser. Ia tidak lagi sepenuhnya milik mereka yang hidup di dalamnya, tetapi milik mereka yang membingkainya.

Papua Tidak Pernah Tunggal

Selain itu, kompleksitas semakin terlihat ketika perspektif komunitas lain seperti Muyu dimasukkan ke dalam satu narasi yang sama. 

Di permukaan, langkah ini tampak memperkaya cerita. Namun tanpa kedalaman yang memadai, justru muncul kebingungan.

Setiap komunitas memiliki konteks, filosofi, dan pengalaman yang berbeda. Karena itu, menyatukannya tanpa penjelasan yang utuh berisiko mereduksi makna.

Alih-alih memperluas perspektif, pendekatan ini justru membuka ruang tafsir yang bias.

Antara Penting dan Perlu Dikritisi

Meski begitu, bukan berarti film ini keliru.

Sebaliknya, kehadirannya tetap penting. Film ini membuka percakapan yang selama ini jarang muncul ke permukaan. Ia juga berani membawa isu Papua ke ruang publik yang lebih luas.

Namun, justru karena pengaruhnya besar, kita perlu membacanya dengan lebih kritis.

Saat ini, masalah terbesar bukan lagi kekurangan informasi. Yang sering terjadi justru sebaliknya: kita terlalu cepat mempercayai satu versi cerita.

Kita Sedang Mencari Apa?

Pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang memilih siapa yang benar.

Sebaliknya, ini tentang kesediaan untuk melihat lebih dari satu sisi.

Memahami Papua tidak cukup dengan satu narasi. Ia membutuhkan kesabaran untuk mendengar dan keberanian untuk tidak buru-buru menyimpulkan.

Jadi, pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang harus dipercaya.

Melainkan, apakah kita benar-benar ingin memahami?
Atau jangan-jangan, kita hanya mencari cerita yang paling nyaman untuk kita benarkan? @jeje

Tags: deepstoryDokumenterfilmindonesiaGenZKolonialismekritikSosialmasyarakatadatpapuaPerspektiftabooo
Next Post
Kita Lagi Mencari Kebenaran, atau Sekadar Pembenaran?

Kita Lagi Mencari Kebenaran, atau Sekadar Pembenaran

Recommended

Mutasi Elite TNI Bergerak: Regenerasi atau Sekadar Rotasi Kekuasaan?

Mutasi Elite TNI Bergerak: Regenerasi atau Sekadar Rotasi Kekuasaan?

Maret 27, 2026
Kata yang Tak Bisa Ditarik Kembali di Ketinggian 30 Ribu Kaki

Kata yang Tak Bisa Ditarik Kembali di Ketinggian 30 Ribu Kaki

April 1, 2026

Popular News

  • Dari Kamera ke Dakwaan: Saat Karya Kreatif Dibaca sebagai Korupsi

    Dari Kamera ke Dakwaan: Saat Karya Kreatif Dibaca sebagai Korupsi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Layar ke Realita: Seberapa Murah Harga Keadilan di Negeri Ini?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jika Ide Tak Terlihat, Haruskah Dianggap Tak Bernilai?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Mereka BBM Aman, Itu Mereka!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukan Film Horor: Fakta Mutilasi di Freezer Bikin Bekasi Gempar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.